WNI Eks IS1S adalah Pengkhianat Bangsa, Layakkah Dipulangkan?

WNI Eks IS1S adalah Pengkhianat Bangsa, Layakkah Dipulangkan?

Tribunsantri.com - Pegiat medsos Ninoy Karundeng menulis tentang “Mau Diapain Teroris ISIS Asal Indonesia di Suriah”. Layakkah mereka dipulangkan atau dibiarkan disana? Berikut ulasannya:

Ratusan teroris ISIS asal Indonesia kini meronta. Mereka minta belas kasihan. Mewek. Menangis. Tersedu. Hancurnya ISIS di Raqqa dan kantong-kantong teroris di Suriah membuat ratusan teroris ketakutan. Kehidupan mereka tergantung bantuan dari para teroris dari berbagai negara, termasuk Indonesia.

Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) bersiap membantu kepulangan mereka. Begitu pun Polri dan Densus 88. BIN belum bereaksi. Lembaga dan Badan lain pun belum bereaksi. Semua melakukan aksi menunggu. (Yang sedang senang adalah sel-sel teroris, dan ormas eks-HTI akan mendapatkan tenaga baru, skill mumpuni, ideologi makin kental, anti Pancasila makin kuat.)
Pembiaran terhadap para teroris bukan masalah besar. Mereka layak dibuang dari Bumi Pertiwi. Kenapa? Mereka adalah para pengkhianat bangsa. Para teroris itu adalah anti Pancasila. 

Mereka berusaha meruntuhkan NKRI. Mereka hendak mendirikan negara Islam. Ingin menghancurkan Indonesia. Berusaha mendirikan negara haram, khilafah. Para pembenci Indonesia yang layak dihanguskan dari catatan sebagai WNI.

Namun para teroris tetap berberak melakukan manuver di Indonesia. Langkah yang dilakukan mereka sangat strategis. Para organisasi khilafah dan pro teroris di Indonesia meredakan, menipu publik dengan pernyataan bermulut manis.

Pada Juni 2014, beredar surat di Bogor, Cianjur, Sukabumi dari para pentolan teroris, termasuk penyokong ormas GARIS – yang terlibat dalam rancangan kerusuhan 23-25 Mei 2019. Chep Hermawan ditunjuk sebagai pemimpin ISIS Regional Indonesia, yang merekomendasikan pendana pelatihan teroris Abu Bakar Ba’asyir. Chep ini bersama 6 orang lainnya pernah ditangkap Polisi di Majenang pada 2014 seusai menjenguk Ba’asyir di Lapas Nusakambangan.

 GARIS pun mendukung Prabowo bersama PKS, PAN, FPI, dan anasir lain yang lucu-lucu itu.
Eksistensi ISIS di Indonesia selalu menunggangi peristiwa. Ratusan teroris dan tersangka teroris sejak 2014 telah ditangkap. Mereka para pendukung khilafah. Pendukung ISIS. Tanpa malu mereka mempertontonkan dukungan atas nama keyakinan ideologi sesat khilafah. Bangga mereka menghina Bendera Merah Putih, melecehkan lagu Indonesia Raya, lambang negara, dan bahkan Negara Indonesia mereka tidak akui.

Kini para teroris itu ingin kembali ke Indonesia. Mereka sudah terlatih membuat bom. Para teroris itu sudah mahir menggunakan senjata. Mereka telah belajar dendam kesumat membenci negara. Mereka sebut pemerintahan Indonesia sebagai thagut, sebagai tidak sah. Kegilaan ideologi yang membutakan pikiran: jumud, sempit.

Pro dan kontra terjadi. Deradikalisasi terhadap para teroris gagal total. Kalau cuma satu pengikut Jamaah Islamiyah Nasir Abbas yang tobat, tak bermakna. Sementara para naradipada, keluarga, dan gerombolan teroris tetap kembali berulah seperti Bom Sarinah, Bom Surabaya yang pelakunya bekas napi teroris.

Belum lagi, di media sosial. Pembiaran pengibaran bendera ISIS, pemaafan pelaku kampanye KARIM, khilafah di sekolah dan kampus, adalah wujud kegagalan program deradikalisasi. Deradikalisasi tidak cukup hanya ngecap tentang Pancasila. Bukan cuma tentang membantu duit agar usaha. Malahan usaha dan duit digunakan untuk membuat bom. Serba susah. Kenapa? Keyakinan ideologi mereka begitu kuat. Tidak ada yang akan mampu untuk menderadikalisasi mereka. Tidak juga BNPT, tidak juga masyarakat. Maka, sikap gaya-gayaan mau melindungi, merayu, memfasilitasi para teroris ISIS dari Indonesia di Suriah adalah hal yang kontra-produktif. Tak berguna sama sekali. Mereka adalah para pembunuh. Mereka teroris. Mereka adalah ancaman bagi anak-anak Indonesia. Mereka adalah predator yang tak berperikemanusiaan.

Pengakuan dari mulut pendukung ISIS seperti Heru Kurnia dan Dwi Djoko Wiwoho tak usah dipercaya.

Faktanya C-Save sudah memfasilitasi pengembalian 160 anggota ISIS dari Turki dan Suriah. Mereka tetap ingin kembali lagi ke Suriah. Otak mereka sudah sengkleh. Tidak ada peri kemanusiaan buat mereka. Karena mereka begitu bengis dan kejam. (Ingat mereka menggorok para anggota Brimob bahkan di Markas Brimob Kelapa Dua. Kegilaan tanpa batas).

Pemahaman tentang para teroris yang kembali masuk ke Indonesia melalui jalur tikus, berputar lewat Mindanau, lewat Sulawesi Utara, lewat perbatasan dengan Sabah, melalui Kepulauan Riau, pulau-pulau kecil memang merepotkan aparat Polri. Para pecundang itu hanya merepotkan Negara. Otak beku jahiliyah gurun mereka dalam meyakini agama dan ideologi sesat khilafah yang anti Pancasila tidak layak hidup di Indonesia. 

Jikalau akan dilakukan screening, screening itu dilakukan di Suriah dan Turki sana. Deradikalisasi harus dilakukan bertahun-tahun, dan kamp deradikalisasi juga dilakukan di kantong teroris seperti Idlib, Hama (Homs), Ghouta Timur, Aleppo, Raqqa, atau Maarat al-Numan. Kamp penampungan itu bekerjasama dengan Pemerintah Assad dan Rusia. Bukan bekerjasama dengan organisasi sayap teroris White Helmet misalnya, atau teroris bekas al Qaeda Hayat Tahrir al-Sham.

Jadi, permasalahan menumpuk terkait para teroris ISIS asal Indonesia. Tentu Polri, Densus 88, tetap memantau mereka yang pulang melalui jalur tikus. Jika kedapatan ada rencana teror, para pengikut khilafah ini layak disudahi, daripada mengancam ketertiban, teror dan pembunuhan. Mereka adalah ancaman bagi negara, bagi masyarakat: tak layak hidup beradab di Indonesia. 

Penulis: Ninoy Karundeng

Bagikan: