Wali Jenggot dan Pesan Terakhir Kiai Hasyim Muzadi

Wali Jenggot dan  Pesan Terakhir Kiai Hasyim Muzadi

Tribunsantri.com - Gelak tawa hadirin yang datang ke acara peringatan 90 tahun Pondok Pesantren Modern Darussalam Gontor, Ponorogo, Jawa Timur, itu tak berhenti sepanjang Kiai Ahmad Hasyim Muzadi berceramah.

Mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama itu menyampaikan tausiah dengan guyonan-guyonan khasnya. Masalah yang sensitif pun menjadi ringan untuk didengarkan.

Baca juga : Belajar Dari Gus Dur dan Kiai Hasyim Muzadi, Lawan yang Berkawan

Seperti ketika kiai Hasyim menyinggung perbedaan pandangan antara NU dan Muhammadiyah tentang Islam. Misalnya doa qunut saat salat subuh yang diamalkan kalangan nahdliyin tapi tak dilakukan pengikut Muhammadiyah.

“Alhamdulillah, sekarang ini sudah tidak ribut karena sudah tidak salat subuh, ha-ha-ha…,” ucap kiai Hasyim dalam acara yang berlangsung pada September tahun lalu tersebut.

Juga soal penetapan 1 Syawal (Idul Fitri) yang acap kali berbeda antara NU dan Muhammadiyah. Perbedaan itu terjadi karena NU dan Muhammadiyah punya cara yang berbeda dalam “meneropong” hilal.

“Yang berbeda itu tanggalnya. Hari rayanya kan, ya, sama. Salatnya sama, takbir beberapa kali,” papar kiai Hasyim.

Menurut kiai Hasyim, NU dan Muhammadiyah punya keunikan sendiri-sendiri namun saling melengkapi dalam memperjuangkan Islam. NU tak mampu membangun perguruan tinggi sekelas Muhammadiyah, tapi Muhammadiyah juga tak sabaran berdakwah ke petani-petani di desa seperti yang dilakukan ulama NU.

Baca juga : Kisah Kiai Hasyim Muzadi 20 Tahun Mendampingi Gus Dur

Kedua ormas Islam itu juga memiliki wawasan tentang keumatan dan kenegaraan yang sama. Kiai Hasyim Asy’ari, pendiri NU, dan Kiai Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, adalah dua tokoh Pahlawan Nasional.

“Pak Din (Din Syamsuddin, mantan Ketua PP Muhammadiyah) kenapa pindah dari NU? Karena nggak kerasan saja sama orang NU, bukan karena teori yang tinggi-tinggi itu. Ini orang NU kok kumuh-kumuh,” ucap kiai Hasyim.

Din, juga alumnus Ponpes Gontor, yang duduk sejajar dengan Hasyim, pada hari itu pun tak kuasa membendung tawa.

Presiden Joko Widodo, Wakil Presiden Jusuf Kalla, dan sejumlah pejabat juga pernah dibuat tertawa dengan tausiah kiai Hasyim. Persisnya saat peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Istana Negara, Jakarta, 25 Desember 2015.

Kiia Hasyim bercerita pernah menjumpai sebuah aturan di sebuah negara di Barat yang dinilainya justru lebih menjamin hak-hak dan perlindungan warga dibanding di negara berpenduduk mayoritas muslim.

“Ini negara nonmuslim, barang yang hilang ketemu semua. Sedangkan di negara yang mayoritas Islam, barang yang ada hilang semua,” ujarnya berseloroh.

Menurut kiai Hasyim, ketika hijrah ke Madinah dari Mekah, Nabi Muhammad tak membangun sebuah daulah Islamiyah atau negara Islam. Yang dilakukan Nabi adalah membuat Piagam Madinah.

Piagam itu merupakan konsensus penduduk Madinah yang heterogen dari segi agama dan suku. Siapa saja diberi kesempatan mengembangkan agama Islam tanpa harus “mematikan” orang yang beragama lain.
“Di sinilah bedanya Nabi Muhammad dengan Muhammad yang belakangan ini, yang kadang-kadang otoriternya keluar,” tutur kiai berkacamata itu.

Tausiah penuh canda tapi substansial itulah yang kini dikenang dan dirindukan oleh warga nahdliyin dan masyarakat Indonesia dari kiai Hasyim Muzadi.

Pemimpin Pondok Pesantren Al-Hikam, Depok, Jawa Barat, itu meninggal pada Kamis, 16 Maret 2017, di kediamannya, Jalan Cengger Ayam, Malang, Jawa Timur. Anggota Dewan Pertimbangan Presiden itu berpulang setelah beberapa waktu sakit dan dirawat di Rumah Sakit Lavalette, Malang.

Presiden Joko Widodo dan Ibu Negara Iriana sempat menjenguk sang kiai sehari sebelumnya atau Rabu, 15 Maret. Jokowi tidak banyak berbicara tentang kondisi kesehatan Hasyim.
Jokowi hanya mengajak masyarakat mendoakan Hasyim supaya lekas diberi kesembuhan oleh Tuhan Yang Maha Esa.

Namun takdir berkata lain. Hasyim mengembuskan napas terakhir pada Kamis pukul 06.15 WIB. Setelah disalatkan di masjid Ponpes Al-Hikam, Malang, jenazah diterbangkan ke Depok untuk dikebumikan.

Presiden ke-4 RI Megawati Soekarnoputri, Gubernur DKI Jakarta nonaktif Basuki Tjahaja Purnama, dan sejumlah menteri Kabinet Indonesia Bersatu turut menyambut jenazah di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta.

Sedangkan ribuan santri telah menunggu di Ponpes Al-Hikam, Depok, sejak Kamis siang. Begitu mobil ambulans yang membawa peti jenazah masuk ke kompleks ponpes, lantunan selawat menggema.

Doa-doa juga tidak henti dipanjatkan para pelayat hingga peti jenazah masuk liang lahat. Bertindak sebagai inspektur upacara pemakaman sore yang sedikit mendung itu Wapres Jusuf Kalla.

Ketua Umum PBNU Said Aqil Siroj menaburkan bunga di pusara KH Hasyim Muzadi di kompleks Pondok Pesantren Al-Hikam, Beji, Depok, Jawa Barat, Kamis (16/3).

Foto: Sigid Kurniawan/Antara Foto
Hasyim Muzadi lahir pada 8 Agustus 1944 di Tuban, Jawa Timur. Setelah tamat madrasah ibtidaiyah di kampung halamannya, ia mondok di Ponpes Gontor.

Ia lantas menamatkan pendidikan tinggi di Institut Agama Islam Negeri Malang. Hasyim pernah menjadi Ketua Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Malang.

Namun namanya mulai dikenal setelah menjabat Ketua Pengurus Wilayah NU Jawa Timur pada 1992. Dan tujuh tahun kemudian, ia menduduki jabatan puncak NU pada muktamar ke-30 di Lirboyo, Kediri.

Hasyim terpilih sebagai Ketua PBNU untuk kedua kalinya dalam muktamar ke-31 di Wisma Haji Donohudan, Boyolali, Jawa Tengah, pada 2005. Ia mengalahkan pesaing terberatnya, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.

Hampir seluruh tokoh agama atau nasional mengenal Hasyim sebagai figur ulama NU yang moderat. Sepanjang hidupnya, Hasyim tak kenal lelah memperkenalkan Islam sebagai sebuah agama yang terbuka.

Sekretaris Jenderal PBNU Helmy Faishal mengatakan Hasyim adalah sosok ulama besar yang terus mengajak masyarakat agar hidup penuh kerukunan dan toleransi, tanpa memandang apa pun agamanya.

Hasyim mengecam keras tumbuh-kembangnya paham radikalisme yang menjalari sebagian umat Islam. Paham itu telah membuahkan tindakan terorisme yang mencemari wajah Islam itu sendiri.

Ia menyebut “oknum-oknum” umat Islam yang mengusung paham radikal itu sebagai “wali jenggot”. Ciri-ciri kelompok itu adalah mudah mengkafirkan orang yang sudah Islam. Beda dengan waliyullah, yang mengislamkan orang kafir.

Di sisi lain, Hasyim terus mengkampanyekan gagasan Islam rahmatan lilalamin sejak 2002. Gagasan itu adalah upaya untuk menjernihkan persepsi Barat tentang Islam pasca-serangan 11 September di Amerika Serikat.

Gagasan itu terwujud dalam pembentukan forum International Conference of Islamic Scholar atau ICIS pada 2004. Hingga 2015, ICIS telah empat kali menyelenggarakan dialog lintas negara.

Konferensi ICIS terakhir, yang digelar Malang, menghasilkan Malang Message, yakni sebuah rumusan yang disumbangkan oleh Indonesia untuk menangkal gerakan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS).

Lagi-lagi, menurut Hasyim, caranya dengan menerapkan prinsip moderat dalam pendidikan Islam. "Menerapkan Islam yang sebenarnya. Islam yang ramah, bukan yang marah. Cegah ekstrem kiri maupun ekstrem kanan."

Hasyim juga beberapa kali menyiratkan rasa keprihatinan terhadap generasi muda NU, yang mulai kejangkitan penyakit sekularisme dan liberalisme. Dua paham itu cenderung membuat generasi NU anti-dogma dan tradisi baik.

Keprihatinan itu ditangkap Ketua Umum PPP Romahurmuziy saat berbincang dengan Hasyim pada 2007. Rommy bertanya tentang mengapa representasi NU Khofifah Indar Parawansa kalah dalam pemilihan Gubernur Jawa Timur. Padahal Jawa Timur adalah basis NU.

“Rom, dulu santri-santri NU itu kayak saya. Sekarang santi-santri NU itu kayak kamu,” jawab Hasyim, tetap dengan gayanya yang penuh humor.

Penulis/Editor: Irwan Nugroho

[detikX]

Bagikan: