Amar Ma’ruf Nahi Munkar itu Berdasarkan Cinta, Bukan Pentungan

Amar Ma’ruf Nahi Munkar itu Berdasarkan Cinta, Bukan Pentungan

Tribunsantri.com - Perintah untuk mengajak pada kebaikan dan menolak pada kemunkaran berdasarkan cinta. Seseorang akan menjadi baik atau sebaliknya itu hak prerogatif Allah, sementara tugas manusia hanyalah berdakwah. 

"Hidayah, surga, neraka itu urusan Allah. Tugas kita hanyalah berdakwah. Tapi oleh ulama amar ma'ruf nahi munkar ini dicetak tebal. Perintah Allah ini dasarnya cinta bukan pentungan," kata KH Aunullah A'la Habib dalam Ngaji Kebangsaan yang diadakan PAC GP Ansor Patebon di Lapangan Desa Wonosari, akhir pekan lalu. 

Wasekjen PP GP Ansor yang akrab disapa Gus Aun itu menyoroti maraknya klaim dakwah oleh sejumlah oknum yang tidak disampaikan secara ramah, tapi justru dengan amarah. 

"Nabi dulu sibuk berdakwah mengajak orang masuk Islam, tapi mereka yang mengaku umat Kanjeng Nabi malah sibuk mengkafir-kafirkan sesamanya. Sebenarnya yang dicontoh itu siapa?" tegas Gus Aun.

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Huda, Doglo, Boyolali itu mengajak hadirin untuk meneladani cara berdakwah Wali Songo. Menurutnya ajaran Islam bisa diterima secara luas di Indonesia berkat peran Wali Songo yang berdakwah dengan semangat mengabdi pada masyarakat bukan malah memusuhi. 

Wali Songo, dikatakannya, tidak hanya alim dalam ilmu agama, tapi juga memiliki pemahaman yang menyeluruh terhadap budaya masyarakat Nusantara. Berbekal keilmuan dan kearifan tersebut, masyarakat Nusantara dengan raja-raja yang sudah dikenal luas pengaruhnya itu memberikan kepercayaan. 

Menurut kiai muda asal Boyolali itu, pendekatakan kebudayaan yang dilakukan Wali Songo dalam menyebarkan ajaran Islam menjadikan Islam di Indonesia khas. Banyak bangsa lain iri dengan Indonesia yang terdiri dari beragam suku dan agama, tapi umat muslim bisa hidup rukun berdampingan. Ironisnya belakangan ini malah dipermasalahkan oleh kelompok-kelompok baru yang mengaku sebagai pembawa ajaran Islam. 

"Semangat berdakwah Wali Songo itu yang sampai sekarang masih dipegang oleh ulama NU. Para kiai pesantren ini layak dijadikan teladan, karena setiap perilakunya didasari ilmu dan setiap ilmunya diamalkan," imbuhnya.

Kepada kader Ansor, Gus Aun berpesan untuk terus mengawal perjuangan para kiai dan tidak sekali-kali jauh dari pesantren. Selain itu, para kader didorong untuk bisa menjadi pelayan masyarakat yang siap menghadapi tantangan modernitas tanpa meninggalkan jati diri bangsa.

Sementara itu, Akhmad Shodiq selaku ketua PAC Ansor Patebon mengatakan Ngaji Kebangsaan sebagai puncak dari rangkaian Harlah GP Ansor ke-85 dengan tema "Urip Rukun Aja Gawe Pati lan Larane Lian". Sebelumnya panitia mengadakan pentas budaya yang melibatkan berbagai elemen masyarakat dan pembaretan calon anggota Banser. 

"Tema kerukunan dalam hidup bermasyarakat yang kami angkat pada Harlah Ansor kali ini untuk menegaskan bahwa kami sebagai wadah organisasi para pemuda NU siap untuk terus mengawal ajaran ahlussunah wal jamaah dalam bingkai NKRI yang majemuk," imbuh Misbahul Munir, Sekretaris PC Ansor Kendal. 

NUOnline

Bagikan: