Penumpang Gelap, Kalau Tidak Cocok Silahkan Pindah Kapal, Jangan Ngaku Pengurus tapi Bikin Rusuh

Penumpang Gelap, Kalau Tidak Cocok Silahkan Pindah Kapal, Jangan Ngaku Pengurus NU tapi Bikin Rusuh

Tribunsantri.com - Saya sering menghubungkan tokoh-tokoh NU, dengan Maulana Habib Luthfi bin Yahya. Persoalannya bermacam-macam. Baik menyangkut antar pribadi maupun urusan organisasi. Tapi semuanya mempunyai spektrum besar bagi NU. Dan dampaknya destruktif sekali jika bocor ke publik. 

Salah satunya saya coba kisahkan disini. Seorang tokoh, DM ke salah satu medsos (media sosial) resmi beliau. Menggunakan bahasa Arab. Tokoh ini mengkonfirmasi soal info yang ia dapatkan dari pihak ke 3, bahwa ada pernyataan Maulana yang merugikan pribadi dan keluarganya. Sang tokoh menanyakan apa betul ada pernyataan demikian. Pertanyaan itu disampaikan dalam bahasa Arab yang sangat baik dan sopan. 

Baca juga : Miris, Selalu Membawa Statusnya Sebagai Pengurus NU, Tapi Tak Pernah Membela NU

Segera saya sampaikan ke Maulana Habib Luthfi. Beliau kaget, kemudian beliau mengimlakan (dikte) jawaban dalam bahasa Arab. Saya langsung ketik sebagai balasan. Salah satu jawabannya, beliau tidak membuat pernyataan itu. Dan beliau mengatakan, sejak muda, biasa ada yang memfitnah seperti itu. Jadi tidak heran. 

Keduanya saling respon. Dengan penuh sopan santun. Meskipun sudah dijawab, beliau menugaskan saya ke kediamannya. Untuk mengklarifikasi. Esoknya saya ada perkuliahan full dua hari. Beliau telepon saya, saya posisi di Jogja, beliau Maulana di Jakarta. Beliau menanyakan apa sudah sowan ke sang tokoh. Kalau belum tidak mengapa, soalnya ada acara di PBNU, insya Allah bertemu. Dan pada hari yang sama setelah telepon, beredar foto pertemua kedua tokoh itu, bahkan tokoh lain di PBNU. 

Baca juga : Pengasuh Pesantren Lirboyo: Meskipun Mengaku NU, Jangan Percaya Kelompok yang Tak Akui NU, Karena Mereka Wahabi

Saya sering mengalami kejadian serupa ini. Meskipun semua tokoh itu adalah putra terbaik, dan semuanya mukhlisun, selain mempunyai keilmuan sangat mumpuni, lurus dan rendah hati, tapi dinamika yang terjadi dibalik layar cukup serius. Antara tokoh ada persamaan cara pandang, ada juga perbedaan. Ada kesamaan strategi dakwah banyak juga perbedaan. Gesekan terjadi dalam perbedaan itu. Saya rasa tidak pantas kalau saya menyebut nama dan menyebut kasus perkasus. 

Kalau ngomong cocok-tidak cocok, antar tokoh kita yang tinggi ilmunya, permasalahannya lebih kompleks dari cocok tdak cocok yang Ada dikepala Anda. 

Baca juga : Keberkahan Bagi yang Bela NU, Kehancuran Bagi yang Ganggu NU

Jangankan ulama kita, diantara sahabat juga demikian. Contohnya, sering sekali umul mukminim Sayidina Aisyah merespon riwayat para sahabat sepeninggal Rasulullah saw, لم يحفظ ابو هريرة, menderngar seorang sahabat meriwayatkan dari Abu Hurairah, mengatakan, "bukan begitu, itu Abu Hurairah tidak hafal hadis sebenarnya". Kadang juga Aisyah mengomentari Ibn Umar, غلط ابن عمر, Ibm Umar keliru (dalam meriwayatkan hadir). Jadi perbedaan itu wajar. Namanya juga manusia. Tapi Sayidah Aisyah tidak melarang orang ngaji ke Abi Hurairah atau ke Ibn Umar. Mungkin salah dalam satu dua hal, tapi tidak seluruh ajaran dan kehidupannya salah.

Baca juga : KH Idris Marzuki : Siapapun yang Memusuhi NU, Kalau Wali akan Luntur Kewaliannya, Kalau Tokoh Berpengaruh Akan Kehilangan Pengaruhnya

Tetapi yang saya pelajari dari beliau semua, para kiyai NU asa dua kekhasan yang jarang dimiliki tokoh lain. Pertama munshif (منصف), dalam perbedaan yang tajam tapi mengakui keutamaan dan kelebihan yang miliki orang yang berselisih dengannya. Kita biasanya, atau saya, kecenderungannya kalau tidak cocok dalam satu hal, maka orang tersebut sakan tidak punya sisi positif atau kelebihan sama sekali. 

Nah tokoh-tokoh kita tidak. Berbeda tajam dalam satu hal tapi bersepakat dalam lebih banyak persoalan. Dan mengakui kapasitas dan ketokohan masing-masing.

Baca juga : Kenapa NU Masih Tetap Berdiri Sampai Saat Ini?

Kedua, para tokoh kita, para ulama kita, kiyai kita, menjaga nama baik NU, soliditas NU dan menguatkan organisai ini sekokoh-kokohnya yang mereka bisa. Tidak ada yang menjelekan satu tokoh, atau menyalahkan keputusan organisasi di publik. Seperti Maulana Habib Luthfi, bahkan tokoh NU yang berkiprah dari bawah, atau yang dibesarkan oleh keluarga dan tradisi NU berpesan, "Kalau tidak cocok dengan  salah satu tokoh NU, jangan serang tokohnya didepan publik, jangan menjelek-jelekan NU, karena pengurua NU itu akan berganti-ganti, tetapi dampak dari sikap menyalah-nyalahkan itu akan mengurangi kewibawaan NU, dan tidak akan pulih dengan silih bergantinya kepengurusan".

Oleh karenanya, apapun gelarnya, kalau sudah mengkritik tokoh NU, keputusan NU, dihadapan publik bagi saya dia bukan NU, meskipun tertulis namamya dikepengerusan NU, baik PB, PW, PC atau bahkan tingkat ranting, tapi PENUMPANG GELAP.

PENUMPANG GELAP sebaiknya pindah kapal, cari yang nahkodanya cocok dengan faham dan fikih dakwahnya. Jangan ngaku penguras-pengurus tapi bikin rusuh. Kalau betul NU, pasti sadar statmen-statmen seperti itu dijadikan rudal untuk menghantam NU. 

Baca juga : Kalau Tashrif Saja Tak Bisa, Bagaimana Bisa Memahami Topik Berat Seperti Jihad, Kafir Dll? Belajarlah Sebelum Ditokohkan!

[Apa benar Bib Tofiq mengeluarkan statmen di meme ini? Ada yang bisa menjawab?]


Penumpang Gelap, Kalau Tidak Cocok Silahkan Pindah Kapal, Jangan Ngaku Pengurus NU tapi Bikin Rusuh

Oleh : Ahmad Tsauri 
5 Maret 2019 

Bagikan: