Ada Riak Perpecahan, tapi NU Tak Boleh Pecah karena Pilpres!

Ada Riak Perpecahan, tapi NU Tak Boleh Pecah karena Pilpres!

Tribunsantri.com - Nahdlatul Ulama (NU) adalah penyangga kekuatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Karena itu, Nahdliyin — sebutan warga NU— tidak boleh pecah hanya karena perbedaan dukungan di Pilpres.

Hal itu dikatakan Ketua Umum DPP Partai Nasdem, Surya Paloh di Surabaya, Sabtu (15/12) sore. “Ah inilah, makanya saya berdoa: Jangan! Saya berdoa jangan sempat terjadi perpecahan itu,” ucapnya.

Namun Surya mengakui kalau riak perpecahan Nahdliyin mulai terbaca, ketika sejumlah kiai NU kultural bersama Gubernur Jatim terpilih, Khofifah Indar Parawansamembentuk Jaringan Kiai Santri Nasional (JKSN) untuk mendukung Joko Widodo-KH Ma’ruf Amin.

Sementara di kubu Prabowo Subianto-Sandiaga Unodibentuk Barisan Kiai Santri Nahdliyin (BKSN) yang dimotori KH Hasib Wahab Chasbullah (Gus Hasib), salah seorang anak pendiri NU, KH Abdul Wahab Chasbullah.

Tak hanya itu, anak cucu para pendiri NU, Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari dan KH Abdul Wahab Chasbullah juga ikut terseret arus dukung mendukung di Pilpres 2019.

Di kubu Prabowo-Sandiaga ada KH Irfan Yusuf Hasyim (Gus Irfan) yang merupakan cucu Mbah Hasyim. Sementara Zannuba Ariffah Chafsoh alias Yenny Wahid, putri KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) atau cicit Mbah Hasyim memilih di barisan Jokowi-Ma’ruf.

Lalu dari keluarga Mbah Wahab, anak-anaknya juga berseberangan. Nyai Hj Machfudhoh memilih satu gerbong dengan Khofifah di JKSN. Sedangkan adiknya, Gus Hasib, berada satu barisan dengan Gus Irfan di kubu Prabowo-Sandiaga.

Sebatas Beda Pilihan

Meski perpecahan di tubuh NU tergambar jelas, Surya menegaskan hal itu sebatas beda pilihan politik dan masih bisa dikondisikan. Artinya, tidak sampai memecah NU, apalagi persatuan dan kesatuan NKRI.

“Enggaklah (tidak pecah)! Belum-belum, saya belum melihat sampai ke sana, tapi riak-riaknya ini penting segera terkonsolidasikan,” tegas Surya.
Bagaimanapun, lanjutnya, NU adalah sebuah kekuatan yang dibutuhkan bangsa ini untuk menjaga keutuhan NKRI.

“Masih sangat dibutuhkan bangsa ini. Sebagai pikiran-pikiran yang rahmatan lil ‘alamin, pikiran-pikiran syariat yang kita yakini,” pungkasnya. [Barometerjatim]

Bagikan: