Jangan Politisasi Gerakan Indonesia Shalat Subuh (GISS)


Jangan Politisasi Gerakan Indonesia Shalat Subuh (GISS)

Tribunsantri.com - Pada 2 Desember 2017 tahun lalu, Sekjen Forum Umat Islam (FUI) Muhammad Al Khaththath mendeklarasikan Gerakan Indonesia Shalat Subuh (GISS) di Monas Jakarta Pusat.

Disebutkan, gerakan ini bertujuan untuk menggairahkan kembali shalat subuh berjamaah di masjid-masjid dan musholla layaknya shalat jumat.

Gerakan ini sejatinya sangat bagus dan patut didukung asal tidak dipolitisasi.

Hal itu dikatakan oleh dosen Sekolah Tinggi Islam Al Hikam Depok, Jawa Barat, Sofiuddin dalam diskusi publik yang mengusung tema 'Politisasi GISS, Mencederai Ajaran Islam pada Rabu (29/8/2018).

Menurut Sofi, kenyataan di lapangan, penceramah terkadang menggukan GISS untuk mempromosikan calon atau partai tertentu. Ini tentu tidak boleh terjadi karena menciderai Islam itu sendiri.

"Saya melihat ada beberapa masjid, banyak penceramah yang mengarah pada dukungan tertentu, maka ini mencederai Islam dan tidak berakhlak," jelas santri almaghfurlah KH Hasyim Muzadi ini.

Kala ada yang berkata bahwa di zaman nabi, masjid tidak hanya berfungsi sebagi tempat ibadah tapi juga digunakan untuk membahas masalah politik, maka hal itu dibenarkan oleh Sofi. Tapi menurutnya, pembicaraan politik di masjid pada zaman nabi bukan kampanye. 

Hal sama juga dikatakan oleh dosen FISIP Universitas Islam Negeri Jakarta Robi Sugara. Ia menilai, GISS niatnya memang baik tapi prilaku onkum yang kerap mempolitisasi membuat gerakan ini menjadi tidak baik.

"GISS ini, jika berhasil meluas ke seluruh Indonesia, akan menguntungkan elit politik tertentu. Ini persoalan taktik dan strategi politik para oposan. GISS akan berdampak masif dan strategis dalam momen Pilpres 2019," tandasnya. [NUonline/tribunsantri]

Bagikan: