Di HTI Bentrok dengan Ortu, Akhirnya Keluar dan Masuk ke Lesbumi PCNU Surabaya

Di HTI Bentrok dengan Ortu, Akhirnya Keluar dan Masuk ke Lesbumi PCNU Surabaya
Foto sang narasumber yang berkaos hitam bertuliskan "HIZBUT TAHLIL INDONESIA".

Oleh : Dr. Ainur Rofiq Al-Amin

Tribunsantri.com - Kisah ini saya tulis agar bisa menjadi inspirasi bagi yang masih ikut gerakan khilafah supaya sadar. Kemarin pagi,  saat saya berjemur matahari datanglah pria bersepeda motor ke gubuk saya.  Namanya Mas Roni Fauzan dari Kenjeran-Surabaya.

Di masa remaja, lingkungan pergaulannya adalah anak-anak IPNU. Mulai kenal kenal eks-HTI sejak kuliah di UPN. Tahun 2000 dia menjadi daris (tahap sebelum menjadi hizbiyyin). Saat daris, dia aktif mengikuti kegiatan Hizbut Tahrir sehingga pada tahun 2001 disumpah (qosam) menjadi hizbiyyin dan diberi nama haroki menjadi Zaini Azhar.

Baca juga : Ismail Yusanto: Pasca Pemilu, HTI Tetap Tolak Demokrasi

Salah satu yang diingat adalah saat bekerja di sebuah radio terkenal di Surabaya. Waktu itu dia memasukkan tokoh-tokoh HTI seperti dr.Usman, Rahmat S.Labib, Fikri Arsyad, Faqih Syarif Hasyim, dll untuk acara keagamaan di radio itu di bulan Ramadhan. Hal ini secara tidak langsung akhirnya menggeser beberapa da'i dari LDNU yang biasa mengisi ceramah di radio tersebut. Saat ini,  bila ingat kisah itu, dia merasa sangat bersalah.
*****

Kisah lain saya kira tidak perlu diurai lebih lanjut, semisal saat awal menjadi daris pernah mengikuti kajian NII, bahkan katanya juga pernah mengikuti kajian Ustadz Zakaria, Pimpinan Pesantren Al-Islam Desa Tenggulun, Lamongan, saat mengisi kajian di Surabaya. Ustadz Zakaria ini dikenal "dekat" dengan Amrozi. Atau kisahnya pada suatu waktu akan dijodohkan oleh musyrifnya dengan seorang akhwat, tapi dia menolak dengan alasan dia sudah "dekat" dengan mahasiswi IAIN Sunan Ampel.
++++

Baca juga : Wiranto Beri Peringatan ke Eks HTI, Siap-siap Dijerat Hukum Jika Masih Kampanye Anti Pancasila

Kisah yang perlu dijabarkan di sini adalah motif yang menjadi sebab dia keluar dari HTI. Motif tersebut adalah saat menjadi anggota HTI,  dia justeru sering friksi dengan orang tua. Di antara friksi yang dia ingat seperti:

1. Masalah ru'yatul hilal saat lebaran. Seperti diketahui umum bahwa HTI sering beda dengan pemerintah atau ormas lain saat penentuan lebaran dengan alasan ru'yah global. Saat lebaran itu, beberapa kali berdebat dengan ayah dan ibunya yang Nahdliyin. Dia berusaha "memaksakan" pendapatnya. Serta-merta ayah-ibunya menolaknya.

2.  Suatu saat ayahnya menyuruh dia agar  membukakan rekening ke Bank, karena saat itu tangan ayahnya sakit. Tapi dia bersikukuh menolak pergi ke bank, dengan alasan transaksi di bank adalah riba. Hal seperti itu menjadikan sang ayah muram dan sangat kecewa.

3. Selepas ayahnya meninggal pada tahun 2001, HTI yang sebelumnya mengharamkan demonstrasi sebagai aktivitas yang jamak dilakukan dalam sistem demokrasi yang dicap kufur oleh mereka, akhirnya "tergoda" juga mengadakan acara-acara demo (mereka mengistilahkan dengan "masiroh"), terutama setelah peristiwa 9/11/2001 di gedung WTC New York. Dalam acara-acara demo tersebut, musyrif dan beberapa aktivis HTI kerap kali meminjam mobilnya. Suatu saat, selesai suatu acara masiroh, mobil dibawa pulang dalam kondisi kotor. Ibunya jengkel melihat hal itu karena mobil peninggalan ayahnya dipinjam, tapi dikembalikan dalam kondisi kotor. Dia pun ganti mereaksi (menjawab) ibunya atas kejengkelannya, karena baginya masiroh adalah perjuangan. Hingga suatu saat ibunya bercerita bahwa sebelum sang Ayah meninggal dunia masih sangat memikirkan sikap dan perbuatannya yang dianggap terlalu keras dengan ajaran yang diikutinya di HTI. Ibunya juga tak jarang menasehatinya dan berkata, "Ibu gak akan berhenti untuk terus mendoakanmu, agar kembali seperti sediakala".

Baca juga : Siswa MAN 1 Sukabumi Menyesal Kibarkan Bendera Khilafah

Dari cerita ibunya itulah akhirnya menjadikan dia merenung. Dan memang merenung adalah salah satu kunci yang akhirnya menjadikannya "sadar", maka merenunglah wahai penggandrung khilfah!!!

Semenjak merenung itulah, dia tidak disiplin lagi mengikuti halaqah yang biasanya diadakan seminggu dua kali.

Hingga suatu saat sang musyrif yang bernama Sirojuddin menelponnya dan bertanya tentang tidak aktifnya. Dia menjawab, bahwa kebetulan saat itu tidak bisa mengikuti halaqah karena sakit. Tapi sang musyrif tidak percaya.

Maka spontan saja dia dengan kondisi sakit, nekad mendatangi sang musyrif. Dengan akumulasi kekesalan di atas, ditambahi ketidakpercayaan musyrif atas sakitnya, maka dia langsung bilang, "Sekarang juga saya keluar dari HTI..!!!"
****

Saat ini dia menjadi anggota Lesbumi PCNU Surabaya sekaligus juga kontributor di Santrionline. Tak lupa acapkali dia menulis status di akun medsosnya menentang beberapa kejanggalan dari pemahaman Hizbut Tahrir. Katanya, karena berkat doa dari orang tua sekaligus kembali aktif mengikuti kegiatan sebagai Nahdliyin semoga bisa menghapus rasa bersalahnya di masa lalu, yakni pernah menjadi anggota HTI.
*****

Ainur Rofiq Al Amin 

Bagikan: