Mafia Perumahan Syariah Tipu Ribuan Orang, Kerugian Capai Rp 40 Miliar

Mafia Perumahan Syariah Tipu Ribuan Orang, Kerugian Capai Rp 40 Miliar

Polda Metro Jaya membekuk empat mafia pembangunan perumahan syariah fiktif dengan kerugian hingga Rp 40 miliar. Korbannya diperkirakan mencapai 3.680 orang.

Empat tersangka yang ditangkap berinisial MA selaku Komisaris PT Wepro Citra Sentosa, SW Direktur PT Wepro Citra Sentosa, CB Marketing Agency PT Wepro Citra Sentosa, dan S -istri MA- berperan pemegang rekening.

"Mafia ini yang kita amankan empat orang, bahkan ada yang suami-istri. Di sini dia berlaku sebagai komisaris, kemudian istrinya itu yang menampung rekeningnya. Menawarkan perumahan harga murah. Perumahan ini mereka iming-iming perumahan syariah itu yang mereka sampaikan," ujar Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Gatot Eddy Pramono, Senin (16/12/2019).

Dikatakan Gatot, tersangka menawarkan perumahan dengan harga murah, tidak riba, tidak pakai bunga, tidak perlu checking bank, dan lainnya.

"Jadi bernuansa syariah semuanya, sehingga masyarakat jadi tertarik. Dari penelusuran kita, ada lebih kurang 3.680 korban. Kita sudah memeriksa sebanyak 36 korban. Kita coba mengitung kerugiannya berapa, kerugiannya itu lebih kurang Rp 40 miliar," ungkap Gatot.

Gatot menyampaikan, modus para tersangka seperti menyebarkan brosur dengan ketentuan berbasis syariah, menjanjikan lahannya, hingga membuat rumah contoh agar konsumen percaya.

"Mereka menjanjikan Desember 2018, perumahan itu sudah diberikan kunci. Tapi fakta menyatakan tidak diberikan, sehingga pada bulan Maret 2019 ada laporan masyarakat kita lakukan penyelidikan, sekarang kita bisa menangkap pelakunya," katanya.

Menurut Gatot, penyidik masih mendalami kasus ini, termasuk melacak aliran dananya berkoordinasi dengan PPATK.

"Saya mengimbau, ketika ada yang menawarkan dengan harga murah bahkan tidak masuk logika, kita harus betul-betul mengecek apakah memang benar perumahan itu ada. Tapi saya garis bawahi, ini adalah oknum-oknum yang menggunakan kata-kata syariah. Jadi jangan digeneralisir ketika ada perumahan syariah itu juga penipuan. Ini oknum yang menggunakan kata syariah untuk mencari keuntungan," tandasnya.

Sementara itu, Wakil Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya AKBP Dedy Murti mengatakan, penyidik masih memburu dua orang tersangka yang masih buron. Keduanya, berperan sebagai marketing atau pemasaran.

"Perannya pemasaran dan juga meyakinkan para konsumen. Tidak ada, sampai saat ini penyidik belum menemukan kaitan kelompok ini dengan kelompok lainnya. Sementara masih dikembangkan, didalami, termasuk juga pengungkapan tindak pidana lainnya diantaranya tindak pidana pencucian uang," ucapnya.

Menyoal bagaimana masyarakat bisa membedakan perumahan yang benar dengan fiktif, Dedy menyampaikan, masyarakat dapat melakukan pengecekan ke Kementerian PUPR atau bagian perizinan pembangunan perumahan pemerintah daerah setempat. "Itu ada terdaftar dan itu bisa dicek online," tandasnya.

Sumber : BeritaSatu

Bagikan: