Polri Periksa Video Rapat Rencana Makar 22 Mei yang Bocor

Polri Periksa Video Rapat Rencana Makar 22 Mei yang Bocor

Tribunsantri.com - Polisi tengah menganalisis video diduga rencana makar 22 Mei 2019 yang telah bocor ke publik.

Dalam video tersebut, seorang pria berkumis diduga mantan Danjes Kopassus, memimpin rapat rencana makar saat pengumuman hasil rekapitulasi nasional KPU, 22 Mei 2019 mendatang.

“Sudah saya informasikan ke Direktorat Siber, masih dilakukan analisis,” kata Karopenmas Divisi Humas Mabes Polri, Brigjen Pol Dedi Prasetyo di Mabes Polri, Rabu (15/5/2019).

Dedi menambahkan, polisi masih menunggu laporan masyarakat terkait video rapat diduga rencana makar tersebut.

“Jadi setiap ada dugaan peristiwa seperti itu, Direktorat Siber lebih banyak menganalisis terlebih dahulu,” kata Dedi.

Dalam rapat people power tersebut, kubu 02 berencana untuk mengepung Kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) mulai 20-22 Mei mendatang.

Selain KPU, massa pendukung Prabowo-Sandi juga akan mengepung Istana Negara dan Senayan Jakarta.

“Masuk ke KPU itu tutupin, yang penting kita bawa perlengkapan yang diperlukan, bawa minum,” ucap pimpinan rapat yang diduga pensiunan jenderal, sebagaimana dikutip Pojoksatu.id dari akun Gilank Shakti, Rabu (16/5).

Pria berkumis tebal itu meminta massa 02 untuk membawa kacamata hitam agar bisa bertahan dari serangan gas air mata.

“Mungkin (bawa) kacamata hitam kalau siapa tau lah ya, misalnya yang terjeleknya ada (serangan) gas air mata,” tambahnya.

Pria yang disebut-sebut mantan Danjen Kopassus itu menegaskan, pada saat mengepung KPU, massa cukup duduk menutup Kantor KPU.

Ia berharap massa yang datang pada tanggal 21 di KPU RI bisa mencapai 500 ribu orang hingga 1 juta orang.

“Diharapkan kalau tanggal 20 yang datang baru 100 ribu, tanggal 21 udah jadi 500 ribu atau 1 juta,” imbuhnya.

Pria yang mengenakan kemeja merah marun bergaris vertikal hitam itu mengatakan, jika Jokowi menang, maka KPU, Istana Negara dan DPR atau Senayan harus ditutup.

“Kalau tanggal 22 diumumkan, kalau Jokowi menang, yang kita lakukan adalah tutup itu, KPU tutup. Kemudian mungkin ada yang tutup Istana dengan DPR, Senayan. Kita gak ada ke Monas,” ucapnya.

“Tapi dalam jumlah besar. Kalau jumlah besar, polisi juga bingung. Kalau tentara, yakin dia tidak akan bertindak keras,” sambung dia.

Sebaliknya, jika capres 02, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno menang, massa akan melakukan syukuran di lokasi demo.

“Nanti kalau diumumkan 02 menang, ya kita syukuran aja di situ,” pungkas pensiunan jenderal tersebut. [Pojoksatu]

Bagikan: