Mengapa Saya Begitu Kukuh dengan NU? Karena NU Adalah Keberkahan

Mengapa Saya Begitu Kukuh dengan NU? Karena NU Adalah Keberkahan

Oleh : Mamang M Haerudin *

Tribunsantri.com - Memperkuat Nahdlatul Ulama (Bagian 2)

Jangan minder untuk terus membumikan Nahdlatul Ulama. NU bukan partai politik. NU bukan ormas yang kerap mempolitisir agama untuk kepentingan duniawi. NU didirikan sejak awal semata-mata untuk menjaga Islam yang moderat dan merahmati sekalian alam. NU terbuka untuk semua, baik perempuan maupun laki-laki, Muslim maupun non Muslim, kaya maupun miskin; yang terpenting dari itu semua adalah komitmen bersama kepada Pancasila dan NKRI. 

Tetapi juga kita, warga Nahdlyin jangan sombong. Kita boleh mengklaim bahwa NU lah "ash-habul haq." NU itu pemegang kebenaran, tetapi kita tidak boleh menyalahkan orang lain, agama atau ormas manapun. NU harus berdakwah tetapi tidak dengan paksaan dan apalagi kekerasan.

Unik dan khasnya NU itu kita beragama sekaligus berbudaya. Budaya dijadikan penguat untuk beragama dan begitupun sebaliknya, agama memperkuat budaya. Saya tidak membatasi diri harus dengan siapa saya bergaul. Saya dididik orang tua dan para kiai untuk bergaul dengan banyak orang, komunitas dan agama apapun. Tidak malah mengisolir diri. Saya senang bisa bergaul dan belajar agama lain: Kristen, Budha, Hindu dan lainnya, tanpa harus ke-NU-an saya luntur. Saya belajar juga berkaitan dengan ajaran Ahmadiyah, Syiah dll, namun spirit pembelajar itu justru yang membuat saya semakin kuat dengan ajaran Ahlus sunnah wal jamaah an-Nahdliyah.

Saya senang ikut pengajian, tetapi saya juga senang menonton pagelaran wayang, dan segala rupa warisan budaya bangsa ini yang mesti kita lestarikan. Saya juga bebas berpakaian, dalam arti tetap dalam batas kesopanan: memakai kaos, kemeja, batik, gamis, sarung dan lain sebagainya. Saya di NU dan Pesantren tidak dipaksa agar identitas keislaman saya selalu ditunjukkan dengan memakai gamis atau aksesoris yang mengarah pada politik identitas lainnya. Ada juga sedekah bumi, nadran (pesta laut), dan masih banyak lagi. Maka manakala ada sebagian ormas atau kelompok Muslim yang membid'ahkan dan memusyrikkan amaliah dan budaya NU maka sudah menjadi kewajiban kita, warga Nahdliyin untuk turun ke bawah. Memberikan tabayun dan pencerahan.

Lalu mengapa saya begitu kukuh dengan NU? Karena NU adalah keberkahan. Hidup tanpa keberkahan betapa hampa. Hidup di dunia hanya sementara, akhiratlah yang selamanya. Para ulama dan kiai NU telah terbukti mengabdi kepada bangsa ini. Mengayomi dan memberdayakan masyarakat. Para ulama NU dan warga bangsa yang dulu berdarah-darah memperjuangkan NKRI, harus dapat kita teruskan perjuangannya.

Jangan sampai Indonesia hancur seperti banyak Negara di Timur-Tengah: Libya, Yaman, Suriah, Irak, Afghanistan dan lain sebagainya. NU pun bahkan dibutuhkan dan diakui dunia. Belum lama ini para ulama Afghanistan sengaja belajar kepada NU--dan mendirikan NU versi Afghanistan--untuk kembali menjahit persaudaraan kebangsaan mereka yang sudah terkoyak dan hancur-lebur. Saya dan saya pikir kita sekalian warga Nahdliyin harus terus memperkuat NU.

Caranya? Tingkatkan kualitas public speaking, semakin ramah dalam berdakwah langsung maupun di media sosial, kuatkan spirit literasi, jaga budaya para pendahulu, ciptakan inovasi. Hanya dengan begitu NU dan NKRI akan terus semakin kuat. Saya tidak bisa membayangkan, jika Khilafah Islamiyah dan NKRI Bersyariah tegak oleh mereka yang berhaluan ideologi radikal, betapa kacaunya nanti negeri ini. NKRI telah final. NKRI sampai hari ini terus diperkuat dengan segala regulasi yang spiritnya ada dalam syariat (ah) setiap agama-agama. Bukan hanya syariat Islam.

Wallaahu a'lam

 *) Pengurus Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Kabupaten Cirebon; penulis 9 Buku Keislaman Penerbit Quanta, Elex Media Komputindo, Kompas-Gramedia; Dai RCTV; Founder Al-Insaaniyyah Center

Bagikan: