Mbah Moen: Jadilah Orang yang Nasionalis, Berpikiran Luas, dan Tetap NU

Mbah Moen: Jadilah Orang yang Nasionalis, Berpikiran Luas, dan Tetap NU

Tribunsantri.com - Dalam sebuah kesempatan KH Maimoen Zubair Sarang mengatakan Indonesia dijajah Belanda selama 350 tahun disebabkan karena Indonesia pada saat itu masih terpecah belah. 

Di pulau Jawa sendiri, ada enam negara yang pada saat itu berdiri. Diantaranya Banten, Cirebon, Demak, Solo, Jogja, dan Banyuwangi. 

Baca juga : Mbah Maimoen dan Kisahnya sebagai Kader Muda NU

Keenam negara tersebut memiliki kekuatan masing-masing yang bersifat regional, bukan nasional. Kemudian muncullah ulama nasionalis seperti Mbah Hasyim Asy’ari. Beliau yang kemudian turut mengawal para proklamator bangsa untuk merebut kemerdekaan Indonesia. 

Kendati pada saat itu memiliki pesantren yang besar, Mbah Hasyim bersifat terbuka terhadap ilmu-ilmu nonagama. Beliau meminta putranya Wahid Hasyim untuk mempelajari bahasa asing yang pada saat itu digunakan oleh para penjajah.  

"Jadilah orang yang nasionalis, berpikiran luas dan tetap NU," dawuh-nya.

Baca juga : KH Maimoen Zubair: Do’a Kepada Allah Jangan Minta Banyak, Cukup 4 Perkara

Kemudian beliau melanjutkan penjelasan mengenai pentingnya nasionalisme. Ulama-ulama Timur Tengah merasa heran terhadap negeri kita.

Sebab Indonesia adalah satu-satunya negeri Muslim yang damai dan tidak rusuh. Umumnya, negeri yang mayoritas Muslim selalu berakhir dengan konflik. Bukan antara Muslim dan non-Muslim, melainkan justru antara sesama Muslim. 

“Hal ini yang harus dapat kita antisipasi, jangan sampai negeri kita bernasib sama dengan mereka. Maka itu, memiliki jiwa nasionalis menjadi sangat penting dalam upaya kita menjaga Islam di bumi Nusantara.”

Nahdlatul Ulama adalah ormas yang setia mencintai Indonesia secara tulus. Sebagaimana dicontohkan oleh Mbah Hasyim Asy'ari. 

"Janganlah kalian menjadi orang yang fanatik! Untuk urusan dunia (pilkada-red) berpikirlah yang luas dan terbuka. Satu-satunya manusia yang boleh kita fanatik hanyalah Kanjeng Nabi Muhammad Bahkan kiai dan ulama pun, bisa saja keliru. Makanya, jangan terlalu fanatik terhadap sesuatu," tuturnya. [nuonline]

Bagikan: