Gus Mus : 'Kembali ke Al-Quran' itu Ngaji, Bukan Mengandalkan Terjemahan

Gus Mus : 'Kembali ke Al-Quran' itu Ngaji, Bukan Mengandalkan Terjemahan

Tribunsantri.com - Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Raudlatut Thalibin Rembang Jawa Tengah KH Ahmad Muatofa Bisri (Gus Mus) menyindir kelompok yang selama ini kerap mengampanyekan jargon 'kembali ke al-Qur'an'.

Padahal, dalam memahami al-Qur'an mereka tidak mempunyai bekal yang cukup seperti ilmu alat dan ulumul Qur'an.

Dengan hanya bermodalkan terjemahan al-Qur'an yang diterbitkan kementrian agama, mereka begitu percaya diri mengajak orang untuk langsung merujuk pada al-Qur'an.

“Ternyata yang dimaksud Al-Qur’anul Karim oleh dia sebangsanya, itu adalah Al-Qur’an yang ada terjemahannya punya Pak Lukman ini. Ya, Gak bisa,” Sindir Gus Mus yang disambut tawa hadirin.

Gus Mus menilai, jargon tersebut merupakan sebuah kesombongan. Sebab dengan langsung merujuk pada al-Qur'an secara tidak langsung mengabaikan kitab-kitab tafsir yang ditulis ulama salaf.

Menurut Gus Mus, yang dimaksud kembali kepada al-Qur'an adalah memahaminya melalui berbagai kitab tafsir yang sudah ada. Hal ini tidak bisa dilakukan kecuali dengan mengaji.

“Ini yang lebih saya hargai dari pada yang petantang-petengteng suruh kembali kepada Al-Qur’an, tapi tidak mau ngaji,” ucapnya.

“Kalau benar konsekuen kembali ke Al-Qur’an, ya ngaji, tidak bisa tidak,” jelasnya. 

Hal itu disampaikan Gus Mus saat didaulat menyampaikan pidato kebudayaan pada pembukaan Muktamar Sastra di Pesantren Salafiyah Safi’iyah Sukorejo, Situbondo, Jawa Timur, Rabu (19/12).

Acara tersebut dihadiri sejumlah tokoh, diantaranya Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, sastrawan Zawawi Imron, dan sejumlah nama besar lainnya. [NU Online /tribunsantri]

Bagikan: