Pilihlah Ulama Yang Lurus, yang Tidak Bermain-main dengan Ayat Suci Al Qur'an

Pilihlah Ulama Yang Lurus, yang Tidak Bermain-main dengan Ayat Suci Al Qur'an

Oleh : Jumrana Sukisman

Tribunsantri.com - Saya punya teman, dia rajin ikut kajian agama, hebatnya dia tidak terikat pada satu kelompok kajian tertentu. Dia hafidz, paham hadist, dan membaca kitab kuning karena pernah mondok. Sekarang dia wirausaha sambil mengajar ngaji, istrinya seorang guru.

Dulu dia aktif di media sosial, rajin memposting tausiah singkat, berbagi hal-hal positif. 2015 tiba-tiba dia menutup akunnya. Dalam satu kesempatan bertemu saya bertanya kenapa akunnya sudah nggak aktif. Dengan wajah sedih dia berkata," media sosial lebih banyak mudaratnya daripada manfaatnya". Saya terkejut dan bilang bahwa media sosial itu hanya alat, bergantung kepada manusianya. Dan ini jawabnya:

Di media sosial, hal buruk lebih mudah tersebar ketimbang hal yang baik. orang mudah berbohong, mencaci, memfitnah, dan menghasut. Dan orang baik bisa berubah jahat karena postingan di media sosial.

Dia lalu bercerita tentang dua orang temannya yang rajin salat, rajin mengaji, rajin ikut kajian berubah menjadi rajin menebar hoax, hasut, dan fitnah di media sosial. Katanya, "kamu tau kenapa mereka berubah?" Saya menggeleng. Lanjutnya karena dia terpengaruh postingan provokasi seorg ustadz terkenal d TV (mereka menjadi follower) dan akhirnya bergabung di kelompok tertutup di media sosial yang sering menyebar fitnah.

"Kita masuk pada jaman dimana fitnah dianggap sebagai kebenaran, dan agama dijadikan alat untuk memecah belah umat", Keluhnya dengan nada sedih. Lihatlah ulah orang-orang yang mengaku ulama, tambahnya. Saya lalu bertanya, "Menurutmu ulama manakah yang harus diikuti?" Dia melihatku sambil tertawa, "saya bukan orang yang layak dimintai rujukan," katanya. Jawab saja, menurut ilmu yang kau baca di kitab-kitab itu.

Ini jawabnya "Ulama itu, istiqomah dalam aqidah, ibadah, akhlak, dan dakwahnya, serta hanya takut kepada Allah. Lembut tutur katanya, bicaranya hikmah yang mengajak hijrah menuju Allah, tegas menyampaikan yang haq, tampak sekali kerendahan hatinya, wajahnya murah senyum bercahaya, dan ikhlas dalam berdakwah"
Saya tersenyum, dan hendak berbicara tapi langsung dipotongnya, "Jangan menyebut ini itu, cukup dipikirkan, dipahami dan dimengerti. Sifat-sifat itu merujuk kemana, dan siapa yang tidak sesuai".

Setelah itu, kami ngobrol tentang keluarga dan pekerjaan masing-masing. percakapan ditimpali sesekali oleh istrinya yang lembut, berhijab dan bercadar. Pada kesempatan itu, saya meminta ijin untuk menuliskan percakapan kami. Lama ia berpikir sebelum akhirnya mengijinkan dengan syarat nggak nyebut nama, dan tempat tinggal. "Saya nggak mau terkenal" katanya sambil tertawa.

Sebelum berpisah, ia sempat berpesan, "pilihlah ulama yg lurus, yang tdk bermain-main dengan ayat suci Al Qur'an, seorang mukmin. Sebab tidak semua yang mengaku ulama itu mukmin. Mungkin dia muslim tapi belum tentu mukmin. Seorang mukmin hanya takut kepada Allah, semua perbuatannya hanya karena Allah SWT.

Sumber : facebook Jumrana Sukisman

Bagikan: