Sok Paling Islami, Padahal Ilmu Gak Seberapa, Belajar Agama Cuma Modal Ngalor-ngidul


Oleh : Ahmad Sarwat, Lc.MA

Ibarat anak-anak yang belum cukup umur, tapi kebelet mau nyetir mobil. Bisanya baru injak gas doang tapi tidak tahu rem, tidak paham kopling, apalagi lampu sein.

Jalanan pun juga gak paham. Apalagi rambu lalu lintas, sama sekali nol besar. Jadi kalau mobilnya nubruk dan nyusruk, sudah tidak kaget lagi.

Namanya juga baru masuk Islam, namanya juga baru hijrah, namanya juga baru ngaji, wajarlah kalau masih silap-silap.

Kita maklumi juga kalau tuh bocah suka sradak sruduk, main vonis haram, main tuduh najis, main hajar riba, main klaim musyrik dan seterusnya.

Semua karena satu hal, kurang info dan minim ilmu pengetahuan agama.

Sementara tapi tiap hari dipompa terus tanpa henti dengan semangat hijrah, jihad, dakwah, dan pembelaan Islam sampai mendidih. Namun sisi tsaqafah, wa'yu serta nazhar masih terlalu mentah.

Akibatnya semua orang dibikin repot. Kurang lebih begitulah dulu saya, ketika masih duduk di SMA. Galak, sok paling Islami, sok furqan, sok anti riba, sok anti liberal, dan sok-sok yang lain.

Padahal ilmu nggak seberapa, bahasa Arab gak bisa, belajar agama cuma modal ngalor-ngidul doang.

Ealah dasar bocah . . .

Bagikan: