Mengejutkan, Tak Ada Satu Negara Pun yang Mengecam Indonesia Terkait Kerusuhan Papua

Mengejutkan, Tak Ada Satu Negara Pun yang Mengecam Indonesia Terkait Kerusuhan Papua

Oleh : Budi Setiawan

Tribunsantri.com - Secara mengejutkan, sejauh pantauan, tidak ada satu negara pun yang mengecam Indonesia terkait kerusuhan di Papua. 

Ini adalah perkembangan baru yang mengagetkan kelompok separatis. Padahal mereka sudah mati-matian menggelorakan kerusuhan di Papua dan peristiwa rasisme untuk mendiskreditkan Indonesia. 

RESPEK

Dunia internasional nampaknya memandang bahwa pemerintahan Presiden Joko Widodo cepat tanggap merespon kerusuhan di Papua. Tidak ada penembakan dan aksi brutal aparat keamanan di Papua meski  perusuh membakar gedung dan melukai polisi. 

Dunia internasional respek dengan cara orang Indonesia menyikapi rasisme atas saudara-saudara Papua mereka.

Aneka cara dilakukan orang Indonesia yang membanjiri lini masa media sosial untuk menunjukkan kecaman rakyat Indonesia atas perlakuan pihak keamanan di Surabaya dan menunjukkan solidaritas mereka atas orang Papua. 

Jajaran pemerintahan juga melakukan hal sama dengan meminta maaf seperti yang ditunjukkan Gubernur Jawa Timur, Walikota Surabaya, Malang, Madiun serta Dedi Mulyadi, mantan bupati Purwakarta. 

Pemerintah pusat juga segera tanggap. Presiden Jokowi langsung bereaksi saat kerusuhan pecah di Manokwari. Menteri Wiranto, Panglima TNI dan Kapolri terbang ke Papua menenangkan situasi. 

Presiden Jokowi dikabarkan akhir Agustus atau awal September akan berkunjung ke Papua untuk yang ke dua belas kalinya untuk menyerap aspirasi rakyat Papua dalam konteks Negara Kesatuan Republik Indonesia.  Sekaligus mengukuhkan keseriusan Presiden Jokowi untuk membangun Papua. 

HARAPAN BARU

Gabungan simpati luas masyarakat Indonesia menentang rasisme dan aksi minta maaf serta pendekatan keamanan tanpa kekerasan, dipandang dunia internasional sebagai cara baru Jakarta merangkul Papua dalam pelukan Indonesia. 

Kasus rasisme di Surabaya yang kini menyebabkan sejumlah petinggi keamanan dicopot dan segenap Ormas di periksa, dipastikan juga melahirkan pendekatan baru pihak keamanan menghadapi kampanye separatisme yang dilakukan simpatisan mereka yang kebetulan menjadi mahasiswa di berbagai universitas di negeri ini. 

Pihak keamanan akan membiarkan para mahasiswa melakukan aksi damai. Dan menjauhkan para Ormas agar tidak mengganggu aksi mereka. 

Mereka juga akan paham aparat keamanan akan tegas menindak mereka yang mengibarkan bendera separatis tanpa salakan senjata. 

ASRAMA NUSANTARA

Sementara itu, ide membangun asrama mahasiswa Nusantara yang digagas Gubernur Jawa Timur patut disokong dan  harus segera diwujudkan. Tidak hanya di Jawa Timur tapi di berbagai daerah lainnya. Asrama ini akan menampung mahasiswa Papua bersama mahasiswa dari daerah lain. 

Upaya integrasi ini akan menghilangkan kantong-kantong mahasiswa Papua yang bisa menjadi persemaian subur separatisme. Sekaligus juga mempermudah mahasiswa Papua mencari pondokan dimana selama ini mereka kesulitan karena rasisme dan prejudis.

DIPLOMASI

Segenap langkah terintegrasi ini akan mempermudah pejuang garis depan mempertahankan Papua di pelataran internasional.

Mereka adalah para diplomat kita yang bekerja di New York, London, Washington, Canberra, Wellington, dan seluruh negara dikawasan Pasifik Selatan untuk menepis setiap langkah negara manapun yang ingin memisahkan Papua dari Indonesia.

Mereka berjuang senyap dalam aneka pertempuran meja perundingan. Yang hanya memakai satu senjata saja yakni. 

Perlakuan dan cara manusiawi merangkul saudara-saudara kita di Papua. 

Yang secara efektif membungkam habis kampanye kelompok separatisme Papua 

Dan juga membungkam mulut para Lord Social Justice Warrior yang seperti biasa sok humanis menyuarakan kemerdekaan Papua tanpa memperhitungkan keseriusan pemerintah pusat mengentaskan kemiskinan dengan membangun wilayah yang kaya raya itu.

Sumber : Budi Setiawan

Bagikan: