Stop Mengatasnamakan Ulama, Islam dan Umat Islam !

Stop Mengatasnamakan Ulama, Islam dan Umat Islam !

Oleh: DR. Zaprulkhan

Tribunsantri.com - Kita akan menyoroti sekilas kelicikan narasi yang disampaikan oleh Felix Siauw dan sebagian orang-orang yang sekelompok dengannya.

Pertama, ketika tidak setuju dengan pihak pemerintah yang memproses hukum beberapa da’i atau ustadz pop culture simpatisan atau yang berafiliasi dengan eks ormas HTI yang suka menyebarkan hoaks, hate speech atau berisi fitnah, Felix dengan enaknya menuding pemerintah telah melakukan kriminalisasi ulama.

Kita bertanya secara kritis: sebenarnya siapa yang dimaksudnya sebagai ulama? Saya tidak mau menyebut mereka ulama; karena bagi seorang ulama sejati, standard kualifikasi keilmuannya sangat ketat sekali. Ulama sejati bukan hanya menguasai kekayaan khazanah turots ilmu-ilmu Islam yang sangat kaya, tetapi juga memiliki sifat bijak bestari dan khosyah: sebuah kesadaran transendental yang menjadikan dirinya selalu merasakan diawasi oleh Allah.

Dalam komunitas Nahdlatul Ulama/NU ada sangat banyak ulama yang berjumlah ribuan, tapi tidak ada kriminalisasi ulama oleh pemerintah. Padahal sebagian ulama-ulama NU ini juga tetap bersikap kritis terhadap pemerintah ketika kebijakan-kebijakannya dianggap tidak membawa kemaslahatan bagi umat. Demikian pula, ada begitu banyak ulama dari Muhammadiyah yang tidak pernah terjadi kriminalisasi ulama oleh pemerintah. Karena itu, ungkapan Felix tidak mewakili ulama Indonesia.

Lebih baik Felix langsung transparan saja dengan menyatakan bahwa pihak pemerintah telah melakukan ‘kriminalisasi’ terhadap ustadz atau da’i dari simpatisan ormas eks HTI. Jadi jelas yang diproses hukum atau ditindak oleh aparat kepolisian itu beberapa da’i provokatif dari pihak simpatisan atau eks-HTI.

Jelas kita mendukung pihak pemerintah yang bertindak tegas terhadap siapapun yang menghina falsafah bangsa, hendak merobohkan rumah besar kebangsaan kita sekaligus hendak mengganti ideologi bangsa kita dengan ideologi yang belum jelas.

Kita juga perlu bersikap kritis. Kalau ada orang-orang yang diklaim oleh kelompoknya sebagai “ulama atau habib” sekalipun, tapi ceramahnya seringkali berisi narasi kebencian, senang menyebar berita-berita hoaks, menghina falsafah bangsa kita, serta mengumbar emosi dan kemarahan, maka mereka belum pantas disebut sebagai ulama atau habib.

Mereka lebih pantas disebut sebagai demagog, agitator, atau provokator. Kalau bertemu dengan orang-orang seperti itu, lebih baik tinggalkan mereka. Sebab masih amat banyak kyai dan ulama-ulama kita yang arif bijaksana sekaligus menyejukkan dan menghangatkan hati kita yang menyimaknya. Yang harus kita lihat dari seorang ulama dan habib adalah keluasan ilmu sekaligus keagungan akhlaknya, bukan cuma label askriptif penisbatan semata.

Karena itu, stop bawa-bawa nama ulama; sebab ada ribuan ulama di NU, Muhammadiyah, dan ormas Islam lainnya yang memiliki hubungan harmonis dengan pemerintah sejak zaman dahulu sampai sekarang.

Kedua, Felix sangat licik mengatakan pihak pemerintah tidak pro-Islam atau telah melakukan de-Islamisasi, ketika pemerintah membubarkan HTI atau membatasi kegiatan eks komponen HTI termasuk kegiatan Felix sendiri. Di sini, lagi-lagi terlihat betapa liciknya Felix. Ia begitu cerdiknya menganalogikan atau mengidentikkan larangan pemerintah terhadap HTI atau kegiatan-kegiatan oknum HTI dengan mengatasnamakan Islam atau umat Islam.

Di sini, kita bertanya lagi: Jika pemerintah tidak pro terhadap Islam atau umat Islam, maka Islam yang mana? Umat Islam yang mana? Sebab ada begitu banyak umat Islam di Indonesia yang pemerintah pro dengan mereka dan mereka pun pro dengan pemerintah. Ada NU yang berjumlah 60 juta lebih dan hubungannya baik-baik saja dengan pemerintah selama ini. Ada Muhammadiyah yang berjumlah sekitar 40 jutaan lebih dan hubungan mereka pun tetap harmonis saja dengan pemerintah. Begitu juga ada banyak sekali ormas-ormas Islam lainnya yang tetap memiliki hubungan baik dengan pemerintah.
Karena itu, pernyataan Felix tidak mewakili Islam atau umat Islam Indonesia.

Lebih baik Felix bersikap gentle dengan menyatakan secara terus terang: bahwa pemerintah tidak pro terhadap HTI. Tudingan tersebut baru benar. Memang pemerintah tidak pro terhadap HTI. Tapi jelas pemerintah amat pro dengan Islam dan mayoritas umat Islam Indonesia yang diwakili oleh ormas-ormas Islam seperti NU, Muhammadiyah, dan yang lainnya. Sebab ormas-ormas besar Islam ini, selalu setia menjaga falsafah bangsa, menyatu dengan budaya Indonesia dan memiliki komitmen penuh menjaga NKRI sejak dahulu hingga hari ini.

Oleh sebab itu, stop mengatasnamakan ulama dan Islam untuk membungkus kepentingan politik dan kekuasaan HTI. Stop membodohi dan menipu umat Islam Indonesia dengan membawa-bawa nama ulama. Padahal “ulama” yang dimaksud adalah da’i atau ustadz dari pihak simpatisan dan eks-HTI.

Stop mengatasnamakan ulama! 
Stop mengatasnamakan Islam!
Stop mengatasnamakan umat Islam!
Stop membodohi dan menipu umat Islam Indonesia!

Bagikan: