Soal Doa Neno Warisman, Prabowo-Sandiaga Didesak Segera Minta Maaf

Soal Doa Neno Warisman, Prabowo-Sandiaga Didesak Segera Minta Maaf

Tribunsantri.com - Anggota Tim Kampanye Nasional, Jokowi-Ma'ruf, Habib Sholeh Al Muhdar mengkritik acara munajat 212 yang digelar pada 21 Februari 2019 lalu. 

Menurut dia, bermunajat adalah berdoa sepenuh hati, suci, berendah hati, indah, karena di dalamnya ada pengharapan keridaan, ampunan, bantuan, dan hidayat dari Allah SWT.

Baca juga : Pendiri PAN: Neno Warisman Anggap di Luar 212, Termasuk NU dan Muhammadiyah Kafir

Tetapi, lanjut Habib Sholeh, doa yang diucapkan Neno Warisman dalam acara itu tidak menggambarkan suatu pengharapan, justru mengancam Allah SWT. Neno merupakan anggota Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga.

"Kami sangat menyesalkan doa yang mengancam Allah SAW. Tim Prabowo-Sandi harus bertanggung jawab. Cara-cara yang dipakai Neno Warisman menodai Islam. Saya melihat bahwa itulah karakter dukungan HTI yang berada di belakang Prabowo-Sandi," kata Habib Sholeh.

Baca juga : Majelis Syuro PKS Ziarah Makam Wali dan Tahlilan, Warga NU Diminta Hati-hati Manuver Politik PKS

Habib Sholeh pun tidak terima dengan doa Neno Warisman yang kini ramai diperbincangkan publik. Dia mengaku selama belajar agama di pondok pesantren, belum pernah mendengar doa seperti doa Neno Warisman dan tak juga bisa menemukan dalil yang tepat untuk membenarkan doa Neno.

Dia menilai, doa Neno sangat provokatif. Dia menyayangkan, seorang penceramah seperti Neno malah bedakwah dengan isi yang menghasut.

Baca juga : [Video] Sugi Nur Tantang Duel Kabid Humas Polda Jatim

"Bagaimana mungkin seseorang yang disebut ustazah mengancam Allah SWT dalam doanya. Apalagi konteksnya adalah urusan politik, teriris hati ini melihat ada penceramah yang 'menjual' Islam dan Allah SWT hanya demi hasrat berkuasa," jelas dia.

Dia mengajak dalam Pilpres 2019 tak lagi ada pihak yang 'menjual' agama demi kepentingan politik.

"Neno dan Tim Prabowo-Sandi sebaiknya segera minta maaf pada masyarakat atas ceramah-ceramahnya yang dianggap melenceng," tambah dia.

Baca juga : Kiai Ma'ruf Amin: Pilpres 2019 Perang Ideologi antara Kelompok Moderat dan Radikal

Sementara itu, Jubir BPN, Andre Rosiade mengatakan, puisi Neno mengutip doa Rasulullah saat menghadapi perang badar. Puisi itu ditujukan kepada umat Islam secara umum, bukan dalam konteks politik.

"Puisi Mbak Neno tidak ada hubungannya dengan capres. Mbak Neno berpuisi dan mengutip doa Rasulullah di perang badar, ditujukan untuk umat Islam secara umum, tidak ditujukan untuk kontestasi pilpres," tegas Andre.

Baca juga : Tak Mau Partainya Mati Gara-gara Dukung Prabowo-Sandi, SBY Bebaskan Kader Demokrat Dukung Jokowi-Kiai Ma'ruf

Dia curiga ada pihak yang sengaja menggoreng isu tersebut menjadi menyudutkan Prabowo-Sandiaga dalam Pilpres 2019. Sebab, Andre menegaskan, puisi Neno ditujukan kepada umat Islam pada umumnya.

"Cara-cara ini sama dengan ada tukang goreng menggoreng tampang Boyolali, ojek online, puisi Fadli Zon. Ini kan modus operandi yang hampir sama, pelaku tukang gorengnya sama, jadi yang tidak ada hubungan dihubung-hubungkan," terang Andre lagi.

Andre juga menekankan, kehadiran Neno di acara munajat 212 sebagai pribadi. Bukan perwakilan BPN Prabowo-Sandiaga.

"Mbak Neno datang ke situ sebagai pribadi, tidak ada urusan dengan BPN. Lagian juga acara munajat 212 itu semacam acara doa bersama, enggak ada urusannya dengan kontestasi pilpres dan enggak ada urusan dengan BPN," tambah dia. [Mdk]

Bagikan: