500 Anggota Jemaah NU Datangi PN Blitar Dukung Pembacaan Eksepsi Tokohnya

500 Anggota Jemaah NU Datangi PN Blitar Dukung Pembacaan Eksepsi Tokohnya

Tribunsantri.com - Lebih dari 500 anggota jemaah Nahdlatul Ulama (NU) memadati gedung Pengadilan Negeri Blitar. Mereka memberikan dukungan moril dalam sidang pembacaan eksepsi dua tokoh NU yang dijadikan tersangka kasus dugaan pengeroyokan.

Massa memakai atribut organisasi masing-masing, mulai Fatayat, Muslimat, Banser, hingga Ansor. Massa NU itu berkumpul di halaman kantor PN Blitar saat dibacakan eksepsi terhadap penetapan tersangka dua tokoh NU Kecamatan Wonodadi, HIA dan MN.

Sidang hanya berjalan sekitar 20 menit dengan agenda pembacaan eksepsi oleh kuasa hukum dua tersangka. Kuasa hukum HIA dan MN, Yaumatur Tibi, mengatakan dalam eksepsi itu pihaknya menolak penetapan tersangka dua kliennya.

"Kami menolak fakta-fakta yang diajukan jaksa karena tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan," kata Yaumatur, Kamis (26/9/2019).

Ini seperti yang disampaikan koordinator massa jemaah NU, Abdul Kholik, dalam sidang sebelumnya. Menurutnya, ada upaya kriminalisasi terhadap dua tokoh NU. Dugaan itu muncul karena satu tersangka, yakni HIA, tidak berada di lokasi saat peristiwa pengeroyokan terhadap pelapor NK terjadi.

"Menurut kami, ini upaya kriminalisasi. Nama yang dinyatakan sebagai tersangka itu tidak ada di lokasi. Dan alasan polisi yang menyatakan keris bukan senjata tajam, itu alasan yang tidak masuk akal," kata Abdul Kholiq, Kamis (12/9).

Kasus ini merupakan buntut dari aksi pengambilalihan aset NU di Wilayah Wonodadi, Kabupaten Blitar, pada 2014. Dalam proses itu, ada upaya pengancaman dan pengamanan oleh seorang berinisial NK.

Kesaksian beberapa anggota NU, NK mengancam dengan membawa sebilah keris. Karena merasa terancam, beberapa orang mengamankan NK. Namun NK justru melaporkan pengamanan ini sebagai penganiayaan. Dua warga yang dilaporkan tersebut berinisial HIA dan MN.

Dalam proses hukum yang berjalan, penyidik Satreskrim Polresta Blitar menetapkan keduanya sebagai tersangka. Sedangkan laporan balik anggota NU terkait ancaman NK sambil membawa keris tidak diterima. Alasan polisi, keris bukan senjata tajam, melainkan benda pusaka.

Seusai pembacaan eksepsi, massa langsung menyanyikan mars NU Yalal Waton, lalu membubarkan diri. Menanggapi eksepsi itu, Kasi Pidum Kejari Blitar Supomo menyatakan ini sudah masuk ranah persidangan.

"Kami kan sesuai BAP di berkas. Sekarang sudah masuk tahap persidangan. Kalau statement kuasa hukumnya berlawanan, nanti kami jawab dalam tanggapan eksepsi. Insyaallah jadwal sidangnya minggu depan," pungkas Supomo. 

Sumber : detik

Bagikan: