Enaknya Merayakan Maulid Nabi Di Indonesia, Tanpa Bom, Tanpa Rasa Takut!

Enaknya Merayakan Maulid Nabi Di Indonesia, Tanpa Bom, Tanpa Rasa Takut!

Tribunsantri.com - Dua hari lalu saya menyaksikan sebuah liputan tentang perayaan Maulid Nabi di televisi. Bukan di Indonesia, namun di Mosul, Irak. Perayaan dengan skala kecil, hanya dihadiri beberapa orang saja, namun terasa meriahnya. 

Mereka makan kurma dan bernyanyi bersama. Lagu pujian terhadap Nabi Muhammad, disertai shalawat nabi. Beberapa orang yang hadir diwawancarai oleh stasiun televisi di sana, dalam bahasa lokal. Mereka rata-rata menyatakan kegembiraan karena sekarang sudah bisa memperingati Maulid Nabi Muhammad (hari lahir Nabi Muhammad SAW). Sebelumnya ketika Daesh (ISIS) masih menguasai wilayah itu, perayaan Maulid Nabi ini dilarang.

Dilansir republika.co.id, ketika kelompok Daesh merebut kota Mosul di Irak pada tahun 2014, mereka melarang perayaan Maulid Nabi Muhammad. Kemudian pada musim panas 2017, Mosul direbut kembali dari Daesh Sumber. Dan akhirnya pada tahun ini, mereka bisa kembali merayakan Maulid Nabi dengan penuh suka cita dan rasa aman. Walaupun masih ada bekas-bekas pertempuran di sana sini, namun wajah-wajah ceria mereka yang merayakan Maulid Nabi itu menyiratkan sebuah semangat baru. Membuat saya merasa sangat bersyukur tinggal di Indonesia. 

Di sini kita bisa merayakan hari raya keagamaan dengan nyaman, tanpa ada rasa kuatir. Walaupun masih ada kekurangan di sana sini soal sengketa pendirian rumah ibadah. Namun, paling tidak di Indonesia tidak ada perang.

Lain lagi di Afghanistan, lewat siaran televisi, dalam waktu hampir berdekatan dengan liputa perayaan Maulid Nabi di Mosul itu, ada berita ledakan bom. Dilansir tribunnews.com, aksi bom bunuh diri dalam perayaan Maulid Nabi Muhammad di Kabul, Afghanistan mengakibatkan 50 orang tewas. 

Salah satu aksi bom bunuh diri terburuk di Afghanistan sejak jatuhnya Taliban pada 2001 itu juga mengakibatkan tak kurang dari 70 orang terluka. 

"Bom bunuh diri meledak di dalam sebuah gedung serbaguna di saat para ulama berkumpul untuk merayakan Maulid Nabi Muhammad," kata juru bicara pemerintah Afghanistan, Najib Danesh. 

Danesh menjelaskan, pelaku bom bunuh diri memasuki ruangan perjamuan di gedung pernikahan Uranus, yang berada tak jauh dari bandara Kabul. Sejumlah media lokal mengabarkan, tragedi tersebut terjadi pada pukul 18.15 waktu setempat.

Harian The Washington Post mengutip juru bicara pemerintah mengatakan acara tersebut dihadiri anggota Majelis Ulama Afghanistan dan ratusan umat Muslim. Seorang perwira polisi Afghanistan mengatakan, pelaku menggunakan bahan peledak berkekuatan tinggi. Pelaku meledakkan diri di saat para ulama baru saja mulai membacakan ayat-ayat suci Al Quran. 

"Acara baru dimulai saat bom meledak. Potongan tubuh manusia berserakan di mana-mana," kata Shah Mohammad, seorang saksi yang ikut membawa korban ke rumah sakit. 

Sementara itu, Presiden Afghanistan Ashraf Ghani menggambarkan, serangan itu sebagai sebuah aksi biadab dan mencemari ajaran Islam. 

Presiden Ghani kemudian menetapkan Rabu (21/11/2018) sebagai hari berkabung nasional dan memerintahkan pengibaran bendera setengah tiang.

Sejauh ini belum ada kelompok yang mengaku bertanggung jawab atas aksi bom bunuh diri tersebut. Namun, kecurigaan langsung mengarah kepada ISIS, yang dianggap jauh lebih brutal dibanding Taliban dalam memerangi pemerintah Afghanistan. 

"Taliban mengecam keras serangan yang sengaja diarahkan kepada warga sipil atau ulama," kata juru bicara Taliban, Zabiullah Mujahid. 

Meski tak menyebut nama, Mujahid secara implisit menuding ISIS sebagai dalang tragedi tersebut. "Serangan ini dilakukan kelompok jahat yang membunuh umat Muslim hanya karena perbedaan kecil. Ini harus dicegah," tambah Mujahid Sumber.

Begitu sulitnya ketika warga hanya ingin merayakan Maulid Nabi Muhammad di negara-negara yang sedang berkonflik, khususnya di Timur Tengah. Sementara masih ada warga Indonesia yang ingin negara Indonesia ini dirubah seperti Timur Tengah. Ini keinginan yang sungguh jahat, egois dan tidak berperi kemanusiaan. 

Negara yang sudah merdeka dan aman seperti Indonesia malah ingin dirubah jadi hancur lebur seperti di sana. Gedung-gedung hancur, rumah-rumah penuh dengan lubang peluru, segala fasilitas pun hancur. Padahal kita menyaksikan sendiri di daerah-daerah di Indonesia yang kena bencana gempa bumi saja, begitu banyak kesulitan yang harus dihadapi oleh saudara-saudara kita sebangsa. Apalagi kalau terdampak perang?

Entah logikanya sudah hilang ke mana. Para pemuja khalifah di Indonesia sudah buta mata dan hatinya. Padahal belum tentu mereka bisa memberikan bukti negara mana di dunia yang penganut khalifah dan negaranya kaya dan makmur. Malah negara-negara di Timur Tengah itu hancur lebur dan tidak seaman dan senyaman Indonesia. NKRI harga mati!

Oleh : Ninanoor (SW)

Bagikan: