Prabowo 'Kawin' dengan Pro Khilafah, Kita Tak Boleh Diam

Prabowo 'Kawin' dengan Pro Khilafah, Kita Tak Boleh Diam

Tribunsantri.com – 'Perkawinan' antara Prabowo dengan kelompok yang menginginkan negara ini menjadi NKRI Bersyariah atau menganut sistim khilafah membuat semua pihak yang peduli dengan negara ini gusar. Bagaimana tidak, Prabowo yang notabenenya tidak memiliki latarbelakang keislaman yang baik justru bermesraan dengan kelompok makar yang faham keagamaannya bertolak belakang dengan mayoritas umat Islam Indonesia. 

Selama ini mereka terkucilkan karena mayoritas penduduk Indonesia menjunjung nilai-nilai toleransi antar sesama dan menganggap sistim yang ada sudah sesuai dengan syariat. NKRI harga mati yang tak bisa ditawar-tawar lagi. 

Namun, di pilpres kali ini, mereka yang sebelumnya terkucilkan, mulai berani unjuk gigi bergerak secara kompak mendukung Prabowo. 

Celakanya, Prabowo malah menampung mereka dan menganggap tidak ada yang salah dengan mereka. 

Lihat saja bagaimana komentar Badan Pemenagan Nasional (BPN) soal mobil yang dipakai Prabowo dalam kunjungannya ke Cianjur. Mobil itu milik Chep Hernawan, ketum Gerakan Reformis Islam (Garis). Semua orang sudah tahu siapa Chep ini. Tapi, BPN tak risih dengan hal itu. Andre Rosade selaku jubir BPN tak mempermasalahkan status Chep. Menurutnya, Chep bukan terduga teroris. 

Tentu, banyak pihak yang gusar dengan ulah Prabowo, salah satunya seorang netizen bernama Amirsyah yang menulis catatan berikut ini :

Lihatlah ke kawasan Arab sana. Sama-sama bangsa Arab, Bahasanya Arab juga, Agamanya mayoritas sama pula. Tetapi mereka terpecah-pecah menjadi negara-negara kecil. 

Tengok sana yang namanya India, Pakistan, Bangladesh. Dulu mereka jadi satu sebagai India, berjuang bersama agar merdeka dari penjajahan. Baru saja merdeka, Pakistan memisahkan diri jadi negara sendiri, dengan alasan agama yang berbeda. Tak lama kemudian, Pakistan pun terpecah lagi dimana Bangladesh memisahkan diri dari Pakistan, padahal mayoritas agamanya sama. 

Bersyukurlah kita di NKRI. Banyak suku bangsa, banyak bahasa yang berbeda, macam-macam agama dan kepercayaan, mendiami pulau-pulau yang berlainan, daerah-daerahnya memiliki mayoritas agama/suku yang berbeda dari daerah yang lainnya. Tapi kita semua mau (bisa) bersatu, bergotong royong, hidup harmoni dalam kedamaian. 

Pejuang & Founding Fathers NKRI terdiri dari agama, suku, bahasa yang berbeda-beda. Mereka taat beragama, juga banyak yang pendeta, kyai dan ulama yang sangat tinggi ilmunya. Mereka sepakat Pancasila adalah Dasar Negara. NKRI milik semua agama, suku, bahasa dalam posisi yang setara. Hasilnya, NKRI mulai diperhitungkan dunia. Ekonominya meski tertatih, tetap membuat kagum negara-negara seluruh dunia. Mereka waspada, karena kita besar, kita banyak, kita masih ada banyak sumber daya yang belum dimanfaatkan. 

Tapi sejak dulu hingga sekarang, selalu ada pihak serakah yang ingin mencerai-beraikan Indonesia. Mereka bergerak melalui organisasi massa, partai politik, baik terang-terangan atau sembunyi-sembunyi sebagai pendompleng. Tinggal tunggu waktunya mereka total perang menyerang. 

Bahkan agama yang mengajarkan sikap mulia pun dicatutnya untuk membenarkan tindakan kotor, keji, fitnah, hoax, kebiadaban. Bagian masyarakat yang bodoh & tertipu tetap militan mendukung hingga berkorban meskipun jelas terlihat kejahatan kedzaliman dan angkara murka. Yang senang, kaya, hidup makmur jelas hanya elit-elitnya saja. 

Yang tetap cinta NKRI Pancasila Bhinneka Tunggal Ika, harus berusaha sekuat tenaga melawan mereka. Jangan biarkan mereka leluasa bergerak menggerogoti Ibu Pertiwi, lawan mereka sekuat-kuatnya demi masa depan anak cucu kita, jangan biarkan mereka menang! 

#LoveSaveNKRIPancasilaBhinnekaTunggalIka [tribunsantri.com]

Bagikan: