UGM: 12 Petugas KPPS di Yogyakarta Meninggal karena Penyakit Jantung, Tak Ada Indikasi Diracun

UGM: 12 Petugas KPPS di Yogyakarta Meninggal karena Penyakit Jantung, Tak Ada Indikasi Diracun

Tribunsantri.com - Lintas Kajian Disiplin Universitas Gadjah Mada (UGM) mengungkap hasil penelitian terkait penyebab kematian 12 petugas KPPS di Yogyakarta. Hasil penelitian menyatakan penyebab kematian adalah para petugas tersebut memiliki riwayat penyakit kardiovaskular.

"Semuanya disebabkan oleh problema kardiovaskular, entah jantung atau strok, atau gabungan dari jantung dan strok. Jadi sama sekali tidak menemukan indikasi, misalnya diracun, atau sebab-sebab lainnya yang lebih ekstrem," ujar Koordinator Penelitian Abdul Gaffar Karim di gedung KPU RI, Jl Imam Bonjol, Jakarta Pusat, Selasa (25/6/2019).

Gaffar menyebut kardiovaskular dapat dipicu oleh tekanan dan beban pekerjaan yang dialami petugas. Karena beban pekerjaan yang berat, kondisi fisik menjadi menurun.

"Bahwa ada juga tekanan yang datang yang menyebabkan kondisi fisik mereka turun dan itu menjadi faktor penyebab munculnya masalah kardiovaskular itu. Tapi sekali lagi, sebabnya adalah sebab alamiah," kata Gaffar.

"Rerata beban kerja petugas KPPS sangat tinggi sebelum, selama, dan sesudah hari pemilihan," lanjutnya.

Selain itu, adanya kendala bimbingan teknis (bimtek) dan kesehatan yang dialami para petugas. Kemudian riwayat penyakit yang diderita petugas KPPS juga meningkatkan risiko kematian.

"Adanya kendala terkait bimtek, logistik, dan kesehatan. Dampak beban kerja yang terlalu tinggi dan riwayat penyakit sebelumnya menjadi penyebab atau meningkatkan risiko terjadinya kematian dan kesakitan di antara petugas Pemilu," lanjutnya.

Anggota Peneliti dr Riris Andono Ahmad mengatakan penelitian ini dilakukan dengan metode autopsi verbal dengan cara menggali informasi kepada keluarga korban. Berdasarkan survei tersebut, 80 persen penyebab kematian adalah korban memiliki riwayat penyakit. 

"Dari 10 (orang) autopsi verbal, 80 persen itu ternyata mempunyai riwayat penyakit. Riwayat penyakitnya ada diabetes, hipertensi, dan ada penyakit jantung. (Sebesar) 90 persen dari mereka adalah perokok," kata Riris.

Riris menjelaskan, setelah data autopsi verbal diperoleh, pihaknya melakukan diskusi panel di hadapan spesialis kedokteran forensik UGM. Dia menyebut rata-rata petugas yang meninggal berusia 46-67 tahun.

"Setelah melakukan verbal autopsi seluruh kasus kami diskusikan secara panel di hadapan spesialis kedokteran forensik. Dari mereka yang meninggal rata-rata usia 46-67 tahun, jadi memang sudah cukup umur," lanjutnya.

Penelitian yang dilakukan Fisipol, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) serta Fakultas Psikologi UGM ini merekomendasikan beberapa hal kepada KPU untuk mencegah peristiwa meninggalnya petugas KPPS terulang. Salah satu rekomendasinya adalah penerapan tes kesehatan kepada calon petugas KPPS.

"Melakukan pengecekan kondisi kesehatan, baik kesehatan fisik maupun mental, saat proses rekrutmen petugas. KPU diharapkan memberi pelatihan yang lebih optimal kepada para petugas dan diperkuatnya manajemen krisis dalam Pemilu di Indonesia," terang Riris. [Detik]

Bagikan: