Tahun 1922, Kiai Faqih Maskumambang Melawan Wahabi

Tahun 1922, Kiai Faqih Maskumambang Melawan Wahabi

Tribunsantri.com - Namanya KH Faqih Abdul Jabbar, Maskumambang Gresik. Biasa disebut Kiai Faqih Maskumambang. Beliau ini ulama’ besar, walaupun jarang dibicarakan. Usianya 80 tahun (1857-1937). Termasuk salah satu pendiri NU, bahkan menjadi Wakil Rais Akbar NU, atau wakilnya Hadratsusysyaikh KH Hasyim Asy’ari.

Kalau soal usia, Kiai Faqih lebih sepuh dari Kiai Hasyim Asy’ari yang lahir tahun 1875. Keduanya pernah sama-sama belajar kepada Syaikhona Kholil Bangkalan, juga belajar dengan para ulama’ di tanah suci, Mekah dan Madinah.

Datang di Indonesia, keduanya sama-sama berjuang meneguhkan ahlussunnah wal jama’ah. Kiai Faqih sudah sejak awal menengarahi bahayanya aliran Wahabi. Kiai Faqih sudah sadar gerakan Wahabi, dan selalu gelisah untuk melawan aliran Wahabi yang membahayakan umat Islam sedunia. 

Maka, tahun 1922, Kiai Faqih menulis kitab ihwal kritik keras terhadap aliran Wahabi. Kritik ini dilakukan dua tahun sebelum Ibnu Saud menggulingkan Syarif Husein dari kursi kekuasaan tahun 1924. Ibnu Saud menggunakan ajaran Wahabi untuk menguatkan posisi kekuasaannya.

Kritik Kiai Faqih ini juga dilakukan sebelum NU berdiri, tahun 1926. Para kiai pendiri NU sebenarnya sudah melakukan gerakan luar biasa dalam menghadang Wahabi, sebagaimana Kiai Mas Alwi Abdul Aziz yang melakukan riset ke Eropa untuk memahami gejolak moderniasi di dunia Islam.

Kitab yang ditulis Kiai Faqih itu berjudul an-Nushush al-Islamiyyah fi Raddi ‘ala al-Madzahib al-Wahhabiyyah(Sebuah Risalah dalam menolak mazhab Wahabi)  yang semula ingin diberi judul, ar-Risalah bi Taqlid al-Wahhabiyah li an-Nashara al-Brustantiyah li Ajli Mahw al-Madzhib as-Sunniyyah (Sebuah Risalah yang Mengungkap Taklid Golongan Wahabi kepada Kristen Protestan dalam Menghapus Madzhab Sunni). Kitab ini dengan keras menolak Wahabi sebagai madzhab dengan membongkar penyimpangannya sedari Ibn Taimiyah, hingga Abdul Qadir at-Tilimsani.

Kritik dalam kitab ini sangat keras. Apalagi kitab ini diterbitkan oleh penerbit Darul Kutub al-Islamiyah Mesir pada tahun 1922. Publik dunia gempar, karena ada orang Indonesia yang snagat berani melawan Wahabi. Apalagi Mesir juga pusat kajian Islam dan gerakan modernisasi yang digaungkan Muhammad Abduh dan Rasyid Ridho. Nama Kiai Faqih dari Maskumambang Gresik menjadi perbincangan dunia internasional, khususnya di Timur Tengah.

Dalam kitab ini, Kiai Faqih menegaskan bahwa Wahabiyah adalah sebutan kepada suatu kelompok yang dinisbatkan pada pendirinya, Muhammad bin Abdul Wahab yang muncul di Nejd sekitar abad  12 H/18 M. Sejak muncul di tanah Arab, golongan ini telah ditandai para ulama masyhur dengan doktrin mereka yang berbahaya dengan mengafirkan, menghalalkan darah dan harta golongan yang bukan Wahabi. Formulasi ini bisa ditemukan dalam Kitab at-Tauhid karangan Muhammad bin Abdul Wahab sendiri.

Kiai Faqih juga mengkritik salah satu akar pemikiran Wahabiyah, yakni Ibnu Taimiyah. Bagi Kiai Faqih, Ibnu Taimiyah sudah melecehkan Umar bin Khattab, Ali bin Abi Thalib, bahkan sampai Imam al-Ghazali. Semua barisan ulama’ ini sangat dihormati dalam ahlussunnah wal jama’ah terbukti perannya dalam sejarah Islam juga luar biasa, tak bisa dinafikan.

Di samping itu, Kiai Faqih juga mengkritik cara berfikir yang dikembangkan ala Ibnu Taimiyah yang dikembangkan Wahabiyah, yakni literalis yang bertumpu pada al-Qur’an dan Hadits. Melepaskan teks dari konteks, sehingga Wahabiyah mudah sekali mengafirkan sesama Muslim, kebenaran dimonopoli, sementara pihak lain selalu salah dan kelak di neraka.

Kritik keras Kiai Faqih ini menggema di berbagai belahan dunia, apalagi di Indonesia. Mereka yang tersengat oleh kritik ini, kemudian mengecam masyarakat pesantren sebagai kaum tradisional yang jumud dan penuh bid’ah. Ini semua disadari Kiai Faqih, makanya beliau sangat bersemangat ketika pergerakan masyarakat pesantren mendirikan organisasi bernama Nahdlatul Ulama (NU).

Perjuangan Kiai Faqih di NU tidak banyak ditulis sejarah. Tetapi bukunya yang mendunia, juga murid-muridnya yang menjadi ulama’ besar, menjadi saksi bahwa perjuangan Kiai Faqih sangat besar bagi warga NU dan Islam Nusantara. [Bangkitmedia]

Bagikan: