Gus Yaqut : Kirab Satu Negeri Untuk Jaga Konsensus Negara dari Rongrongan Kelompok Tertentu

Gus Yaqut : Kirab Satu Negeri Untuk Jaga Konsensus Negara dari Rongrongan Kelompok Tertentu

Tribunsantri.com - Kirab Satu Negeri yang digelar Gerakan Pemuda (GP) Ansor secara serentak bertujuan untuk menjaga negara dari rongrongan kelompok tertentu yang ingin mengubah empat pilar negara.

Hal ini dikatakan Ketua Umum GP Ansor Gus Yaqut Cholil Qoumas Distrik Muara Tami, Kota Jayapura, Papua, Senin (17/09/2018).

"Konsensus nasional itu adalah Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika. Ini harus kita jaga jangan terpecah karena kelompok-kelompok tertentu, apalagi yang mengatasnamakan kelompok agama yang dianggap menjadi rujukan, padahal ada yang lain," kata Gus Yaqut.

Gus Yaqut mengatakan, kelompok yang ingin mengubah konsensus negara tersebut adalah mereka yang merasa benar sendiri padahal mempunyai pemahaman yang sempit. 

Menurutnya, kelompok ini tidak boleh diberi ruang karena hanya akan menimbulkan konflik.

“Sehingga bisa menjadi dasar konflik karena merasa besar dan benar dengan pemahaman yang beda serta sempit,” ungkapnya.

Dia melanjutkan, kelompok yang ingin mengganti ideologi negara sebenarnya jumlahnya sangat sedikit dibanding kelompok masyarakat yang mencintai negara ini.

"Sebenarnya yang menerima keberagaman dan kebinekaan serta mencintai negara ini sangat mayoritas, tetapi mereka lebih banyak diam,” jelasnya. 

Untuk itu, Kirab Satu Negeri yang digelar GP Ansor didasari keinginan untuk menggungah kesadaran masyarakat yang mayoritas itu agar tetap punya semangat berjuang dan melawan ancaman sekelompok orang yang gemar membuat gaduh.

“Kirab Satu Negeri ini ingin membangunkan kembali untuk menyuarakan semangat perjuangan dan menolak yang mengancam kedaulatan” tegasnya.

Tidak hanya itu, Gus Yaqut melanjutkan, kegiatan ini bertujuan untuk menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia punya semangat merawat perbedaan, keberagaman dan perdamaian.

"Kami ingin berikan inspirasi kepada dunia dengan keberagaman dan kebhinnekaan yang dimiliki, dengan segala perbedaan, Indonesia bisa damai. Indonesia bisa tenteram, bisa bersatu tidak ada gangguan. Dibandingkan dengan negara-negara di Timur Tengah yang satu suku dan agama, tetapi berperang hingga hari ini," lanjutnya. [Nuonline/tribunsantri]

Bagikan: