Takut Lupa, Bolehkah Niat Puasa Dibaca Sekali Untuk Niat Satu Bulan Penuh?

Takut Lupa, Bolehkah Niat Puasa Dibaca Sekali Untuk Niat Satu Bulan Penuh?

Tribunsantri.com - Niat menjadi salah satu bagian penting dari prosesi ibadah puasa. Tanpa niat, puasa dinyatakan tidak sah.

Bagi yang akan berpuasa, biasanya mereka akan melafalkan niat di malam hari sebelumnya. Dengan begitu, puasa yang mereka jalankan pada siang keesokan harinya dinyatakan sah.

Meski begitu, ada sebagian golongan Muslim yang mengatakan lafal niat puasa dapat dijalankan sekali di awal Ramadan. Lafal tersebut dikatakan berlaku untuk puasa Ramadan selama sebulan penuh.

Lantas apakah benar puasa tetap sah jika pelafalan niatnya dilakukan sekali untuk sebulan penuh?

Terkait persoalan ini, para ulama masih berbeda pendapat. Meski begitu, para ulama empat mazhab sepakat menyatakan niat merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari puasa itu sendiri.

Niat puasa sebulan penuh pada malam awal puasa romadlon hukumya disunahkan.

Sedangkan hukum niat untuk puasa hari-hari setelah hari pertama ulama berbeda pendapat (khilaf) :

1.menurut madzhab syafi'iyah niat puasa untuk sebulan penuh tersebut cukup untuk puasa satu hari yang pertama, sehingga stiap hari puasa romadlonya wajib di niati, jika tidak di niati maka tidak sah puasanya sebulan tersebut kecuali puasa romadlon hari pertamanya.

2. Sedangkan menurut imam Malik niat puasa romadlon untuk sebulan penuh sudah mencukupi, sehingga untuk hari-hari berikutnya tidak wajib niat kembali, yang artinya jika tidak niatpun sudah sah karena niatnya sudah sebulan penuh pada malam hari pertama awal puasa Romadlon tersebut. [ Hasyiya qulyubi wa 'umairoh 2/67, Al majmu' syarah muhadzab 6/303, Hasyiyah al bajuri 1/288 ].

Sedikit mengutipkan dari kitab Kasyifatus Sajaa :

فلو نوى ليلة اول رمضان صوم جميعه لم يكف لغير اليوم الاول ، لكن ينبغى له ذلك ليحصل له صوم اليوم الذى نسي النية فبه عند مالك كما يسن له ان ينوى اول اليوم الذى نسيها فيه ليحصل له صومه عند ابى حنيفة و واضح ان محله ان قلد و الا كان متلبسا بعبادة فاسدة فى اعتقاده و هو حرام    كاشفة السجا ١١٧

Apabila seseorang berniat pada awal malam bulan Ramadhan untuk melakukan puasa keseluruhannya ( 1 bulan full ) maka menurut Madzhab Syafii tidak cukup. Kewajiban niat harus dilakukan pada tiap malamnya. Tetapi menurut pendapat madzhab Maliki niat jamak puasa 1 bulan adalah sunah hal ini untuk menjaga puasa yang lupa tidak diniati. Hal senada juga dikemukakan oleh Madzhab Hanafi. Tapi yang perlu menjadi catatan adalah kita tidak boleh mencampur adukan madzhab. Bila ini dilakukan maka yang terjadi adalah kerusakan ibadah.

Menurut Syafi'iyyah niat puasa sebulan penuh pada malam awal puasa Romadlon hukumya SUNNAH dan hanya mencukupi niat tersebut untuk malam pertama saja sedang bagi Malikiyyah dapat mencukupi pada malam-malam ramadhan berikutnya selama sebulan bila kebetulan ia lupa menjalankan niat.

قَوْلُهُ : ( التَّبْيِيتُ ) أَيْ كُلَّ لَيْلَةٍ عِنْدَنَا كَالْحَنَابِلَةِ وَالْحَنَفِيَّةِ وَإِنْ اكْتَفَى الْحَنَفِيَّةُ بِالنِّيَّةِ نَهَارًا لِأَنَّ كُلَّ يَوْمٍ عِبَادَةٌ مُسْتَقِلَّةٌ وَلِذَلِكَ تَعَدَّدَتْ الْكَفَّارَةُ بِالْوَطْءِ فِي كُلِّ يَوْمٍ مِنْهُ ، وَيُنْدَبُ أَنْ يَنْوِيَ أَوَّلَ لَيْلَةٍ صَوْمَ شَهْرِ رَمَضَانَ أَوْ صَوْمَ رَمَضَانَ كُلَّهُ لِيَنْفَعَهُ تَقْلِيدُ الْإِمَامِ مَالِكٍ فِي يَوْمٍ نَسِيَ النِّيَّةَ فِيهِ مَثَلًا لِأَنَّهَا عِنْدَهُ تَكْفِي لِجَمِيعِ الشَّهْرِ ، وَعِنْدَنَا لِلَّيْلَةِ الْأُولَى فَقَطْ .

(Keterangan niat di malam hari) artinya pada setiap malam dibulan Ramadhan menurut kalangan Kami (Syafi’iyyah) seperti pendapat kalangan Hanabilah dan Hanafiyyah hanya saja dikalangan Hanafiyyah menganggap cukup bila niatnya dikerjakan pada siang hari.

Sebab setiap hari pada bulan Ramadhan adalah ibadah tersendiri karenanya diwajibkan membayar banyak kaffaarat (denda pelanggaran) sebab berkali-kalinya senggama disiang hari disetiap hari-hari ramadhan namun disunahkan dimalam pertama pada bulan ramadhan niat berpuasa sebulan penuh untuk mengambil kemanfaatan bertaqlid pada pendapat Imam Malik yang menganggap niat tersebut mencukupi bila lupa niat pada malam-malam berikutnya disemua malam ramadhan dan bagi kami (Syafi’iyyah) niat yang demikian hanya mencukupi pada malam pertama saja. [ Hasyiyah al-Qolyuby V/365 ]. [Piss-KTB]

Bagikan: