NKRI Bertasawuf Lebih Utama Daripada NKRI Bersyariah

NKRI Bertasawuf Lebih Utama Daripada NKRI Bersyariah

NKRI Bertasawuf lebih utama daripada NKRI Bersyariat, karena Tasawuf senantiasa mengajarkan Islam Cinta.

Oleh :  KH Irwan MAsduqi *

NKRI Bersyariat II?

Tidak perlu slogan NKRI Bersyariat. Mari belajar dari sejarah. Ketika paham Islam aliran keras disebarkan di India oleh Mahmud Ghazna, Dinasti Khiljia, Tughlaq, Lodia, Haydar Ali dan Aurangzeb secara paksa dimana orang-orang dikhitan massal dan disyariatkan secara simbolik, maka dakwah Islam mengalami kegagalan. Saat kekuasaan Islam melemah, penduduk India berbondong-bondong kembali ke agama asalnya.

Namun dakwah Islam yang disebarkan oleh ulama sufi sekaliber Syaikh Syaraf bin Malik dan Malik bin Dinar di Malabar ternyata mampu mengislamkan penduduknya, bahkan Raja Cranangore juga memeluknya. 

Kelak di sana lahir ulama ahli Fiqih sekaligus Sufi bernama Syaikh Zainudin Al Malibari, pengarang kitab Fathul Muin yang banyak dikaji para santri karena di dalamnya mengajarkan fikih yang fleksibel.

Di Bengali, Islam juga tersebar malalui Islam kasih sayang yang didakwahkan oleh tokoh Sufi selevel Syaikh Jalaludin Attibrizi yang merupakan murid dari tokoh sufi agung Syaikh Suhrawardi. 

Di Nusantara, Islam menyebar mulai abad ke-13 melalui tokoh-tokoh Sufi seperti Syaikh Subakir, Maulana Malik Ibrahim, Syaikh Syamsuddin Wasil Setana Gedong Kediri, Syaikh Jumadil Kubro, Ibrahim Samarkandi, Syaikh Quro Karawang (pendiri pesantren pertama kali pada 1418 Masehi).

Guru sufi terakhir ini mampu mengislamkan tokoh-tokoh besar seperti Pangeran Walangsungsang dan Kian Santang. Dakwah sufi ini kemudian diteruskan oleh Wali Songo pada abad-abad berikutnya.

Dari sejarah tersebut, maka NKRI Bertasawuf lebih utama daripada NKRI Bersyariat, karena Tasawuf senantiasa mengajarkan Islam Cinta. [Tribunsantri/FA]

*Penulis merupakan Pesantren As-Salafiyah Mlangi Sleman.

Bagikan: