Izinkan Turis Tak Menikah Menginap Bareng dan Perempuan Boleh Menyetir, Mengapa Arab Saudi Sangat Terbuka?

Izinkan Turis Tak Menikah Menginap Bareng dan Perempuan Boleh Menyetir, Mengapa Arab Saudi Sangat Terbuka?

Pemerintah Arab Saudi menjadi perbincangan setelah mengumumkan kebijakan terbaru di sektor pariwisata pada Minggu (6/10/2019).

Kebijakan itu adalah mengizinkan turis asing yang tidak menikah untuk menginap di kamar hotel yang sama, selain memberi kelonggaran bagi turis perempuan tak mengenakan abaya di ruang publik.

Pengumuman itu menjadi kebijakan terbaru dari pemerintah Arab Saudi yang ultrakonservatif setelah menawarkan visa turis untuk pertama kali.

Ini bukan kali pertama Saudi bersikap terbuka. Sebelumnya, mereka juga membuka bioskop untuk pertama kali dalam 35 tahun terakhir.

Kemudian yang paling krusial adalah ketika Riyadh memutuskan mencabut larangan bagi perempuan menyetir mobil pada 24 Juni 2018.
Kemudian juga ada perubahan dalam sistem perwalian, seperti perempuan boleh bepergian ke luar negeri tanpa harus izin dengan wali pria.

Selain itu terdapat kelonggaran lain seperti perempuan boleh menonton secara langsung pertandingan sepak bola di stadion pada 12 Januari 2018.

Dengan berbagai perubahan tersebut, apa yang menjadi faktor Arab Saudi bisa terbuka seperti itu?

Pada 25 April 2016, Putra Mahkota Arab Saudi Pangeran Mohammed bin Salman, atau yang akrab disapa MBS, menelurkan konsep bernama Visi Saudi 2030.

Secara garis besarnya, visi itu merupakan rencana Riyadh untuk mengurangi ketergantungan pada minyak dan melakukan diversifikasi ekonomi.

Tujuan dari visi yang diumumkan Putra Mahkota MBS adalah memperkuat ekonomi dan investasi, meningkatkan perdagangan nonminyak, dan meningkatkan belanja militer.

Kebijakan yang digulirkan Saudi membuat Sabika al-Dosari, seorang pembawa acara televisi setempat, mengemudikan sedan hingga ke perbatasan Bahrain.

Eman Alhussein, peneliti di European Council on Foreign Relations, mengatakan, reformasi itu membawa dampak dalam kehidupan Saudi.

"Satu hal yang jelas berubah dalam beberapa tahun terakhir adalah kehidupan sosial yang secara umum lebih nyaman," ujarnya dikutip Frontline di pbs.org 1 Oktober lalu.

Alhussein menjelaskan, selama ini publik Saudi harus mempertahankan dua gaya hidup. Satu di rumah, di mana dia bisa bersikap normal dan melakukan apa yang mereka suka.

Kemudian satu lagi ketika berada di depan publik. "Kini, terdapat atmosfer yang lebih relaks di kota besar seperti Riyadh dan Jeddah.

Pangeran yang menjadi putra mahkota pada 2017 itu menuturkan, reformasi yang dia lakukan merupakan bentuk "keterbukaan" dari masa lalu.
"Kami hanya kembali pada apa yang kami ikuti, yakni Islam moderat yang terbuka bagi dunia dan semua agama," kata Pangeran MBS.

Kemudian pada 2017, MBS menerangkan dia mengeluhkan sikap ultrakonservatif Saudi terhadap rival regionalnya, Iran.

Dalam penilaian Alhussein, reformasi yang digulirkan MBS merupakan batu pijakan besar.

 "Apa yang pemerintah lakukan adalah mereka tidak memaksakan sistem patriarki," katanya.

Sumber : Kompas

Bagikan: