Gus Yahya: Dunia Butuh Pertolongan Umat Islam Indonesia

Gus Yahya: Dunia Butuh Pertolongan Umat Islam Indonesia

Tribunsantri.com - Berbeda dengan negara-negara muslim lainnya, Islam yang masuk ke Indonesia adalah Islam yang lembut, ramah dan toleran yang bersahabat dengan budaya.

Hal itu dikatakan oleh Katib 'Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf atau yang biasa dipanggil Gus Yahya dalam Pembukaan Rakornas Lakpesdam NU, di Balai Besar Pengembangan Latihan Kerja (BBPLK), Kota Bekasi, pada Sabtu (22/12).

Islam dengan model demikian, kata Gus Yahya, kemudian disebut sebagai Islam Nusantara. Konsep ini penting didengungkan agar menjadi pengingat bahwa bangsa Indonesia tidak sama dengan sejumlah negara-negara yang doyan perang untuk menyelesaikan masalah.

"(Islam Nusantara) ini penting diketahui kita semua untuk mengingatkan bahwa bangsa Indonesia bukanlah bangsa pecundang yang gemar berperang," katanya.

Sebab, ia melanjutkan, Pancasila dan UUD 1945 sebagai dasar negara mampu menawarkan beragam solusi untuk menciptakan dunia baru yang damai. 

Gus Yahya melanjutkan, dasar negara yakni Pancasila dan UUD 1945 merupakan manifestasi dari semangat Islam Nusantara. Konsep ini, menurutnya, tidak hanya untuk Indonesia, tapi juga bisa digunakan untuk berperan dalam perdamaian dunia.

"Itulah manifesto Islam Nusantara yang punya pemahaman jernih untuk menciptakan kedamaian di muka bumi," jelas kiai asal Rembang, Jateng  yang akrab disapa Gus Yahya ini.

Oleh karena itu, kata Gus Yahya, menyambut satu abad lahirnya Nahdlatul Ulama (NU) di tahun 2026, Islam Nusantara merupakan konsep yang paling cocok.

"Maka dari itu, tidak boleh ada warga NU yang bermental pecundang," tegasnya.

Gus Yahya kemudian menjabarkan isi teks UUD 1945 yang isi penjelasannya adalah bagaimana umat Islam Indonesia memiliki andil dalam menjaga kedamaian dunia. 

"Ini adalah tugas penting bagi bangsa Indonesia," jelasnya.

Ia mensinyalir, terdapat sepertiga umat Islam di dunia yang hidup di negeri yang peradabannya tengah mundur jauh ke belakang. 

"Sehingga menjadi negara yang (seperti) sedang sakit jiwa karena peradaban mereka hancur dan itu bisa dilihat di beberapa negara di Timur Tengah," katanya.

Padahal, menurut Gus Yahya, saat ini dunia sedang membutuhkan pertolongan umat Islam Indonesia untuk mampu menciptakan perdamaian di muka bumi. "Selain itu juga dapat melahirkan cita-cita peradaban yang dibutuhkan dunia," jelas Pengasuh Pesantren Raudlatut Thalibin Rembang, Jawa Tengah ini.

Terakhir, ia menekankan bahwa teknologi informasi tidak serta-merta menjadi sebuah tirani baru.

"Karena itulah kemudian, Rakornas Lakpesdam NU ini harus bisa merumuskan arah ekonomi bagi sekitar 150 juta warga NU agar tidak menjadi budak dari tirani baru di dunia ini," pesan Gus Yahya.

Dalam acara itu hadir seluruh Pengurus Cabang Lakpesdam NU se Indonesia, Ketua Lakpesdam PBNU H Rumadi Ahmad, Ketua PCNU Kota Bekasi terpilih KH Madinah, dan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj.

Sementara Sekretaris Jenderal PBNU H Ahmad Helmy Faishal Zaini dan Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia (Kemnaker RI) dijadwalkan hadir pada Senin (24/12) besok. [NUonline]

Bagikan: