Melawan HTI dan FPI Bukan karena Benci Orangnya, Tapi Akhlaknya yang Tak Berkomitmen Pada NKRI

Melawan HTI dan FPI Bukan karena Benci Orangnya, Tapi Akhlaknya yang Tak Berkomitmen Pada NKRI

Tribunsantri.com - Memperkuat Nahdlatul Ulama (Bagian 1)

Nahdlatul Ulama, disingkat NU. Salah satu organisasi kemasyarakatan (ormas) di Indonesia yang didirikan oleh Hadratusy Syaikh KH. Hasyim Asy'ari pada 31 Januari 1926. NU merupakan ormas terbesar dengan basis Pesantren-pesantren di seluruh penjuru Tanah Air. 

NU telah menjadi bagian tak terpisahkan dari NKRI. Bahkan NU merupakan pendiri bangsa ini. Maka saya yang sejak kecil lahir dari kultur NU, sampai hari ini tak berkurang kecintaan saya pada NU. Tak peduli apakah zaman kiwari sedang marak fenomena hijrah dan munculnya dai-dai yang viral, keteguhan saya kepada NU tak tergoyahkan. 

Muncul Front Pembela Islam (FPI), Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Jamaah Anshorut Tauhid (JAT) dan ormas lain serupanya, bahkan kini manakala banyak pengajian yang jemaahnya dihadiri ribuan orang, bagi saya NU dan pengajian para kiai NU tetap yang di hati. Sedikitpun saya tidak tertarik dengan ormas dan pengajian manapun. Saya, hanya sekadar tahu dan mengamati gerak-gerik ormas dan pengajian yang ramai itu. 

Apalagi ketika kemarin hiruk-pikuk menghadapi Pilpres 2019. Saya tetap ikut PBNU dan para kiai saya di Pesantren. Apalagi salah seorang kiai saya Prof. Dr. KH. Ma'ruf Amin, menjadi Wapresnya. 

Saya lahir dan tetap bersama NU, bukan tanpa sikap kritis. Saya tetap komitmen untuk kritis kepada siapapun. Sampai banyak orang yang membenci NU, terutama kepada Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj, saya tetap membela dan bersama NU. 

Banyak orang yang salah paham kepada NU dan Kiai Said. Memang dari dulu NU dan para kiainya sudah banyak makan garam dengan ujaran kebencian. Termasuk ketika banyak orang yang mengaku NU tapi bersyarat--bukan NU-nya Kiai Said. Bagi saya NU adalah apa yang menjadi kebijakan PBNU. 

Maka saya dan kita sekalian harus terus memperkuat NU. Kita tidak boleh membalas ujaran kebencian dengan ujaran kebencian yang serupa. Mari kita buktikan bahwa NU itu merahmati sekalian alam. NU akan dapat bersahabat dengan siapapun, sepanjang komitmen pada Pancasila dan NKRI.

Jadi kalau saya dan NU berada di garda terdepan menghadapi FPI, HTI dan ormas radikal lainnya itu semata bukan karena saya benci kepada orangnya, saya hanya benci pada akhlaknya mereka yang tidak mau berkomitmen pada Pancasila dan NKRI.

Wallaahu a'lam

Cirebon, 7 Agustus 2019, 19.20 WIB

Sumber : FB Mamang M Haerudin (Aa)

Bagikan: