Tantangan Warga NU Saat Ini Hindari Membalas Ujaran Kebencian

Tantangan Warga NU Saat Ini Hindari Membalas Ujaran Kebencian

Tribunsantri.com - Dengan kemudahan mengakses informasi dan komunikasi di media sosial, beragam hal dengan mudah tersebar. Tidak semata hal yang mengandung nilai positif, juga caci maki dan hujatan, hingga ujaran kebencian turut mengiringi. Terhadap sejumlah hal tersebut, warga Nahdlatul Ulama diuji untuk tidak larut dalam pusaran arus negatif, malah hendaknya mengisi dengan nilai-nilai kebaikan.

Penegasan disampaikan Ustadz Yusuf Suharto pada kegiatan Pendidikan Kader Dakwah Nahdlatul Ulama (PKDNU) yang diselenggarakan di Bandarlampung Mulyo, Jombang, Jawa Timur, Sabtu, (13/7).

Dalam pandangan Pengurus Wilayah Aswaja NU Center Jawa Timur ini, justru dengan sejumlah kemudahan mengakses informasi serta interaksi di media sosial, maka, ini adalah tantangan dslam menghadapi pihak lain yang gemar mencaci. 

“Kalangan yang mencaci tidak perlu dibalas dengan cacian, karena cacian itu bisa keluar dari subtansi persoalan,” katanya.

Lebih lanjut, kandidat doktor di Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang tersebut, dengan membalas kelompok yang kerap menyudutkan Nahdlatul Ulama, maka hal tersebut sejatinya keluar dari semangat jamiyah. "Cacian itu tidak perlu dibalas dengan cacian. Membalas cacian adalah sudah keluar dari berpikir moderat,” ungkapnya.

Secara khusus, alumnus Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif, Denanyar, Jombang tersebut menjelaskan bahwa seandainya ada kabar bohong atau hoaks, maka jangan membalas dengan kabar serupa. 

“Yang dilakukan adalah menyampaikan berita yang sebenarnya, dan menghentikan kabar bohong tersebut,” ujarnya pada kegiatan PKDNU yang dilaksanakan sejak Jumat hingga Ahad (12-14/7)  tersebut.

Pada acara yang mengambil tema Memperkuat Basis NU Jombang dan Meneguhkan Islam Ahlussunah wal Jama'ah itu, Ustadz Yusuf Suharto mengajak peserta untuk memaknai sikap moderat yang menjadi ciri khas NU.

"Bertindak moderat itu membawa kepada kebahagiaan, karena moderat itu sebenarnya paduan moderasi tiga potensi manusia,"ujarnya mengutip Imam Ghazali dalam kitab Mizanul Amal.

Potensi akal yang dimoderasikan akan melahirkan hikmah kebijaksanaan. “Potensi ghadhab atau emosi yang dimoderasikan akan melahirkan syaja'ah yakni keberanian, dan potensi syahwat yang dimoderasikan akan melahirkan 'ffah yaitu penjagaan diri. Kumpulan ketiganya adalah cara berpikir dan bertindak moderat," ujarnya yang berbicara Aswaja dan manhajul fikr.

Di ujung penjelasannya disampaikan bahwa bersikap moderat di zaman sekarang sebagai pilihan meskipun berat. "NU itu organisasi moderat, dan moderat adalah wasathan. Disebut wasith karena berfungsi menengahi dan itu tugas berat,” pungkasnya. 

NUOnline

Bagikan: