Semua Yang Berilmu Sepakat dengan Hasil Munas NU, TGB Jelaskan Makna Kafir Menurut Ulama, Beri Contoh di Kota Suci Mekkah

Semua Yang Berilmu Sepakat dengan Hasil Munas NU, TGB Jelaskan Makna Kafir Menurut Ulama, Beri Contoh di Kota Suci Mekkah

Tribunsantri.com -  TGB Muhammad Zainul Majdi akhirnya memberikan penjelasan tentang makna kata kafir dalam ajaran Islam. TGB Zainul Majid memberikan contoh langsung di Kota Suci Mekkah, Arab Saudi.

Kata kafir kembali ramai jadi pembicaraan sejumlah tokoh.
   
Untuk menjelaskan kata tersebut, ulama yang juga Gubernur Nusa Tenggara Barat dua periode, Tuan Guru Bajang Muhammad Zainul Majdi menjelaskan secara lengkap.

Baca juga : Sama Dengan Hasil Munas NU, Ini Kata Grand Syaikh Al-Azhar Soal Kewarganegaraan Non-Muslim

Penjelasan TGB Muhammad Zainul Majdi mengenai arti kafir atau makna kafir melalui kaun instagramnya, Minggu (3/3/2019) sekitar 10 jam lalu.

Menurut Zainul Majdi, dalam hal akidah, berdasarkan kesepakatan para ulama, kata kafir berlaku untuk siapa pun yang tidak percaya dan ingkar kepada Allah SWT dan rasul-Nya serta pokok-pokok syarat. 

Baca juga : Ketum PP Pemuda Muhammadiyah Sepakat dengan PBNU terkait Pelarangan “Kafir”

Namun demikian, dalam hal muamalah, kata TGB,  "Rasul yang mulia mengajarkan umatnya untuk membangun hubungan saling menghormati dengan siapapun."

TGB Zainul Majdi pun sampai menunjukkan foto di Arab Saudi untuk menjelaskan penggunaan kata non-Muslim bukan kata kafir saat akan memasuki kota suci Mekkah, Arab Saudi

Baca juga : Kiai Muqsith Ghozali : Kalau Jawaban Ini Tak Juga Bisa Dipahami, Maka Harus Ngaji Lagu





• • Kesepakatan ulama, istilah kafir berlaku untuk siapapun yang tidak percaya dan ingkar pada ALLOH dan RasulNya serta pokok-pokok syariat. Ini dari sisi akidah. • Namun dalam muamalah, Rasul yang mulia mengajarkan umatnya untuk membangun hubungan saling menghormati dengan siapapun. Maka, saat hijrah, Rasul shallallahu alayhi wasallam menyepakati piagam bernegara bersama seluruh komponen di Madinah. Dalam piagam itu ada hak dan kewajiban yang sama. Kata kafir tidak digunakan dalam piagam itu untuk menyebut kelompok-kelompok Yahudi yang ikut dalam kesepakatan itu. Karena piagam Madinah bukan tentang prinsip akidah tapi tentang membangun ruang bersama untuk semua. • Sekarang kita hidup di negara-bangsa, Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dan salah satu bentuk persaudaraan yang wajib dijaga dengan sesungguh hati dan sekuat-kuatnya adalah persaudaraan sebangsa, ukhuwah wathaniyah. • Penyebutan kepada saudara sebangsa harus berpijak pada semangat persatuan dan persaudaraan. Maka menyebut orang yang beragama lain dengan sebutan non muslim tidak keliru dan bahkan lebih sesuai dengan semangat kita berbangsa. • Itu sebabnya, dalam beragam acara publik, saat seorang muslim memimpin doa dia mengawali dengan ucapan, "ijinkan saya membaca doa secara Islam dan bagi saudara yang non muslim agar menyesuaikan". Kalau kata non muslim diganti kafir tentu sangat tidak nyaman untuk saudara-saudara yang beragama selain Islam. • Foto diatas adalah penanda saat akan memasuki Tanah Suci Kota Mekkah. Disitu tertulis : ‎لغير المسلمين bukan للكافرين dan tertulis pula : " for non muslims " bukan " for disbelievers " atau " for kafir ". Bahkan di Arab Saudi pun, sebutan "non muslim" dipakai.
Sebuah kiriman dibagikan oleh Dr. TGB. Muhammad Zainul Majdi (@tuangurubajang) pada


@tuangurubajang: Kesepakatan ulama, istilah kafir berlaku untuk siapapun yang tidak percaya dan ingkar pada ALLOH dan RasulNya serta pokok-pokok syariat. Ini dari sisi akidah. 

Namun dalam muamalah, Rasul yang mulia mengajarkan umatnya untuk membangun hubungan saling menghormati dengan siapapun.


Maka, saat hijrah, Rasul shallallahu alayhi wasallam menyepakati piagam bernegara bersama seluruh komponen di Madinah.


Baca juga : Ini Kata UAS Soal Video Dirinya Tanggapi Polemik Kafir


Dalam piagam itu ada hak dan kewajiban yang sama. Kata kafir tidak digunakan dalam piagam itu untuk menyebut kelompok-kelompok Yahudi yang ikut dalam kesepakatan itu.


Karena piagam Madinah bukan tentang prinsip akidah tapi tentang membangun ruang bersama untuk semua. 


Sekarang kita hidup di negara-bangsa, Negara Kesatuan Republik Indonesia.


Dan salah satu bentuk persaudaraan yang wajib dijaga dengan sesungguh hati dan sekuat-kuatnya adalah persaudaraan sebangsa, ukhuwah wathaniyah. 


Baca juga : Munas NU: Status Non Muslim Tetap Kafir, Namun Jangan Panggil Mereka 'Kafir'


Penyebutan kepada saudara sebangsa harus berpijak pada semangat persatuan dan persaudaraan.


Maka menyebut orang yang beragama lain dengan sebutan non muslim tidak keliru dan bahkan lebih sesuai dengan semangat kita berbangsa.


Itu sebabnya, dalam beragam acara publik, saat seorang muslim memimpin doa dia mengawali dengan ucapan, "ijinkan saya membaca doa secara Islam dan bagi saudara yang non muslim agar menyesuaikan". 


Kalau kata non muslim diganti kafir tentu sangat tidak nyaman untuk saudara-saudara yang beragama selain Islam.


Foto diatas adalah penanda saat akan memasuki Tanah Suci Kota Mekkah. Disitu tertulis : ‎لغير المسلمين

bukan للكافرين
dan tertulis pula :

" for non muslims " bukan

" for disbelievers " atau " for kafir ". 

Bahkan di Arab Saudi pun, sebutan "non muslim" dipakai.


Sebelumnya, Ketua Umum PBNU, KH. Said Aqil Siroj menyebutkan beberapa hasil Bahtsul Masail yang dinilai penting untuk diketahui masyarakat, terutama bagi warga Nahdliyin. Pertama, perihal istilah kafir.

Kiai Said mengatakan, berdasarkan hasil Bahtsul Matsail istilah kafir tak dikenal dalam sistem kewarganegaraan pada suatu negara bangsa.
Sebab itu, tak ada istilah kafir bagi warga negara non-Muslim.

Dan sebab itu pula, setiap warga negara mempunyai kedudukan yang sama di mata konstitusi.

“Istilah kafir berlaku ketika Nabi Muhammad di Makkah untuk menyebut orang-orang penyembah berhala yang tidak memiliki kitab suci, yang tidak memiliki agama yang benar.

Tapi, setelah Nabi Muhammad hijrah ke Kota Madinah, tak ada istilah kafir untuk warga negara Madinah yang non-Muslim.

Ada tiga suku non-Muslim di sana, tapi tak disebut kafir,” katanya dalam kegiatan Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (Munas-Konbes NU) 2019 di Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar, Banjar, Jumat, 1 Maret 2019. [WK]

Bagikan: