Anggota FPI Lampung Akui Bawa Senjata Saat Kerusuhan 22 Mei

Anggota FPI Lampung Akui Bawa Senjata Saat Kerusuhan 22 Mei

Tribunsantri.com - Anggota Front Pembela Islam (FPI) Lampung, Sandi Maulana, mengakui bahwa dirinya membawa senjata saat ditangkap di sekitar Polsek Gambir, Jakarta Pusat 23 Mei 2019 lalu. Sandi menerangkan memperoleh senjata tersebut dari tempat ia dan rombongan menginap di Gedung Dewan Dakwah.

Senjata yang dibawa Sandi adalah ketapel dan beberapa butir kelereng. Dia mengaku membawa senjata itu untuk membela diri.

"Untuk membela diri saja. Tidak ada niatan menyerang," kata Sandi saat bersaksi di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Senin, 2 September 2019.

Dia tak merinci apa yang dikhawatirkan sehingga perlu membawa 'senjata' tersebut. Sandi adalah salah satu dari enam anggota FPI Lampung yang menjadi terdakwa perkara kerusuhan 22 Mei. Lima terdakwa lainnya adalah yakni Armin Melani, Sofyanto, Joni Afriyato, Ahmad Rifai, dan Jabbar Khomeini.

Mereka mengaku datang ke Jakarta untuk mengikuti aksi memprotes hasil penghitungan suara Pemilu Presiden 2019 di depan kantor Bawaslu, Jakarta Pusat. Armin berujar, kelompok ini tiba di Stasiun Gambir pada 21 Mei 2019 pukul 05.00 WIB.

Dari penangkapan mereka, polisi menemukan satu ketapel serta 15 dan 36 butir kelereng. Ada juga dua kartu tanda anggota (KTA) FPI Lampung atas nama Armin Melani dan Sandi Maulana. Temuan ini kemudian disita dan dijadikan alat bukti dalam persidangan.

Armin, Sandi dan rekan-rekannya membantah tudingan bahwa mereka ikut menyerang polisi.
Sebelumnya, mereka disebut terlibat kerusuhan dan berada di sekitaran Polsek Gambir saat kerusuhan 22 Mei pecah. Jaksa mendakwa mereka melanggar Pasal 212 juncto Pasal 214 KUHP atau Pasal 212 juncto Pasal 214 ayat 1 KUHP atau Pasal 218 KUHP.

Tempo

Bagikan: