Ada yang Mau Membajak Hari Santri, Kita Harus Lawan !

Ada yang Mau Membajak Hari Santri, Kita Harus Lawan !

Tribunsantri.com - Hari Santri Nasional (HSN) adalah hari peringatan Santri Nasional. Kuku-kuku legitimasi tajam pemerintah telah menancapkan  keputusan untuk HSN di bumi Nusantara ini. Sebagai bunga hadiah penghargaan terhadap santri atas jasa jasanya ikut membangun dan mempertahankan Negeri ini dan tak seorang dari pihak manapun mampu menggugatnya.


HSN merupakan momentum spektakuler sejarah yang tak pernah ada pada masa-masa pemerintahan sebelumnya. Hingar bingar HSN menjadi mercusuar kewibawaan eksistensi para santri dalam mengekspresikan hakekat kewalitas dan citra kesantrian agar tidak dipandang sebelah mata oleh masyarakat yang belum memahami makna dan hakikat santri yang sebenarnya.


HSN tidak semata mata hadir ditengah kita dengan keindahan lampion kejernihanya  bukan tanpa sebab musabab. So yang jelas dan yang perlu dipahami oleh kita semua adalah bahwa akar terwujudnya HSN dengan fakta jelas sebagai berikut yakni :


Sanadnya jelas.

Perowinya jelas.
Silsilahnya jelas.
Riwayatnya jelas.
Penggagasnya jelas.
Ide idenya jelas.
Legetimasinya jelas.

Semua jelas ! jelas dari mana ? Jelas dari NU  sanadnya dari NU Istilahnya dari NU Silsilah pendiri dan penggagasya jelas dari pengurus PBNU, riwayat latar belakangnya jelas mengangkat marwah santri. Bukan dari yang lain, kalau ada yang sok mengaku bahwa HSN itu adalah ide dan gagasanya. Walapun dari seorang pendiri dan petinggi pertai walaupun agamis berasaskan Islam nggak usah dipercaya ! Justru anak buahnya pengaku tersebut sempat melempar tudingan hari santri sinting . Astagfirullohaladzim !


Karena pengakuan itu bukan hanya " Plagiatisasi " tapi tidak lebih dari pembajakan yang dalam istilah ilmiyahnya adalah pencurian HKI (hak kekayaan intlektual) orang lain dengan menghilangkan nama pemiliknya. Ini persoalan besar yakni persoalan tentang kejujuran publik dan moralitas plagiator HKI tersebut. Apalagi plagiatisai HSN hanya karena tujuan dan ambisi mengintersted suara warga Nahdliyin dan melambungkan dulangan suara dalam politik pilpres kemudian membajak HSN. Setelah berhasil NU ditinggal seperti "nyurung mobil mogok" Naudzu billah.


Semua bentuk plagiatisasi dan pembajakan aset NU harus kita lawan dan hari ini warga NU sudah saatnya harus cerdas. Artinya memahami strategi perapuhan dan pengkerdilan suara dari siapapun dan pihak manapun yang memandang sentimen dan sinis terhadap kehormatan dan kewibawaan NU. Membela dan memperjuangkan NU itu kewajiban kita untuk kepentingan keselamatan kita dumia akherat. 


Karena kita butuh NU dalam prespektif barokahnya bukan NU yang butuh kita itu yang harus kita pahami karena kita ingin menjadi santri dari santrinnya Mbah Hasim yang jelas bukan Hasyim djoyo kusumo tapi Mbah Hasyim Asy,ari..Hehehe ..Semoga perjuangan kita barokah amin.


Share and share kawan..


Lamongan 24 3 2019


Oleh : Abdulloh Faizin

Bagikan: