MUI: Bahaya Memperalat Agama untuk Kepentingan Politk

MUI: Bahaya Memperalat Agama untuk Kepentingan Politk

Tribunsantri.com - Ketua Majlis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Informasi dan Komunikasi Masduki Baidlowi mengatakan, memasuki tahun politik setiap pihak akan dengan mudah memakai agama atau simbol-simbol agama untuk kepentingan politik praktis.

Menurut dia, cara yang digunakan adalah mendaku diri dan kelompoknya sebagai pihak yang paling bertanggung jawab atau sebagai pemilik simbol-simbol agama tersebut, seraya mendiskreditkan pihak lawan politik sebagai musuh agama. Kondisi seperti ini berpotensi terjadi di kedua belah pihak dengan memperalat umat.

"Ini berbahaya dan kita harus mengingatkan akan bahaya tersebut," katanya kepada NU Online Rabu (28/11) malam.

Lebih lanjut Masduki mengatakan, kondisi sekarang disebut orang sebagai era post truth (pasca kebenaran) dengan ciri-ciri antara lain: kebenaran dibuang ke tong sampah. Yang ada adalah opini diperbanyak dengan menggunakan cyber army.

"Opini terus dijejalkan, tak penting lagi benar dan salah," tegas pria kelahiran Bangkalan tahun 1958 tersebut. 

Dalam keadaan begitu, ia mengajak semua pihak untuk mengingatkan kembali rakyat atau umat akan nalar kebenaran. Semua pihak harus bergerak, karena nalar kebenaran hakikatnya ada pada pihak yg mayoritas, tetapi mereka diam. Mereka tidak menguasai opini di media sosial.

"Maka, mari bangkitlah. Jangan diam!" ajaknya. 

Ia menambahkan, di tahun politik, masyarakat harus diberikan penyadaran agar pemimpin nasional yang terpilih memiliki orientasi berdasarkan program-program yang jelas untuk menyejahterakan rakyat, pemimpin yang sudah teruji dan punya jejak rekam jelas kejujuran dan kesederhanaannya.

“Pemimpin yang kira-kira sesuai dengan tujuan ushul fiqh: تصرف الامام علي الرعية منوط بالمصلحة
Artinya, Kebijakan seorang pemimpin terhadap rakyatnya bergantung kepada kemaslahatan," katanya. [nuonline]

Bagikan: