Rabithah Alawiyah: Gelar Habib Bukan untuk Kebanggaan, tapi Tanggung Jawab

Rabithah Alawiyah:  Gelar Habib Bukan untuk Kebanggaan, tapi Tanggung Jawab

Tribunsantri.com - Belakangan gelar Habib tercoreng gara-gara oknum yang menyandang gelar tersebut merusaknya dengan melakukan tindakan yang tidak pantas.

Habib merupakan gelar bagi seseorang yang manjadi keturunan nabi Muhammad SAW. Dengan menyandang gelar ini seharusnya mereka mencontoh akhlak dan perilaku nabi, bukan malah bersifat angkuh dan mau menang sendiri.

Saat Milad Rabithah Alawiyah yang ke-90, Habib Zen bin Umar Sumaith mengungkap munculnya gelar habib yang berkaitan dengan proses masuknya Islam ke Indonesia.

Menurut Habib Zen, habib merupakan gelar bagi keturunan nabi Muhammad SAW melalui jalur Sayyidina Husein yang masuk ke Indonesia. Sedangkan keturunan nabi yang dari jalur Hasan mayoritas masuk ke Afrika Utara.

“Habib berasal dari asalnya, dari keturunan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam lewat cucunya Sayyidina Husein yang masuk ke Indonesia. Karena Sayyidina Hasan masuknya kebanyakan ke arah Afrika Utara,” ucap Habib Zen di Hotel Aston TB Simatupang, Jakarta Selatan, Minggu (16/12).

"Itu dikatakan panggilannya Syarief, kalau yang Husein dikatakan Sayyid, tapi dengan waktu akhir-akhir ini lebih populer khususnya di Indonesia dikatakan habib,” lanjut dia.

Habib Zen mengatakan, gelar habib memang layak disandang oleh mereka yang menjadi keturunan nabi Muhammad SAW. 

Namun beliau prihatin terhadap sejumlah orang yang mengaku habib padahal tidak punya silsilah yang bersambung kepada nabi. 

“Yang ngaku-ngaku habib kami prihatin, karena biar bagaimana kalau di Rabithah dia akan ketahuan apakah dia itu haMenurut ib benar. Karena ada silsilahnya yang dicek, diteliti segala macam akan terlihat apakah dia itu hanya mengaku-ngaku atau benar,” ungkap Habib Zen.

Menurut Habib Zen, mempunyai gelar habib bukanlah sebuah kebanggaan, akan tetapi ada tanggung jawab besar yang harus dipikul untuk menyebarkan Islam menggunakan cara-cara yang telah dicontohkan oleh nabi Muhammad.

"Bagi kita ini menjaga nasab (keturunan), ini bukan untuk kebanggaan tidak. Hanya untuk mengatakan Anda mempunyai tanggung jawab yang besar, karena Anda ini keturunan dari rasul jadi tanggung jawabnya besar. Bukan untuk bangga-banggaan, bukan untuk privilage yang lebih,” tutup dia. [suaraislam/tribunsantri]

Bagikan: