Kiai Ma'ruf : Karena Saya Berdarah Madura, Mana Mungkin Saya Lupa Madura

Kiai Ma'ruf : Karena Saya Berdarah Madura, Mana Mungkin Saya Lupa Madura

Tribunsantri.com - Tidak banyak orang tau ternyata calon wakil presiden (cawapres) nomor urut 01 Prof Dr KH Ma'ruf Amin mempunyai darah keturunan Madura, Jawa Timur.

Hal ini diketahui saat mantan Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) itu berkunjung ke Bangkalan tepatnya di Pendopo Bupati Bangkalan dan Pondok Pesantren Hidayatullah Al Muhajirin, desa Buduran, Kecematan Arosbaya, Kabupaten Bangkalan pada Jumat (10/20/2018).

Baca juga : Kiai Ma'ruf Amin : Santri Bisa Jadi Apa Saja, Termasuk Cawapres

Dalam keterangan tertulisnya yang dilansir Republika.co.id, Kiai Ma'ruf mengatakan bahwa dirinya merupakan keturunan Madura.
"Saya Keturunan Madura,” kata Kiai Ma'ruf.

Kiai Ma’ruf mengungkapkan, darah Madura yang dimilikinya diketahui dari salah satu raja di Bangkalan bernama Demong Plakaran Arosbaya yang memiliki anak bernama Raden Kiai Pragalba. Beliau punya cucu di Pamekasan yang diperistri Raja Sumedang Larang yang bergelar Nyai Ratu Harisbaya (diambil dari kata (Arosbaya). 

“Dari Kiai Demong Plakaran Arosbaya, salah satu Raja di Bangkalan. Beliau mempunyai anak bernama Raden Kiai Pragalba. Cucu beliau yang di Pamekasan –sebelah Timur Bangkalan, diperistri Raja Sumedang Larang yang kemudian diberi gelar Nyai Ratu Harisbaya, diambil dari (kata) Arosbaya. Dari sana kemudian lahir mbah-mbah saya," kata Kiai Ma’ruf.

Disamping mempunyai pertalian nasab dengan ulama besar, Kiai Ma'ruf juga memiliki hubungan nasab dengan umara.

Ketum Majlis Ulama Indonesia (MUI) nonaktif itu menjelaskan bahwa dirinya memiliki nasab yang bersambung dengan dua wali songo yakni Sunan Gunung Jati dan Sunan Ampel.

Dari jalur umara', kiai Ma'ruf bernasab dengan Maulana Hasanuddin yang merupakan Sultan Banten, Prabu Geusan Ulun (raja Sumedang) dan Sultan Trenggono (putra Raden Patah) yang mendirikan Kesultanan Demak.

Di Pendopo Bangkalan, pada dinding sisi kiri podium saat Kiai Ma’ruf memberi sambutan di Pendopo itu, terdapat prasasti berjudul “Silsilah Keturunan Cakraningrat dan Bupati Bangkalan”. Tertulis di sana, Kiai Demong Plakaran adalah cucu Prabu Brawijaya V, Raja Majapahit. 

"Karena saya berdarah Madura, mana mungkin saya lupa Madura," ujar Kiai Ma’ruf.

Putra Kiai Pragalba, bernama Suhra Pradoto, menurut Iim Imaduddin Utsman, menikah dengan Ratu Pambayun, putri Sultan Trenggono, Demak, yang adalah cucu Sultan Ampel. Pasangan Suhra Pradoto dan Ratu Pambayun ini melahirkan Ratu Harisbaya atau Nyai Narantoko.

Ratu Harisbaya menikah dengan Prabu Geusan Ulun, Raja Sumedang Larang, dan salah satu putranya, Pangeran Wiraraja I, memiliki cicit bernama Raden Ayu Fathimah, dinikahi TB Mahmud, cicit Maulana Hasanuddin, Sultan Banten, putra Sunan Gunung Djati, Cirebon, cucu Prabu Siliwangi, Raja Pajajaran. Nasab Kiai Ma’ruf dengan banyak nama besar ulama dan umara’ itu kerap melalui jalur putri.

Kunjungan Kiai Ma’ruf  ke Bangkalan, Madura itu, menurut KH Masduki Baidlowi, Wasekjen PBNU, asal Bangkalan, memiliki tiga pesan. 

"Pertama, Abah (sapaan Kiai Ma’ruf) bersilaturahmi untuk mencari akar dan asal usul nasab. Intinya, beliau ingin menyambung silaturahim. Abah adalah keturunan Nyai Arusbaya, nenek moyang raja-raja Madura,” kata Masduki.

“Kedua, beliau ingin menebar semangat Hari Santri 22 Oktober, agar sebagai generasi milenial, santri punya cita-cita tinggi. Karena sudah zaman digital, maka santri harus melek digital. Mau menjadi ahli agama maupun santripreneur, kita harus melek digital. Karena kalau tidak, kita akan tertinggal,” kata Masduki.

“Pesan ketiga, Abah ingin menyampaikan pemikiran tentang pentingnya ulama ikut mengurus dan menjaga negara. Untuk mengatasi masalah-masalah kenegaraan negara,” kata Masduki. [Republika/tribunsantri]


Bagikan: