Mbah Maimoen dan Kisahnya sebagai Kader Muda NU

Mbah Maimoen dan Kisahnya sebagai Kader Muda NU

Tribunsantri.com - Mustasyar PBNU KH Maimoen Zubair yang sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Al-Anwar Desa Karangmangu Kecamatan Sarang Kabupaten Rembang, Jawa Tengah ini selalu dinanti nasehat dan bimbingannya oleh warga Nahdliyin dan khalayak. 

Kiai karismatik yang lahir di Rembang bertepatan dengan dicetuskannya hari Sumpah Pemuda itu, Kamis (2/2) lalu mengungkapkan tentang warga Nahdliyin dan masa remajanya bersama NU. 

Baca juga : Terungkap, Ternyata Mbah Moen yang Tunjuk Kiai Ma'ruf Amin Jadi Cawapres Jokowi

Putra pertama KH Zubair Dahlan yang merupakan salah satu tokoh pejuang NU bersama KH Hasyim Asy'ari dan KH Wahab Chasbullah ini menceritakan kecintaannya terhadap NU yang tumbuh sejak masa remaja. 

"Sebelum saya di PBNU tahun 1990. Saya mulai di NU tahun 1950 sebagai kader IPNU, tahun 1960  di Ansor, terus tahun 1970 di NU Cabang," terang Mbah Moen sapaan akrabnya kepada NU Online di Rembang, Jawa Tengah. 

Pada tahun 1980, lanjut Mbah Moen, ia masuk di kepengurusan PWNU Jawa Tengah, tahun 1990 di PBNU sebagai Rais sampai kepada Thariqat. 

"Kemudian saya pensiun sebentar di tahun 2000, dan masuk lagi menjadi Mustasyar PBNU hingga sekarang," ungkapnya. 

Baca juga : Sebarkan ! Pengumuman dari Sarang, Kiai Maimoen Zubair Dukung Pasangan Nomor Urut 01 (Jokowi-KiaiMa'ruf)

Sebelum Mbah Moen menceritakan tentang masa remajanya bersama NU. Ia lebih dulu menjelaskan tentang siapa warga Nahdliyin. Menurutnya, sejak dahulu sudah ada anggota Nahdliyin secara alami dan organisasi. 

"Anggota organisasi yaitu yang tercatat sebagai anggota, sedangkan yang alami adalah mereka yang mengikuti para ulama," terangnya. (nuonline]

Bagikan: