KH Raden Abd Mujib Abbas; Refleksi Jelang Haul Masyayikh Buduran

KH Raden Abd Mujib Abbas; Refleksi Jelang Haul Masyayikh Buduran


Oleh : DR. Wasid Mansyur

Tribunsantri.com - Untuk sekian kalinya haul tahunan pendiri dan pengasuh LP Al-Khoziny Buduran Sidoarjo digelar; tepatnya setiap bulan Rajab. Haul dimaknai bukan sekedar momentum mendoakan sebab sewajarnya kita mendoakan beliau-beliau setiap saat mengiringi doa-doa kita kepada orang tua. Orang tua adalah bapak-ibu jasmani atau biologis, sementara para guru-guru kita adalah bapak-bapak rohani yang mengajarkan banyak hal tentang ilmu, kecintaan pada Nabi, dan langka-langka nyata agar kita semakin dekat kepada Allah SWT.

Maka, momentum haul para masyayikh layak dijadikan jalan refleksi bagi kita semua selaku Santri al-Khoziny. Refleksi untuk terus menghayati darah juang beliau-beliau dalam menancapkan visi keislaman yang ramah, baik dalam ilmu maupun dalam praktik kehidupan bersama santri serta masyarakat luas. Memang beliau-beliau lama meninggalkan kita semua, tapi kita meyakini beliau-beliau masih hidup, yang terkadang juga mendatangi kita semua dalam mimpi (untuk mengingatkan). Keyakinan ini sesuai dengan dawuh Syaikh Abdul Wahhab Al-Sya'rani dalam kitabnya al-Anwar al-Qudsiyah, juz 1, 98_99: "bahwa meyakini hidup para ulama dan wali Allah adalah salah satu jalan kita dekat denganNya dan kita dimungkinkan dapat keberkahannya".
Refleksi kali ini, penulis mulai dari dawuh KH. Minan Usman al-Ishaqi Surabaya, ketika sowan beliau bersama para asatidz al-Khoziny (Ustad Sued dan Ustad Ahmad). Kiai Minan mengatakan: dari mana kang?. Kitapun menjawab: kulo rombongan dari Buduran Sidoarjo, Santri al-Maghfurlahu Kiai Mujib Abbas. Tanpa berpikir panjang, Kiai Minan mengomentari sosok Kiai Mujib, yang masih sekamar dengannya __termasuk dengan al-Maghfurlahu KH. Sahal Mahfudh Kajen-- ketika sama-sama nyantri di Sarang Rembang. Kiai Minan Mengatakan: "Kiai Mujib memiliki tarekat luwar biasa, yang sulit ditiru banyak orang. Tarekatnya sejak muda hingga tua sama, yakni pecinta ilmu. Setiap harinya membaca dan morok kitab bersama santri, tanpa banyak terpengasuh hiruk pikuk hidup keduniaan di luar pesantren.

Pernyataan Kiai Minan memberikan gambaran penting dari sosok Kiai Mujib, yang patut menjadi teladan kita semua; teladan soal menjadikan tarekat belajar dan mengajar ilmu sebagai tarekat kelas tinggi yang lahir dari para leluhurnya. Artinya, penyataan Kiai Minan tidak datang tiba-tiba, melainkan bentuk perhatian beliau terhadap perjalanan hidup Kiai Mujib, sebagai teman sepondok; melanjutkan persahabatan yang dekat antara kedua orang tuanya, yakni Kiai Abbas Khozin Buduran Sidoarjo dan Kiai Usman al-Ishaqi.

Pilihan mengabdi pada ilmu adalah tarekat keabadian Kiai Mujib sepanjang hidupnya. Karenanya, baginya ilmu adalah jalan kebaikan menuju dekat kepada Allah. Maka, membaca atau menyebarkan ilmu dengan membaca kitab di depan para santri dan masyarakat luas bertujuan agar ilmu-ilmu ini terus bermanfaat dalam rangka mendekatkan diri kepadaNya. Jika ilmu itu adalah jalan kebaikan, maka belajar dan mengajarnya adalah kebaikan pula. Tanpa ilmu, kualitas hidup ini kurang bermakna sehingga mengamankan kualitas ilmu para santri, dapat diartikan mengamankan kualitas hidup para santri menuju kebaikan, di dunia hingga di akhirat. Dengan tarekat ilmu, sebagaimana pilihan Kiai Mujib, diharapkan terlahir para santri yang menapaki jalan Tuhan tidak tersesat sebab telah dibekali dengan kematangan ilmu dan amal.

Baca juga : Kunci Lancar Rizqi Menurut Gus Muhyiddin

Berkah Bersama Ilmu

Keberkahan hidup Kiai Mujib cukup terasa dengan kesungguhan beliau dalam tarekat ilmu. Salah satu yang menjadi menu bacaan yang rutin dibaca setiap saat, terlebih dalam setiap hataman kilat bukan Ramadhan, adalah membaca kitab Tafsir Jalalain; sebuah tafsir klasik yang ditulis oleh Syaikh Jalaluddin al-Mahalli dan Syaikh Jalaluddin al-Suyuthi.

Bila ditengok dalam tradisi leluhur al-Khozini, nampak jelas bahwa ngaji Kitab Tafsir Jalalain adalah rutinan para sesepuh yang tidak bisa ditinggalkan. Bahkan, Kiai Khozin Khoiruddin, kakek Kiai Mujib, memiliki cerita tersendiri soal rutinan Mengaji kitab Tafsir Jalalain setiap Ramadhan. Kisah yang ikut melibatkan pertemuannya dengan syaikhana Kholil Bangkalan, yang sebelumnya tidak pernah kenal. Hanya sekedar ingin tabarrukan mengaji Tafsir Jalalalin, setelah mendapat intruksi melalui jalur mimpi. Bukan itu saja, cerita ini juga dikaitkan dengan berdirinya stasiun kereta api di Buduran, yang mulanya tidak ada. Kereta api selalu berhenti, apalagi di jam jam atau hari bersamaan mengaji kitab tafsir Jalalain yang dibacakan Kiai Khozin hingga terus ditradisikan oleh putranya, Kiai Moh. Abbas. Hanya saja, penulis belum menemukan sanad keilmuan Kiai Khozin soal tradisi bacanya atas kitab Tafsir Jalalain. Siapakah, guru sanad yang menyambungkan?.

Secara khusus, Kiai Mujib selalu istiqamah setiap ngaji pasanan bulan Ramadhan membaca kitab Tafsir Jalalain, yang biasanya setiap tahunnya 15 Juz atau separuh dari kitab Tafsir Jalalain. Dan tahun berikutnya melanjutkan juz hingga hatam. Terus diulang-ulang ditahun berikutnya. Tanpa lelah dan bosan, Dibaca mulai pagi hingga jelang zuhur, dengan penuh ketelitian membaca, mengartikan ayat demi ayat. Sambil, menguraikan makna dibalik ayat yang dibaca, terkhusus ayat-ayat yang dipandang penting untuk dikaitkan dengan kehidupan masa kini.

Sikap istiqamah ngaji rutinan pagi sangat diakui banyak santri. Sulit ditemukan, ngaji libur di pagi hari. Konon, alkisah, mulanya ada info bahwa dihari tertentu libur sebab semua asatidzh, terlebih keluarga dalem mendapat undangan walimah dari salah satu ustadz senior di pesantren al-Khoziny. Semua santai santai di kamar, bahkan jedingpun ramai antri mendekati jam 7an, yang biasanya ngaji pagi. Tanpa, di duga romo Kiai Mujib, keluar dari dalem sambil memegang kitab-kitab yang biasanya dibaca, sementara Langgar yang menjadi tempat mengaji sepi, untuk tidak mengatakan tidak ada santri.

Belpun berdering, setelah salah satu santri melihat langkah demi langkah penuh keihlasan dari Kiai Mujib menuju arah langgar. Semua santripun ribut, sambil lari-lari, pertanda malu betul betapa sang Kiai tetap datang ke langgar untuk tetap membagi ilmu kepada para santrinya. Dari perbagai penjuru Dar, istilah pengelompokan kamar-kamar di al-Khoziny, para santri berdatangan menuju langgar sambil membawa kitab kuning yang biasa dibacakan Kiai Mujib. Ngajipun dimulai seperti biasa, tapi tidak begitu lama romo Kiai Mujib menghentikan pengajian sebab mau menghadiri Walimah di Madura.

Dengan mengaji yang singkat ini, banyak santri yang "kecelek"' sebab tidak sedikit yang bergerak ke langgar, bahkan mau duduk.menyimak, eee forum pengajian di tutup dengan seksama dan doa. Betapa, malunya kita yang masih muda dan masih ingat cerita ini dalam memori yang sangat membekas. Malu sebab para guru sangat menjaga istiqamah dalam ilmu. Betapa hari harinya, dipandang tidak berkah, jika tidak bergulat dengan ilmu, yang diadopsi dari kitab-kitab kuning yang muktabarah.

Masih banyak cerita soal kesungguhan dan keistiqamahan kiai Mujib dalam ilmu. Momentum haul kali ini harus menjadi pemantik kepada kita agar terus berdo'a sehingga hati dan pikiran kita terus menyambung dengan almamater al-Khoziny. Sambung dengan almamater sejatinya, sambung juga secara batin dengan para guru. Dengan begitu, semoga kebaikan dan keberkahan beliau-beliau, baik ilmu maupun amalnya meluber tanpa henti kepada kita semua hingga dapat menginspirasi kita semua sebagai santrinya agar tetap hidup dalam balutan nilai-nilai Islam Ahl al-Sunnah wa al-Jama'ah dan dalam semangat akhlakul karimah sebagai menjadi pergerakan dan perjuangan para masyayikh sepanjang hidupnya. Hanya dengan ini, hidup kita semoga dalam keberkahan. Al-Fatihah tuk Para masyayikh al-Khoziny. 


*Penulis adalah Alumni Lembaga Pesantren Al-Khoziny Buduran Sidoarjo, Dosen di UIN Sunan Ampel

Bagikan: