Jangan Terburu-buru Menyalahkan, Ini Penjelasan LBM Jatim Soal Status Non-Muslim di Munas NU

Yang Belum Paham Jangan Terburu-buru Menyalahkan, Ini Penjelasan LBM Jatim Soal Status Non-Muslim di Munas NU


Tribunsantri.com - Klarifikasi dari salah satu LBM PWNU Jatim yang berada di komisi Maudluiyah Munas NU, Kyai Arif Uddin Abi Hanaya dan Mustahiq (pembimbing) saya di Ploso Kediri:

Status Non-Muslim dalam Munas NU

Perlu saya jelaskan terkait hal Bahtsul Masail tersebut, kebetulan sekali saya ikut langsung dalam forum bahtsul Masail terswbut. Karena ternyata sudah banyak yang salah paham. Dan bahkan menghujat NU. Padahal mereka tidak tau masalah yang kronologi masalah yang sebenarnya

Baca juga : Tanggapan Gus Ghofur Mimoen Soal Kata "Kafir" : Ungkapan Non Muslim Bukan Kafir Kesimpulan Pribadi Muqsith

Dalam bahtsu kemarin tidak ada yang menyatakan non muslim di Indonesia tidak disebut kafir tapi yang benar tidak bisa dikategorikan kafir dzimny, kafir mustaman, kafir mua'had dan  haroby. Ini bukan berarti mereka tidak kakafir.

Ibarot yang dibacakan hanya menyatakan orang-orang non Muslim yang tidak  memerangi Islam hidup damai dengan kita adalah Musalimin (ini mungkin istilah yang baru dalam konteks fiqh)  yang kemarin oleh musyawirin disepakati non Muslim Indonesia adalah warga negara biasa yang tidak boleh dimusuhi, mereka punya hak yang sama dengan kita dalam konteks kenegaraan. 

Baca juga : Munas NU: Status Non Muslim Tetap Kafir, Namun Jangan Panggil Mereka 'Kafir'

Ada satu ibarot kitab yang menjelaskan bahwa memanggil  kafir kepada orang-orang non Muslim yang tidak memusuhi kita, jika kata-kata itu menyakitkan mereka, hukumnya tidak boleh. 

Tapi ini tidak berarti menghilangkan status non Muslim sebagai kafir dalam i'tiqod (keyakinan) kita. 

Hanya saja kata-kata kafir itu  gak perlu kita florkan dan kita labelkan kepada mereka secara terang-terangan karena akan menyakiti mereka. 

Jadi tolong sebagai warga NU bisa menjelaskan masalah ini. 

[Ma'ruf Khozin]

Bagikan: