Waspadai Bisnis Penggulingan “Rezim”

Waspadai Bisnis Penggulingan “Rezim”

Tribunsantri.com - Mengamati perkembangan politik dalam negeri akhir-akhir ini, sebagai pengamat Timteng, saya langsung melihat persamaan polanya dengan apa yang terjadi di Timteng. Mengapa bisa sama? Ya karena memang para inisiator Arab Spring ‘berguru’ pada konsultan yang sama. Google saja nama NED atau Srdja Popovic. Keduanya adalah proxy dari kekuatan adidaya ekonomi dunia. Saya juga pernah cerita tentang hal ini di buku saya Prahara Suriah, bisa didonlot gratis. 

Revolusi Tunisia dipicu oleh tewasnya Bouazizi (membakar diri). Sebelum Bouazizi, sudah ada beberapa pemuda frustasi yang bunuh diri, tapi 17 Desember 2010 (hari kematian Bouazizi) adalah momen di mana para inisiator demo dengan kekuatan penuh memanfaatkan kematiannya dengan memainkan isu yang memang ‘relate’ (terhubung) dengan keresahan masyarakat umum (misal, kesulitan ekonomi, korupsi elit, dll) sehingga massa bisa didorong untuk turun ke jalan secara besar-besaran. Akhirnya, Presiden Ben Ali tumbang.

Di Mesir, ketika aksi-aksi protes mulai terjadi di awal Februari 2011 (dengan isu kesulitan ekonomi), tiba-tiba saja beberapa orang berkuda dan ber-unta menerobos kerumunan, terjadi kerusuhan, dan  yang dituduh pelakunya tentu saja rezim Mubarak. Aksi-aksi demo semakin tereskalasi, semakin banyak korban berjatuhan, massa semakin marah, demo semakin besar, dan akhirnya, Mubarak tumbang. 

Di Suriah, muncul aksi demo di Daraa (Maret 2011), sebuah kota kecil di dekat perbatasan Yordania. Kisah yang disebar melalui medsos&media mainstream: ada anak muda yang tewas disiksa polisi karena membuat grafiti. Dalam aksi demo itu, ada sniper yang menembak, jatuh korban, baik di pihak massa maupun aparat keamanan. 

Versi media mainstream: “Demo di Daraa memicu aksi protes di berbagai kota lainnya dan dihadapi dengan kekerasan oleh rezim Assad. Dan karena itulah rakyat pun angkat senjata untuk membalas.” Tentu saja awalnya, media mainstream (CNN, BBC, Aljazeera dkk) tidak menyebutkan bahwa yang angkat senjata sebenarnya adalah milisi-milisi Ikhwanul Muslimin, Hizbuttahrir, dan Al Qaida (tahun 2013, ISIS dideklarasikan).

Menurut Irjen Pol. Drs. Suntana, M.Si. (Wakabaintelkam Polri) yang pernah ke Suriah, di awal-awal masa demo itu banyak sekali polisi Suriah yang tewas karena mereka dilarang untuk melawan, akibatnya malah mereka yang diserang massa atau sniper. [beliau cerita di acara Bedah Buku Prahara Suriah di PP Muhammadiyah, 18 Jan 2019]

Cerita Irjen Suntana persis seperti yang pernah saya tulis di berbagai artikel dan di buku Prahara Suriah (2013) berdasarkan penelusuran berbagai berita non-mainstream. Awalnya pemerintah Suriah memang terlalu kalem, demo-demo dibiarkan, polisi dilarang menembak, bahkan tahanan politik (IM, HTI, Al Qaida) dibebaskan demi ‘mengambil hati’ para demonstran.

Bukannya melunak, mereka semakin garang, dan perang Suriah pun berlangsung hingga 8 tahun. 

Sampai saat ini, para teroris (atau “mujahidin”, menurut mereka sendiri) masih bercokol di Idlib, sisa-sisa ISIS masih ada di beberapa lokasi.

Benang merah aksi demo di Timteng dan Indonesia (dalam kasus pilpres) ada 4:

1. Isu ekonomi dipakai untuk membangkitkan kemarahan massa.

2. Isu orang yang “tewas dibunuh rezim” diblow-up besar-besaran melalu medsos.

3. Ada negara adidaya yang berperan di balik layar [2], istilah di Indonesia: ada ‘bohir’-nya.

4. Pelaku demo baik di Tunisia, Mesir, maupun Suriah, banyak orang IM dan HT (di Suriah, mereka bahkan angkat senjata). 

Baik IM maupun HT punya cabang di Indonesia, dan seperti bisa Anda perhatikan, merekalah yang sangat militan menyebarluaskan isu kesulitan ekonomi (=Indonesia dijajah China) dan isu “orang dibunuh rezim” (petugas KPPS yang gugur dalam menjalankan tugas). Bahkan akhir-akhir ini mereka menyebarluaskan narasi yang sangat berbahaya: emak-emak disuruh menimbun bahan pangan dan menarik uang di bank.

Mengapa sangat bahaya? Bila rakyat berhasil dibuat panik, terjadi rush, bank-bank tumbang, sembako mahal dan langka, mereka akan mudah diprovokasi untuk turun ke jalan. Di saat yang sama, sel-sel tidur sudah siap meledakkan bom di mana-mana. Apa yang akan terjadi selanjutnya? 

Syekh Al Buthy sebelum beliau gugur syahid (dibom oleh “jihadis”, tak lama setelah Yusuf Qardhawi, ulama IM, memberikan fatwa di Aljazeera, bahwa wajib membunuh siapa saja yang bekerja sama dengan pemerintah Suriah), menasehati para demonstran Suriah:

“Wahai umat, jangan sekali-kali membuka pintu kemudian kalian memasuki sebuah lorong yang tidak kalian ketahui kemana akhirnya; jangan pernah membuka pintu menuju kehancuran; dimana satu langkah kalian ayunkan akan diikuti oleh langkah lain yang makin membuat kalian terpuruk.” [3]

Yang beliau maksudkan, segera terbukti kebenarannya. Para demonstran Suriah, mengira sedang berjuang tapi akhirnya membuka pintu kepada para ‘penunggang’ dan negeri mereka pun dilanda perang bertahun-tahun.

Dalam ceramahnya yang lain, beliau berkata, “Ketika pintu fitnah dibuka, hanya orang pintar yang tahu ketika awal pintu itu dibuka, sedangkan orang bodoh baru mengetahuinya setelah semua hancur.”

Mari jadi orang pintar, mulai bergerak, nasehati kalangan terdekat untuk jangan coba-coba membuka pintu yang akan membawa kita pada kehancuran. Di grup-grup WA dan medsos, lawan narasi mereka. Ingatlah, negeri ini ibarat kapal, jika tenggelam, semua penumpangnya akan ikut tenggelam.

Oleh : Dina Sulaeman

Bagikan: