Banyak Negara Muslim Hancur karena Tak Cinta Tanah Air

Banyak Negara Muslim Hancur karena Tak Cinta Tanah Air

Tribunsantri.com - 'Hubbul Wathan Minal Iman", cinta tanah air sebagian dari iman. Dengan kata lain tidaklah sempurna keimanan seseorang jika ia tidak mencintai tanah airnya.


Terkait dengan hal tersebut, ulama asal Suriah atau Syiria Dr Mahir Hasan Al-Munajjid, dengan tegas mengatakan cinta tanah air memiliki peran yang sangat penting.


Ini bukan omong kosong, setidaknya hal itu sudah terbukti dengan adanya tragedi kemanusiaan yang terjadi di Suriah.


Menurut Dr Mahir, apa yang terjadi di Suriah dan sebagian besar negara-negara berpenduduk mayoritas muslim merupakan akibat dari tidak adanya cinta tanah air. 


Lebih lanjut Dr Mahir menjelaskan, jika setiap unsur masyarakat di sebuah negara memiliki kecintaan terhadap tanah airnya maka mereka akan berupaya sekuat tenaga agar tanah airnya tetap utuh dan tidak hancur. 


Sedangkan di negara-negara Timur Tengah yang hingga kini diliputi perang saudara, cinta tanah air tidak tertanam di hati masyarakatnya, sehingga begitu ada perbedaan pendapat diantara mereka, perang dijadikan satu-satunya opsi penyelesaian.


Dr Mahir menyebut, cinta tanah air merupakan ajaran Islam yang sudah dicontohkan oleh kanjeng nabi dan para sahabat.

Ia mencontohkan Abdullah bin Umar. Menurut, Mahir, Abdullah bin Umar merupakan sosok yang memiliki kecintaan pada tanah airnya. Sehingga ketika negaranya mengalami goncangan, beliau tidak melakukan pemberontakan.

Dalam hal ketika pemimpin sebuah negara melakukan kedhaliman, menurut Mahir, tidak boleh serta merta membangkang dan memerangi pemerintah. Sebab akan menimbulkan dampak negatif yang lebih besar yakni perang yang tak ada ujungnya.


“Satu hakim yang fasiq akan memunculkan dharar yang besar,” jelasnya. 

Oleh karenanya, yang paling benar, kata Mahir, seburuk apapun sehuah pemimpin tetap tidak boleh dilengserkan melalui cara kudeta.


“Kita patuh dengan aturan pemerintah saja,” tegasnya. 


Problem dalam sebuah negara bisa diselesaikan dengan cara musyawarah bukan dengan perang. Oleh sebab itu, kata Mahir, diperlukan majlis ilmu untuk menfasilitasi diskusi dalam menyelesaikan setiap persoalan.

“Tentu ialah ilmu yang bersumber dari Ulama. Karena konteks hubbul wathan adalah peran ilmu dan juga Ulama,” pungkas Dr Mahir. [NUonline]

Bagikan: