Disebut Munafiq oleh Sugik Nur, Ini Keluhuran Nasab dan Prestasi Keilmuan KH Ma'ruf Amin

Disebut Munafiq oleh Sugik Nur, Ini Keluhuran Nasab dan Prestasi Keilmuan KH Ma'ruf Amin

Tribunsantri.com - Dalam salah satu ceramahnya, Sugik Nur menyebut KH Ma'ruf Amin sebagai 'Munafiq'. Ucapan Sugik ini didasarkan pada pernyataan Kiai Maruf saat diwawancara oleh Kemal Pahlevi beberapa waktu yang lalu yang videonya dipublikasikan oleh IDN Times pada 14 Desember 2018.

Berikut Video Pernyataan Nur Sugik:



Dalam wawancara tersebut Kemal Pahlevi menyodorkan sebuah pertanyaan terkait kesaksian kiai Ma’ruf Amin di persidangan Ahok. Pertanyaan itu didapat Kemal Pahlevi dari @diambagus.

“Pernah menyesal nggak sih jadi saksi yang memberatkan dan membuat Pak Ahok masuk penjara?”

“Iya tentu saja, cuma karena terpaksa saja kan,” jawab kiai Ma’ruf Amin.

Baca juga : Ini Identitas dan Akhir Petualangan Sugi Nur Raharja Sebagai Ulama ‘Abal-Abal’

Kutipan pernyataan ini yang dibuat bahan oleh Sugik Nur untuk menyebut kiai Ma'ruf munafiq.

Padahal kalau kita lihat pada petikan pernyataan selanjutnya, kiai Ma'ruf tidak menyesal dalam arti ‘merasa bersalah' telah menjadi saksi memberatkan bagi Ahok.

“Iya tentu saja, siapa yang ingin memenjarakan orang, kan nggak mau. tapi karena terpaksa, situasi pada waktu itu prosesnya penegakan hukum, ya apa boleh buat dengan rasa terenyuh,” kata Maruf Amin dalam video tersebut.

Baca juga : Gus Nadhif ke Gus Yaqut : Tidak Perlu Kita Bahas Masalah Sugi Nur, Komandan! click

Dari petikan pernyataan tersebut, jelas bahwa ‘penyesalan' yang dimaksud oleh kiai Ma'ruf karena beliau tidak ingin memenjarakan orang. Tapi karena dalam rangka penegakan hukum maka mau tidak mau harus dilakukan. Ini yang dimaksud 'terpaksa' oleh kiai Ma'ruf, bukan merasa bersalah.

Sugik Nur, sesuai pengakuannya merupakan mantan preman, dia tidak pernah belajar agama di pondok pesantren. Tapi tiba-tiba menjadi penceramah yang banyak pengikutnya. Kalau isi ceramahnya meneduhkan dan tidak memprovokasi tentu tidak jadi soal asal tidak berfatwa sembarangan mengingat dia sama sekali tidak mengerti urusan agama.

Baca juga : Nasehat KH Ahmad Ishomuddin untuk Nur Sugik

Namun masalahnya, Sugik kerap melontarkan kata-kata kasar. Setiap orang yang tidak sepaham dengannya, pasti ‘diserang' habis-habisan melalui kata-katanya yang tak mencerminkan pribadi muslim yang baik.

Parahnya yang diserang justru orang yang, dari sisi nasab dan prestasi keilmuan menjadi panutan masyarakat Indonesia. Tak perlu capek-capek membandingkan dengan Sugik Nur, karena memang tak layak dibandingkan. 

KH Ma'ruf yang disebut munafiq oleh Sugik merupakan ulama fikih yang disegani. Sebelum jadi Ketua Umum, di MUI kiai Ma'ruf pernah menjadi Ketua Komisi Fatwa yang bertanggung jawab soal penerbitan fatwa MUI. Bahkan sampai ada testimoni bahwa masalah keagamaan sesulit apapun hanya butuh waktu sebentar bagi kiai Ma'ruf untuk menjawabnya.

Baca juga : Ekonom dan Pelaku Usaha Puji Konsep Ekonomi Arus Baru Kiai Ma'ruf Amin

Kiai Ma'ruf yang pernah belajar di Pondok Pesantren Tebuireng ini merupakancicit dari Syaikh Muhammad Nawawi al-Jawi al-Bantani, ulama besar asal Banten yang pernah menjadi Imam Masjidil haram.

Syaikh Nawawi adalah ulama yang hidup tahun 1730 hingga 1813. Para ulama Indonesia menyebut Syaikh Nawawi sebagai Bapak Kitab Kuning Indonesia. Ratusan buku pernah dia tulis semasa hidup. Dari sisi nasab Kiai Ma'ruf bukan orang sembarangan. Dalam tradisi pesantren nasab menempati posisi spesial, walaupun akan lebih baik jika disertai dengan ilmu dan kiai Maruf Amin punya dua-duanya. 

Selain orang nomor satu di MUI, kiai Ma'ruf juga menduduki jabatan tertinggi di Nahdlatul Ulama, organisasi masyarakat Islam terbesar di Indonesia sebelum namun akhirnya mengubdurkan diri karena ditunjuk Jokowi sebagai cawapres. Jabatannya adalah Rais Am atau Ketua Umum dalam arti sebenarnya.

Baca juga : KH Ma'ruf Amin: Dulu Sandal, Sekarang Masjid NU yang Hilang Diambil Kelompok Radikal

Kiai Ma'ruf adalah Rais Am PBNU periode 2015-2020 sekaligus Ketua Umum MUI periode 2015-2020. Dua posisi puncak yang dijabat secara sekaligus ini jarang dimiliki banyak orang. Ulama yang mendapatkan posisi yang sama sebelum Kiai Ma'ruf adalah KH MA Sahal Mahfudh, rahimahu Allah.

Sementara Ketua Tanfidziyah atau Ketua Umum PBNU yang selama ini lebih dikenal, lebih pada ketua pelaksana. Jabatan ini membuat kiai Ma'ruf menjadi ulama yang paling dihormati di kalangan nahdliyin, sebutan untuk pengikut NU.

Katib Syuriah PBNU Asrorun Niam Sholeh menyebut Ma'ruf sebagai "Top of the toppimpinan Ulama Indonesia dan panutan mayoritas umat Islam Indonesia". 

Rabu, 24 Mei 2017, KH Maruf Amin mendapatkan gelar profesor dari Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Magribi, Malang sebagai penghargaan terhadap dedikasinya memajukan ekonomi syariah.

Baca juga : Ini Tanggapan Kiai Ma'ruf Amin Atas Penghinaan yang dilontarkan Yahya Waloni

Kiai Ma'ruf bukan cuma ulama. Ia juga dikenal sebagai politikus. Dalam daftar kariernya, Ma'ruf pernah menjadi Ketua Dewan Perwakilan Rakyat dan Majelis Permusyawaratan Rakyat dari Partai Kebangkitan Bangsa. Ia juga pernah menjadi Ketua Dewan Syuro partai yang didirikan Abdurrahman Wahid itu.

Dalam pemerintahan sebelumnya, Ma'ruf dipercaya menjadi anggota Dewan Pertimbangan Presiden sejak tahun 2007 hingga 2014. Karena itulah dalam sidang ada tudingan kedekatan dirinya dengan Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono. 

Bagikan: