Takziah di Pemakaman Ibu Ani, Akhiri 'Perang Dingin' Mega - SBY

Takziah di Pemakaman Ibu Ani, Akhiri 'Perang Dingin' Mega - SBY

Tribunsantri.com - Kehadiran Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarno Putri pada upacara pemakaman jenazah almarhumah Ani Yudhoyono, istri presiden ke 6 RI, Susilo Bambang Yudoyono, diharapkan bisa mengakhiri "perang dingin" antara Megawati dengan SBY pasca Pilpres 2009 dan Pilpres 2014.

Sehingga rakyat Indonesia dapat melihat pemimpin bangsanya bersatu dalam bingkai NKRI dan Pancasila. Perbedaan dalam menentukan pilihan merupakan keniscayaan dan harus dihormati dalam negara demokrasi seperti ini.

Peneliti dan pengamat Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia ( LIPI ) berharap mencairnya hubungan antara Presiden ke 5 dan Presiden ke 6 RI, tidak hanya sebatas di upacara pemakaman ibu Ani, tapi memang didorong oleh keinginan mempersatukan pemimpin bangsa, untuk bersama sama menyelesaukan persoalan bangsa yang sedemikian besar dan rumit.

"Setelah melihat tamu yang bertakziyah, di kediaman Pak SBY dalam hati saya bertanya, Bu Mega datang nggak ya. Ternyata datang pada upacara pemakaman di TMP Kalibata, alhamdulillah," kita Zuhro.

Sebelumnya Ketua Umum PDI Perjuangan yang juga Presiden ke-5 RI, Megawati Soekarnoputri, menghadiri pemakaman Ani Yudhoyono, istri Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta Selatan, Minggu 2 Juni 2019.

Megawati mengenakan busana hitam bersama sang putri, Puan Maharani, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia pada Kabinet Kerja.

Selain itu, jajaran DPP PDIP juga memberikan penghormatan terakhir bagi Ani Yudhoyono di upacara pemakaman yang akan dipimpin Presiden Jokowi.

Sebelumnya, surat duka cita dan karangan bunga ucapan belasungkawa kepada keluarga SBY telah dikirimkan Megawati, pada Sabtu kemarin.

Kehadiran Megawati seolah membalas kebaikan SBY saat mendiang suaminya, Taufik Kiemas dikebumikan di TMP Pahlawan. Kala itu, SBY yang menjabat Presiden ke-6 RI memimpin langsung pemakaman Taufik Kiemas, pada 2013 silam.

'Perang dingin' di antara Megawati dan SBY sudah menjadi rahasia umum. Keretakan hubungan kedua pemimpin partai politik ini mulai tercium pada akhir 2003, ketika SBY memutuskan maju untuk bersaing dengan Megawati dalam pemilihan presiden 2004.

Saat itu, SBY masih menjabat Menteri Koordinator bidang Politik dan Keamanan (Menkopolkam) di era Presiden Megawati. Dia pun sering tampil di televisi untuk sosialisasi pemilu.

Begitu SBY menang Pilpres 2004, Megawati menolak hadir saat SBY-Jusuf Kalla membacakan sumpah presiden dan wakil presiden.

Perseteruan berlanjut hingga usai pemilu. Megawati enggan datang setiap undangan dari SBY, termasuk saat Indonesia menjadi tuan rumah Peringatan 50 Tahun Konferensi Asia Afrika pada 2005.

Pada pemilu 2009, Megawati kembali maju sebagai capres didampingi Prabowo Subianto. Pemimpin PDIP itu lagi-lagi kalah saat bersaing dengan SBY-Budiono.

Hubungan antara SBY dan Megawati makin merenggang. Mereka tak pernah berkomunikasi atau bertemu. Namun tidak dengan Taufiq Kiemas.

Taufiq mendukung SBY usai terpilih sebagai presiden untuk kedua kalinya. Begitu pula SBY di kemudian hari menginstruksikan kadernya di kursi parlemen untuk memilih Taufiq sebagai ketua MPR secara aklamasi. 

Ngipibareng

Bagikan: