Mengapa Warga NU Harus Pilih Jokowi – KH Ma’ruf Amin? (3)

Mengapa Warga NU Harus Pilih Jokowi – KH Ma’ruf Amin? (3)

Tribunsantri.com - Ini memang masih berbau kampanye, boleh dibaca boleh tidak. Afwan bagi yang terganggu.

Pilpres 2019 sebenarnya sama persis dengan Pilpres 2014 lalu. Tidak ada opsi lain seperti halnya pada Pilpres 2004 silam. Calon presidennya kali ini sama. Sementara calon Nahdliyin ada bersama Jokowi. 

Baca juga : Mengapa Warga NU Harus Pilih Jokowi-Kiai Ma'ruf Amin?

Dulu ada Jusuf Kalla, Mustasyar NU yang juga putra H Kalla, pendiri NU di Sulawesi Selatan yang mendampingi Jokowi. Sekarang, perwakilan NU adalah KH Ma’ruf Amin, Rais Aam atau pemimpin tertinggi NU yang sebelumnya telah melepaskan jabatannya sesuai ketentuan AD/ART NU pasca kembalike khittah 1926. 

Dari sisi konsolidasi, sebenarnya tahun 2019 ini warga Nahdliyin sangat solid. Berbeda dengan tahun 2014, nyaris tidak ada tokoh NU yang mendukung pasangan sebelah. Fragmentasi suara Nahdliyin nyaris tidak ada.

Baca juga : Mengapa Warga NU Harus Pilih Jokowi – KH Ma’ruf Amin? (2)

Bagi Nahdliyin, beban hajatan pilpres 2019 ini juga lebih ringan, karena saudara tua Muhammadiyah tidak banyak terlibat dalam hiruk-pikuk ini. Pada pemilu 2014 lalu masih ada Hatta Rajasa yang tetap saja merepresentasikan suara Muhammadiyah. 

Calon presiden kubu sebelah saat ini hanya berasal dari satu partai politik, dan beberapa partai pendukungnya hanya mendukung setengah hati karena dukungan kepada salah satu capres-cawapres itu menjadi syarat untuk ikut berkontestasi dalam pemilu.

Sebagai organisasi dengan basis massa Islam, bagi NU pilihan pasangan Jokowi-KH Ma’ruf Amin juga jelas Islamnya. Sementara di pihak sana, sebagian besar orang NU sudah tahu latar belakang agama keluarga Prabowo dan kemampuan berislamnya. Kasus “hulaihi wasallam” menjadi catatan. 

Lalu insiden Sandiaga berwudlu dengan gayung diobok-obok menjadi catatan tambahan. Sosok KH Ma’ruf Amin tidak hanya pemimpin NU tetapi juga menjadi ikon gerakan ekonomi syariah dan dekat dengan kelompok Muslim kota.

Baca juga : PWNU Jatim: Jangan Pilih Pemimpin yang Didukung Wahabi

Jika memakai pertimbangan agama, sebenarnya kelompok Muslim pendukung kubu Prabowo-Sandi sebenarnya berada pada situasi yang rumit. Sulit sekali untuk menjelaskan sisi keislaman sang calon. Tapi… mereka adalah entitas politik yang siap memakai jurus apapun untuk menang, bekerjasama dengan dengan pihak manapun tidak masalah, dan tidak segan melakukan berbagai cara untuk memenangkan kelompok mereka sendiri. Apa boleh buat, pilihan politik sudah dijatuhkan dengan segala risikonya, termasuk risiko ditinggalkan massanya sendiri.

Pemilu 2014 lalu diwarnai dengan berbagai isu fitnah, sekarang 2019 ini kenal dengan istilah hoax. 

Dulu ada tabloid yang menyebut Jokowi sebagai keturunan China, non muslim, dan antek Barat. Adagium yang mereka pakai: Pertahahan terbaik adalah menyerang. Semua hal diputarbalikkan. Tapi saya tidak ingin membahas itu, itu urusan tim kampanye. 

Point saya pada bagian ini, justru karena gesekan akibat hoax yang menyebabkan dua kubu saling berhadap-hadapan itu justru membuat banyak orang NU bersemangat untuk datang ke TPS ketika itu untuk menyalurkan hak pilihnya.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith tharieq

Oleh: Dr. A. Khoirul Anam, Dosen Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Indonesia Jakarta.

Bagikan: