Manuver PKS : Politikus PKS Sebut Salim Segaf Al Jufri Orang NU

Manuver PKS : Politikus PKS Sebut Salim Segaf Al Jufri Orang NU

Tribunsantri.com - PKS mulai merapat ke tokoh-tokoh NU karena mereka sadar, NU merupakan ormas Islam dengan jumlah anggota yang sangat besar mencapai puluhan juta. Memusuhi NU samahalnya dengan membuat PKS istiqomah menjadi partai gurem.

PKS melakukan manuver dengan merapat ke tokoh NU. Ketua Majelis Syuro PKS Salim Segaf Aljufri bertemu dengan tokoh Nahdlatul Ulama (NU), Kiai Kholil As'ad Syamsul Arifin Situbondo November tahun lalu. Salim Segaf pula yang langsung memberikan agar seluruh kader PKS 'mencintai' NU. 

Baca juga : Majelis Syuro PKS Ziarah Makam Wali dan Tahlilan, Warga NU Diminta Hati-hati Manuver Politik PKS

"Perintah Ustaz Salim kepada semua kader PKS selalu untuk taat dan cinta ulama, dan NU adalah rumah para ulama," kata Ketua DPP PKS Mardani Ali Sera seperti dilansir detikcom, Selasa (11/12/2018).

Tanpa malu-malu, Politikus PKS, Abdul Kharis Almasyhari, mengatakan Salim selama ini memang dekat dengan NU. Kharis bahkan mengklaim Salim sebagai 'orang NU'.

"Pak Salim kan orang NU. Habib lah, dekat sekali dengan NU. Kita itu dekat dengan NU, Muhammadiyah, dekat dengan semua," kata Kharis di gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (11/12/2018).

Namun ia tak setuju apabila pertemuan itu dikaitkan dengan Pemilu 2019. Kharis menegaskan PKS memiliki kedekatan dengan berbagai ormas keagamaan.

"Nggak lah (karena pemilu). Kalau selama ini PKS distigmakan jauh dari NU, wong Ketua Majelis Syuro-nya saja habib ya. Mana ada habib yang tidak dekat dengan NU, kan gitu," tuturnya.

Tanggapan PPP atas Manuver PKS

Meski demikian, sinyal-sinyal PKS merapat ke kalangan NU memancing reaksi dari parpol yang merasa dekat dengan NU. Salah satunya PPP, yang bereaksi cukup keras terkait hal ini.

Baca juga : Santri Kiai As'ad Ikut PKS, Kiai Fawaid: "Demi Allah Saya Tidak Ikhlas"

"PKS harus paham kultur dan tradisi NU. Organisasi NU secara kelembagaan meneguhkan semangat kembali ke khitah 1926, ketika NU berada dalam posisi tengah, tidak terlibat politik praktis," sebut Waketum PPP Arwani Thomafi kepada wartawan, Selasa (11/12).

"Tradisi dan kultur kiai, ulama, dan NU berbeda dengan kultur PKS. Ini yang harus dipahami PKS. Kultur itu muncul dan tumbuh bersama dalam tradisi panjang pesantren di nusantara. Adapun kelahiran PKS berasal dari aktivis tarbiyah," imbuh Arwani.

Baca juga : Eko Kuntadhi: Cuma Jokowi yang Berani Hancurkan HTI

Arwani juga menyinggung perbedaan tradisi keagamaan di antara PKS dan NU. "Implikasinya tradisi keagamaan di antara kedua organisasi tersebut berbeda, misalnya yang satu identik dengan tahlil dan ziarah kubur, yang satu sebaliknya. Kondisi ini semestinya dipahami betul elite PKS," ucap Arwani.

Meski langsung memposisikan PKS dan NU dua hal yang berbeda, PPP juga tak menganggap manuver PKS ini sebagai ancaman. 

"PPP tidak melihat itu dengan khawatir. Ulama NU itu dalam hal silaturahmi memelihara ukhuwah Islamiyahmemang terbuka kepada siapa pun, termasuk kepada mereka yang di PKS. Perintah mencintai ulama dari Ketua Majelis Syuro PKS itu juga hal yang normatif saja, karena mencintai ulama itu memang bagian dari ajaran Islam," sebut Arsu

Baca juga : Cegah Radikalisme, Jaringan Perempuan NU Siap Bersatu Padu Menangkan Jokowi-Ma'ruf Amin

Tanggapan PKB

PKB berkomentar soal manuver Ketua Majelis Syuro PKS Salim Segaf Aljufri yang bertemu dengan tokoh Nahdlatul Ulama (NU), Kiai Kholil As'ad Syamsul Arifin Situbondo. PKB mengibaratkan PKS dan NU seperti minyak dan air.

"Masalahnya yang saya pahami kultur dan ideologi NU sangat berbeda dengan PKS. Seperti minyak dan air, meski sama-sana benda cair tapi punya kealamian yang berbeda," ujar Wasekjen PKB Daniel Johan saat dihubungi, Selasa (11/12/2018).

Baca juga : PKS: Bagi HTI, Demokrasi, Parpol dan Pemilu, itu Kafir

Daniel mengatakan manuver PKS ke NU itu sulit dibayangkan. Sebab, ia menilai selama ini banyak kultur NU yang dipertentangkan PKS terhadap.

"Banyak nggak nyambungnya, bahkan sering kultur NU dianggap salah. Jadi perubahan sikap PKS tentu suatu kemajuan yang sulit dibayangkan sebelumnya," kata dia.

Meski begitu, Daniel menghargai sikap PKS. Ia menyebut persaudaraan harus tetap dijaga.

"Kami hargai, dan meskipun berbeda, kita tetap dalam satu persaudaraan kebangsaan, silaturahmi dan ukuwah tetap harus dijaga. PKB sendiri sejak awal sampai kapan pun akan selalu menjadi garda terdepan dalam mencintai, membela, dan memajukan ulama dan NU, tidak ada yang boleh menghambat ulama dan NU," tegasnya.  [Detik]

Bagikan: