Pengertian Shalat dan Awal Mula Diwajibkannya Shalat Lima Waktu

Pengertian Shalat dan Awal Mula Diwajibkannya Shalat Lima Waktu

Tribunsantri.com - Shalat menurut bahasa bermakna doa. Hal ini sesuai dengan ayat 103 dalam surat At Taubah.
وَصَلِّ عَلَيْهِمْ إِنَّ صَلاَتَكَ سَكَنٌ لَّهُمْ وَاللّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Kata Sholli dalam ayat diatas mempunyai makna doa dengan kebaikan. Yakni ‘berdoalah (wahai Muhammad) untuk mereka (dengan baik).

Sedangkan shalat menurut tinjauan syariat adalah sejumlah ucapan seperti bacaan surat Al fatihah, tasyahhud dan lain-lain, sebagaimana akan dijelaskan dalam pembahasan selanjutnya, dan pekerjaan tertentu seperti berdiri, rukuk, sujud dan lain-lain, yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam.

Dinamai shalat karena aktivitas shalat mengandung shalat menurut tinjauan bahasa. Diatas telah dikatakan bahwa shalat menurut bahasa bermakna doa.

Aktivitas shalat yang meliputi ucapan dan tindakan tertentu itu mengandung doa. Jadi, dari semua pekerjaan dalam shalat itu mengandung hal yang sangat penting yaitu doa. Ketika seseorang melakukan shalat, maka ia sesungguhnya berdoa kepada Allah SWT.

Shalat yang diwajibkan kepada kita ada lima dalam sehari semalam, yaitu Shalat Subuh, shalat Dhuhur, Shalat Ashar, Shalat Maghrib, dan Shalat Isya’.

Sedangkan, shalat yang pertama kali dilakukan adalah shalat dhuhur, karena shalat inilah yang pertama dikerjakan oleh malaikat Jibril AS bersama nabi Muhammad SAW.

Oleh karena itu, dalam al Quran, shalat dhuhur disinggung pertama kali oleh Allah SWT. 

أَقِمِ الصَّلاةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ  
Artinya : Laksanakanlah shalat sejak matahari tergelincir sampai gelapnya malam. (Al-Isra': 78)

Kelima shalat itu tidak boleh diingkari keberadaannya karena sudah ditetapkan berdasarkan dalil nash yang jelas (pasti). Barang siapa yang mengingkarinya maka ia telah kufur (keluar dari Islam).

Shalat lima waktu merupakan keistimewaan untuk nabi Muhammad. Sebab, tidak pernah ada nabi yang memiliki kelima shalat itu selain beliau nabi Muhammad SAW. Untuk nabi terdahulu, shalat dibagi ke beberapa nabi. 

Shalat subuh disyariatkan kepada nabi Adam AS, shalat dhuhur untuk nabi Daud AS, Shalat Ashar diberikan kepada nabi Sulaiman AS, Shalat Maghrib untuk nabi Ya’qub AS, sedangkan shalat Isya’ untuk nabi Yunus.

Nah, nabi Muhammad adalah nabi yang paling utama, karena beliau adalah pemungkas para nabi, dimana syariat yang dibawanya adalah menyempurnakan apa yang Allah SWT turunkan kepada nabi-nabi sebelum nabi Muhammad.

Jadi, nabi Muhammad diutus oleh Allah SWT bukan untuk membawa agama baru, akan tetapi menyempurnakan risalah para nabi sebelumnya.

Sementara itu, shalat lima waktu diwajibkan pada malam ma’roj, yaitu malam dimana kanjeng nabi Muhammad naik ke langit ke tujuh hingga sidratul muntaha. Hal itu terjadi satu tahun enam bulan sebelum hijrahnya nabi Muhammad dari Makkah ke Madinah.

Sepintas tampak bertentangan antara shalat yang pertama kali diwajibkan dengan awal mula diwajibkannya shalat lima waktu. Kalau shalat diwajibkan kepada umat Muhammad SAW pada malam mi’roj, kenapa shalat dhuhur yang pertama kali dilakukan, bukan shalat subuh?  Jawabannya karena kanjeng nabi belum mengetahui tata cara shalat pada malam itu.

Hikmah shalat diwajibkan pada malam mi’raj adalah karena pada malam itu kanjeng nabi Muhammad SAW telah disucikan oleh Allah SWT baik dhohir maupun batin yakni dicuci dengan air zamzam dan hatinya diisi dengan iman dan hikmah. Sedangkan shalat harus dilakukan setelah badan dalam keadaan suci baik dari najis maupun hadats.

Demikian semoga bermanfaat. [Tribunsantri/sa]

Bagikan: