Bicara Diserang Hoax PKI, Jokowi: Itulah Kejinya Politik

Bicara Diserang Hoax PKI, Jokowi: Itulah Kejinya Politik

Tribunsantri.com - Dalam acara pembagian sertifikat tanah untuk warga Kabupaten Bekasi, Presiden Joko Widodo (Jokowi) berbicara seputar isu hoax yang dialamatkan kepada dirinya. Jokowi mengatakan serangan tersebut adalah 'politik yang keji'.

Awalnya Jokowi mengaku sabar diterpa isu sebagai aktivis PKI. Setelah empat tahun memimpin, Jokowi angkat bicara meluruskan isu tersebut karena ada 9 juta orang, menurut survei timnya, yang percaya bahwa 'Jokowi PKI'.

Baca juga : Jokowi Bertemu Quraish Shihab Bahas Islam Moderat

"Tahun politik isunya itu-itu saja. Saya 4 tahun dengerin, ya Allah, sabar, sabar. Coba dilihat, Presiden Jokowi itu PKI. Ada nggak itu di Bekasi? PKI dibubarkan 65-66. Saya lahir tahun 61. Nangkep? Umur saya berarti baru 4 tahun. Masih balita. Ada PKI balita? Hayo? Tapi kadang-kadang isu seperti itu langsung dimakan mentah-mentah," ujar Jokowi di Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Jumat (25/1/2019). 

Dalam slideshow, Jokowi menunjukkan kepada warga bukti ia diserang isu PKI. Bukti tersebut adalah foto mirip Jokowi di dekat pimpinan PKI, DN Aidit. 

"Lahir saja saya belum. Tapi gambar saya ditaruh situ. Kejam nggak itu? Anak saya bilang, 'Pak, ada gambar gini di medsos'. Saya lihat. La kok wajahnya persis saya? Itulah namanya kejinya politik kayak gitu, kejamnya politik seperti.... Tapi masyarakat jangan diracuni hal seperti ini. Nggak mau saya," ujar Jokowi.

Isu terkini yang diluruskan Jokowi adalah tuduhan anti-Islam dan anti-ulama. Jokowi menepisnya dan memberikan bukti berupa ditekennya Perpres Hari Santri Nasional. 

"Saya setiap hari masuk pondok pesantren, dekat ulama, Hari Santri yang tanda tangan saya. 2014 saya tanda tangan. Kenapa ada Hari Santri? Karena kita tahu perjuangan para santri dan ulama dalam merebut kemerdekaan. 22 Oktober para kiai mengeluarkan resolusi jihad saat itu," jelas Jokowi. [Detik]

Baca juga : Jokowi: Saya Teken Perpres Hari Santri Kok Dibilang Anti Ulama?

Bagikan: