Khalifah dalam Al Quran dan Khliafah dalam Ideologi Politik dan Religius Hizbut Tahrir

Khalifah dalam Al Quran dan Khliafah dalam Ideologi Politik dan Religius Hizbut Tahrir

Oleh: Saiful Huda Ems

Tribunsantri.com - Sering sekali saya perhatikan banyak orang yang masih belum dapat memahami masalah dengan kerap menyamakan makna Khalifah yang ada dalam Al-Qur'an dan Khilafah yang sering didengungkan oleh konseptor Hizbut Tahrir, padahal sejatinya dua hal itu tidaklah sama dalam artian makna dan arahnya berbeda.

Prof  Quraish Shihab menjelaskan, "Khalifah dan Khilafah berasal dari kata khalaf yang berarti di belakang. Makna sebenarnya adalah sesuatu atau seseorang yang datang dari belakang orang lain atau sesudah orang lain. Khalifah dalam Al-Qur'an memiliki dua kata jamak, yakni khulafa dan kholaif yang berarti pemimpin dalam penegakan hukum dan khulaif yang berarti pemelihara yang mengantarkan segala sesuatu kepada penciptanya".

Khalifah dalam Al-Qur'an memiliki dua makna, yakni yang pertama, khalifah memiliki arti bahwa Allah menciptakan manusia sebagai pengelola alam. Disini manusia merupakan mandataris Tuhan sebagai pengelola alam yang dipresentasikan oleh Muhammad SAW sebagai manifestasinya. 

Kekhalifahan manusia ini harus mengarahkan wujud pengelolaan alam itu pada fungsi dan tujuan penciptaannya, yakni untuk kemaslakhatan makhluk di bumi. Laut misalnya diciptakan oleh Tuhan untuk manusia mencari ikan, mutiara dll.nya, karenanya manusia harus mengelolanya dengan baik, hingga dengan manfaat yang diambilnya itu manusia senantiasa bersujud dan bersyukur pada Tuhan.

Kedua, Khalifah dalam Al-Qur'an memiliki arti sebagai penguasa di bumi, agar manusia dapat memutus perkara dengan adil tanpa mengikuti dorongan hawa nafsunya, karena hal itu akan menyesatkan manusia dari jalan Allah. Ingat, disini manusia sebagai suatu spesies, bukan mengarah pada individu-individu atau kelompok-kelompok aliran.

Berbeda dengan makna Khalifah yang ada di dalam Al-Qur'an di atas, Khilafah dalam konsepsi ideologi politik dan religius Hizbut Tahrir (HT) tidaklah demikian, HT telah menyelewengkan terlalu jauh makna Khalifah yang dipersamakannya dengan Khilafah, dengan menganggap bahwa manusia diciptakan oleh Tuhan untuk menguasai dan memimpin pemerintahan tanpa tersekat-sekat lagi oleh yang namanya negara. Agak mirip dengan impian kaum Komunis memang, yang ingin menghilangkan sekat-sekat negara dan menganggap birokrasi negara tak lain adalah mesin penindas. 

Bagi HT sistem pemerintahan yang tidak berdasarkan Al-Qur'an berarti sistem pemerintahan kafir, karenanya harus direbut atau ditumbangkan sebab HT tidak mempercayai sistem demokrasi, yang berarti pula tidak mempercayai suksesi kepemimpinan yang dilakukan dengan cara-cara demokratis. Mereka memaksakan kehendaknya itu dengan cara apapun, termasuk melalui kontak senjata. Jika demikian bukankah hal itu merupakan suatu hal yang sangat kontradiksi dengan makna dan maksud Khaliafah seperti yang tertera dalam Al-Qur'an? 

Khalifah dalam Al-Qur'an dimaksudkan agar manusia mampu mengelola bumi untuk kelestarian alam, hingga manfaatnya dapat dirasakan oleh semua makhluk yang ada di bumi dan mengantarkannya pada fungsi dan tujuan penciptaannya, tetapi Khilafah dalam HT malah mengobarkan permusuhan sesama warga negara, bahkan permusuhan dengan seluruh umat manusia yang berbeda ajaran agama dan keyakinan dengannya, dengan dalih untuk menegakkan syariat Islam.

Apakah mereka lupa dengan sejarah, Jamaludin Al Afghani yang berusaha memperjuangkan Khilafah yang populer dengan gerakan PAN ISLAMISME, dan Jami'ah Al-Islamiyyah malah menimbulkan peperangan di antara kaum muslimin sendiri?

Akhirnya, penulis ingin mengajukan pertanyaan pada kalian yang mendukung Khilafah Islamiyah, mungkinkah keinginan itu dapat kalian wujudkan? Jika iya, bagaimana caranya? Siapa yang akan memilih dan dipilih menjadi pemimpin kalian? Siapa yang akan kalian angkat pula menjadi penafsir tunggal ayat-ayat Al-Qur'an hingga ada kepastian hukum? Bagaimana mekanisme suksesi kepemimpinannya? Berapa periode yang harus dilaksanakannya? Bagaimana pola pelaksanaan pemerintahan politiknya? Bagaimana pola yang baik untuk kepemimpinannya, sedangkan pola kepemimpinan Abu Bakar, Umar, Ustman dan Ali bin Abi Thalib saja berbeda-beda? 

Lalu dimana lokasi kalian akan memulai mewujudkan impian itu, sadangkan tidak semua pulau di Indonesia mayoritas penduduknya beragama Islam? Bahkan di Jawa yang mayoritas Islampun ada warga NU dan Muhammadiyah yang pastinya akan selalu melawan pemikiran kalian. Pikirkan !...(SHE).

26 Agustus 2019.

* Advokat dan Penulis, Ketua Umum Pimpinan Pusat ORMAS HARIMAU JOKOWI.

Sumber : Saiful Huda Ems

Bagikan: