Gus Mus: Islam Itu Mudah, Jangan Dipersulit

Gus Mus: Islam Itu Mudah, Jangan Dipersulit

Tribunsantri.com - KH Ahmad Mustofa Bisri atau yang biasa dipanggil Gus Mus mengatakan, Islam adalah agama yang mudah.

Untuk itu, ia mengajak para penganutnya untuk tidak mempersulit diri dalam mempraktekkan ajaran agama.

Berkaitan dengan hal itu, Gus Mus mengutip apa yang pernah diajarkan sayyidafina Aisyah RA 'Innadina yusrun', agama itu mudah

Selain itu, Gus Mus berdalil dengan  Al Quran surat Al Baqarah ayat 185 yaitu :

“Yuriidullahu bi kumul yusra wala yuriidu bi kumul usra”, Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesulitan bagimu. 

Suatu ketika, ada orang yang mendatangi Gus Mus untuk berkonsultasi masalah yang dihadapinya terkait dengan ibadah. Orang tersebut, cerita Gus Mus, mengeluh lantaran menganggap shalat itu susah dilakukan. Banyak lafal-lafal yang susah dihafalkan.

Kemudian hal ini dibantah Gus Mus. Menurutnya, ketika ada orang shalat hanya bisa mengucapkan takbir, tidak jadi soal. Apalagi dengan tegas Allah menyebut semampunya.

Beragama, lanjut kiai asal Rembang ini, sebenarnya sudah sesuai dengan kebiasaan masyarakat. 

Misalnya soal hormat kepada tetangga, menghormati orang yang lebih tua maupun hormat kepada yang muda.

Agar beragama tidak salah jalur, menurutnya abd (hamba) harus mengenal Allah. Kenalnya makhluq kepada khaliq (pencipta) tujuannya tidak lain untuk menyenangkan Allah.

Dalam kegiatan rutin yang dihadiri ratusan jamaah ini menyenangkan Allah dan menyenangkan diri perlu dibedakan. Suatu ketika seorang sepulang haji pamer kepadanya lantaran bisa mencium hajar aswad.

“Mencium hajar aswadmu untuk menyenangkan dirimu apa menyenangkan Allah?” tanya Gus Mus kepada si Haji.

Mendengar cerita si Haji, Gus Mus pun mengkritik dirinya mencium hajar aswad hanya perkara yang sunah tetapi jika caranya dengan menyikut banyak jamaah jelas dilarang Allah SWT.

Sehingga dibanyak kitab salaf, bab pertama yang kerap dibahas tak lain ialah tentang mengenal Allah. 

Kiai ini mengungkapkan dalam beragama jangan tebang pilih hanya memilih berjenggot dan bersorbannya saja,tetapi akhlak mulia Nabi tidak ditiru. Jika demikian, ia menyebut yang prinsip ditinggalkan dan semestinya tidak prinsip malah diagung-agungkan.

“Allah tidak butuh ibadah kita. Tetapi kita yang butuh Allah,” lanjutnya. [nuonline]

Bagikan: