Bingung Pilih Capres? Khofifah: Simak Lagi Syi’ir Tombo Ati

Bingung Pilih Capres? Khofifah: Simak Lagi Syi’ir Tombo Ati

Tribunsantri.com - Anda warga Nahdlatul Ulama (NU) atau muslim yang masih bingung dengan pilihan di Pilpres 2019? Jokowi atau Prabowo? Seharusnya tidak lagi, jika menyimak resep berpikir yang ‘ditularkan’ Khofifah Indar Parawansa.

Apa itu? Simak kembali syi’ir atau tembang “Tombo Ati” karya Sunan Bonang. Terutama tombo ati yang ketiga: Wong kang sholeh kumpulono (Berkumpullah dengan orang shaleh). 

Maka jawabannya cukup gamblang, karena Jokowi tidak hanya berkumpul dengan orang saleh.

“Tapi menjadikan seorang ulama (KH Ma’ruf Amin), bahkan rais aam PBNU — mantan setelah ditetapkan KPU sebagai Cawapres — dan ketua umum MUI menjadi pendamping di dalam memimpin bangsa dan negara ke depan,” tutur Khofifah.

Resep berpikir itu sampaikan Khofifah saat menghadiri silaturahim di Pondok Pesantren (Ponpes) Putri Asshiddiqiyah 3 Karawang, asuhan KH Hasan Nuri Hidyatullah yang juga ketua PWNU Jawa Barat, Sabtu (17/11).

Turut hadir dalam pertemuan tersebut Pengasuh Ponpes Amanatul Ummah Mojokerto, KH Asep Saifuddin Chalim; Dewan Penasihat PP Muslimat NU, Nyai Hj Machfudhoh binti Wahab Chasbullah serta para penggerak relawan Jokowi-KH Ma’ruf Amin.

Karena itu, kalau ada Muslimat NU, Fatayat NU, ustadz maupun ustadzah masing bingung siapa yang mau dipilih pada Pilpres 2019, tegas Khofifah, simak kembali syi’ir Tombo Ati: Wong kang sholeh kumpulono.

“Kalau ada orang mau hatinya tenang, nomor tiga: Wong kang sholeh kumpulano,” papar perempuan yang juga Dewan Pengarah Jaringan Kiai Santri Nasional (JKSN) tersebut.

Nah, tegas Khofifah, “Yang saleh, yang alim, yang ulama dari kandidat ini, masa kita masih punya opsi lain kecuali Kiai Ma’ruf Amin.”

Tradisi Semaan Qur’an

Khofifah lantas menceritakan ketika Pilpres 2014. Saat itu dirinya mendapat banyak berita miring soal Jokowi. “Kemana saya mentashih? Saya mentashih ke Kiai Wahid Karim,  Rais Syuriyah PCNU Surakarta, pondoknya Tahfidzul Qur’an,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Khofifah mengajak pengurus PP Muslimat NU, PW Muslimat NU Jateng dan beberapa PC Muslimat NU di Jateng. “Kita bersama-sama mentashih ke Kiai Wahid Karim,” tegasnya.

Hasilnya? Kiai Wahid menyampaikan kalau Jokowi dan keluarganya, punya tradisi semaan Al Qur’an secara bergantian setiap bulan dari keluarga yang satu ke keluarga lainnya. Puncaknya semaan malam 27 bulan suci Ramadhan.

“Jadi ketika kita itu mendukung, mengusung dan meyakinkan kepada orang,  apalagi para penggerak, kita clear. Kalau ada orang tanya, kita bisa menjawab dan jawaban kita sahih,” jelasnya.

Bahkan, lanjut Khofifah, Pengasuh Ponpes Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo, KH Afifuddin Muhajir menyampaikan kalau salah seorang muridnya yang mantan wakil rais dan bekerja di Kementerian Agama, pernah sekitar sembilan bulan menjadi guru ngaji Jokowi dan putranya, Kaesang Pangarep.

“Guru ngaji Pak Jokowi dan Kaesang adalah Ustadz Muzakir, itu santri Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo,” katanya.

Guru Ngaji Jokowi

Nah, kalau silsilah guru ngaji Jokowi sudah jelas dan masih ada yang galau soal pilihan di Pilpres 2019, Gubernur Jatim terpilih itu mengajak untuk kembali membuka syi’ir Tombo Ati karya Sunan Bonang.

“Jangan-jangan saya (bagi mereka yang masih galau) ini mulai menjauh dari ulama-ulama kita, sampai ada ulama dan kita malah milih yang tidak. Ini kan sebenarnya logika-logika yang sederhana,” katanya.

Khofifah lantas mengajak para penggerak untuk merapikan barisan. Seluruh barisan selanjutnya menyampaikan kepada jamaahnya, santrinya dan komunitas masing-masing untuk bersama-sama berseiring dengan perjuangan Jokowi-Kiai Makruf di Pilpres 2019.

“Mudah-mudahan beliau terpilih dan memimpin bangsa ini ke depan, sukses manfaat, barokah,” pungkasnya. [barometerjatim]]

Bagikan: