Menanyakan Metode Pengambilan Hukum Tentang Kesunahan Celana Cingkrang

Menanyakan Metode Pengambilan Hukum Tentang Kesunahan Celana Cingkrang

Oleh : Ust Ma'ruf Khozin

Secara pribadi saya tidak ada masalah dengan celana cingkrang. Saya juga kurang sependapat kalau celana cingkrang diidentikkan dengan radikalisme. Ada juga Ikhwan Salafi yang tawadhu', ramah dan sebagainya.

Saya hanya ingin mengajukan pertanyaan terkait trend berpakaian yang mengatakan bahwa celana cingkrang adalah pakaian sunah. Sama seperti ketika ada label Masjid Sunah, Ustadz Sunnah dan terminologi Sunah-sunah lainnya.

Sehingga ketika ada orang yang celananya sampai di bawah mata kaki dianggap tidak berpakaian sunah bahkan kadang dianggap Isbal dan masuk neraka (wal iyadzu Billah).

Pertama soal celana. Apakah Nabi pernah memakai celana? Mufti Al-Azhar Mesir, Syekh Athiyah menjawab:

اﻟﻌﻠﻤﺎء اﺧﺘﻠﻔﻮا: ﻫﻞ ﻟﺒﺲ اﻟﻨﺒﻰ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ اﻟﺴﺮاﻭﻳﻞ ﺃﻡ ﻻ؟ ﻓﺠﺰﻡ ﺑﻌﻀﻬﻢ ﺑﺄﻧﻪ ﻟﻢ ﻳﻠﺒﺴﻬﺎ

Ulama berbeda pendapat apakah Nabi pernah memakai celana atau tidak? Sebagian ulama memastikan Nabi tidak memakai celana

ﺃﻣﺎ ﻛﻮﻥ اﻟﺮﺳﻮﻝ ﻟﺒﺴﻬﺎ ﺃﻭ ﻟﻢ ﻳﻠﺒﺴﻬﺎ ﻓﻠﻢ ﻳﺜﺒﺖ ﻓﻰ ﺫﻟﻚ ﺷﻰء.

Sedangkan riwayat apakah Nabi memakai celana atau tidak, maka tidak ada dalil sahih dalam masalah ini (Fatawa Al-Azhar 10/394)

Saya tidak mengingkari di masa Nabi sudah ada celana. Di kitab Bukhari sudah ada penjelasannya.

Tapi sekali lagi kalau ada hadis yang menjelaskan bahwa Nabi memakai celana dengan riwayat yang sahih, silahkan disampaikan.

Sebab terkadang mereka selalu meminta hadis sahih. Kini giliran kita yang meminta. (Bersambung in syaa Allah)

Bagikan: